22 October 2014

ATR 72-600 Wings Air vs Garuda Indonesia Explore

Pertama kali (menyadari) melakukan penerbangan menggunakan pesawat ATR adalah saat keberangkatan saya ke Dompu. Dari Surabaya ke Denpasarnya kan masih pakai pesawat boeing biasa tuh, nahh tapi setelah transit, ternyata dari Denpasar ke Bima saya harus menumpangi pesawat tipe ATR, atau kalau yang dulu awal-awal saya nyebutnya pesawat baling-baling. Mengapa begitu? Karena pesawat ini baling-balingnya besar dan terlihat. Yah,. bukan berarti pesawat boeing atau airbus tidak ada baling-balingnya ya. Tetap ada, tapi tersembunyi. Sedangkan kalau tipe ATR ini, baling-balingnya gede banget dan kelihatan mencolok.

Silakan baca kepanikan saya pas naik pesawat ATR di postingan ini. Nyatanya, sepertinya saya sudah pernah menaiki pesawat macam ini sebelumnya dalam perjalanan ke Banjarmasin dari Surabaya, beberapa tahun silam. Namun karena waktu itu flightnya malam, jadi gak terlalu merhatiin deh. Ingetnya cuma, waktu itu duduk sama Om sederet cuma dua kursi (kanan-kiri total 4 kursi). Nah, pesawat apalagi donk yang dipunyai Lion Air kalo bukan ATR ini? Jet juga kayaknya ga ada... :D

Setelah saya baca-baca lagi, ternyata jenis pesawat ATR ini dari dulu sudah banyak. Termasuk salah satu pesawat yang di rancang oleh pak Habibie juga sebenarnya tipenya ATR. Eh, iya gak sih? Aku cuma ngeliat sekilas aja di filmnya, dan kurang lebih bentuknya sama laah dengan ATR yang ada sekarang. Hahahha.. Mulai ngaco nih tulisan. :))

Karena saking banyaknya jenisnya, kali ini saya hanya akan bahas tentang pesawat ATR 72-600, yang sekarang lagi dipakai Wings Air (anak perusahaan Lion Air) dan Garuda Indonesia (Explore).

ATR 72 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop yang dibangun perusahaan pesawat Perancis-Italia ATR. Pesawat ini memiliki kapasitas hingga 78 penumpang dalam konfigurasi kelas tunggal dan dioperasikan oleh dua kru penerbang. (sumber)
Buat teman-teman yang sering melakukan perjalanan rute pendek macam Surabaya-Denpasar atau Surabaya-Yogyakarta, atau bepergian ke wilayah timur (dan menggunakan maskapai Wings Air), pastinya sudah tidak asing lagi dengan pesawat tipe ini. Walopun yah, saya sempat beberapa kali membaca tulisan tentang pengalaman naik pesawat ATR dan hampir semuanya panik! Hahahha.. persis seperti yang pernah saya alami.

Dulunya, awal-awal saya di Dompu, Wings Air masih menggunakan ATR 72-500. Kelihatan banget kalau bukan pesawat baru. Ada beberapa pelapis kursinya yang sudah kusam dan mulai terbuka, interiornya yang gak lagi 'kinclong', pernah juga nemu yang rak penyimpanan bagasi di atas nya sudah agak longgar, jadi pas boarding atau landing bisa bergetar hebat gitu. Sepanjang perjalanan saya cuma bisa berdoa supaya raknya gak roboh trus menimpa kepala para penumpang.#:-S

ATR 72-600 Wings Air (picture source)

Menanggapi kegelisahan saya, akhirnya pihak Wings Air mendatangkan sekian banyak armada baru, ATR 72-600. Eh, emang iya gitu, gegara kegelisahan saya? :))

Secara bentuk dari luar, rasanya tidak jauh berbeda, kecuali tulisannya jadi angka 600, bukan 500 :-p. Tapi kalau bagian interiornya, baru kelihatan banget. Kursinya lebih tipis, kantong dibalik kursi bagian bawah juga sudah nggak ada, digantikan dengan box kecil dibagian atas yang agak kaku, jadi gak bisa untuk nyimpan botol air minum karena bentuknya yang gak fleksibel. Trus apa lagi yo? Lupa. Intinya emang kerasa lebih bagus lah daripada seri 500. Yaaa iyalaah pesawat baru. :|

ATR 72-600 Garuda Indonesia Explore (picture source)
Sekitar akhir tahun 2013 kemarin, tepatnya bulan November, ada kabar gembira untuk kita semua. Garuda Indonesia secara resmi meluncurkan Garuda Indonesia Explore, seri ATR 72-600 yang akan melayani rute-rute pendek, terutama di wilayah timur Indonesia. Tentunya NTB kebagian juga donk. Begitu tau penerbangan GA rute Bima-Denpasar dibuka, saya jadi gak sabar pengen nyobain juga gimana rasanya.

Pas awal lihat di websitenya, penerbangan GA Bima-Denpasar ternyata memakan waktu 2 jam lebih. Kok lama banget? Padahal kalo Wings Air paling lama hanya 1 jam 10 menit. Tapi di sisi lain, sebenarnya senang juga donk. Karena kalo GA, penerbangan lebih dari 2 jam artinya dapat makan besar. Huehehe.. Ngarepp. :-p

Akhirnya datang juga kesempatan saya naik Garuda Indonesia Explore ATR 72-600, bulan Maret 2014 kemarin, pas ada training di Denpasar. Sepertinya saya check in di akhir waktu, sampai-sampai dapat seat 39A. Paling belakang, sebelah kiri, samping jendela. Hmmm.. Not bad.

Yang saya kagum, walaupun saya duduknya di kursi paling buncit, nyatanya pesawat ATR milik Garuda ini punya jarak antar kursi yang sangat lapang. Bahkan kayaknya lebih lapang daripada pesawat boeing punya Lion Air. Jadi walaupun duduk di kursi paling buncit, gak masalah banget lah.

hampir bisa selonjoran di kuris paling buncit :-p
Nah, ternyata pertanyaan saya mengenai waktu penerbangan yang terlalu lama terjawab. Pesawat yang saya tumpangi ini transit dulu di Lombok, tapi untuk penumpang tujuan Denpasar tidak perlu pindah pesawat. Jadilah, bukannya dapat makan besar, saya malah dapat dua kotak kue dalam sekali perjalanan itu. Lumayan kenyang juga sih. Hehehe..

Pesawat ATR Garuda Indonesia ini, selain ada nilai plusnya, saya juga masih merasa ada beberapa kekurangan jika dibandingkan dengan ATR milik Wings Air. Suaranya mesin di GA jauh lebih bising. Bahkan dari dalam terminal saja sudah cukup memekakkan telinga. Kebayang donk gimana pas mau masuk pesawat?

Disamping itu, entah karena ini faktor pilot yang masih baru-baru mengemudikan pesawat jenis ATR ataukah ada faktor yang lain macam cuaca dan sebagainya, tapi saya merasa jauh lebih nyaman saat naik Wings Air. Pas naik GA ke Denpasar itu, beberapa kali saya dikejutkan dengan manuver (saya gak nemu kata yang tepat selain ini :|) pesawat yang agak ekstrem. Apakah ini karena saya duduk di kuris paling buncit? Nyatanya ada juga beberapa penumpang di bagian depan yang berteriak lirih pas ada goncangan yang agak berlebihan itu. Fiuhhhh... Ngeri dah.

Padahal seingat saya cuaca saat itu cukup cerah. Yah walopun cerah memang tak selalu artinya tanpa goncangan ya. Seperti belakangan ini juga, cuacanya cerah banget, terlampau cerah, tapi nyatanya berhasil membuat pesawat bergetar cukup hebat.

Berbeda dengan pesawat Wings Air yang sudah sering kali saya tumpangi. Saya pernah melakukan perjalanan dari Denpasar ke Kupang, transit Maumere. Saat di Maumere, penumpang yang akan ke Kupang kan tidak perlu turun pesawat, jadilah kami menunggu saja di dalam pesawat sambil menahan kantuk dan lelah. Saat itu, pilot pesawat tersebut yang terlihat sudah senior, keluar dari kokpit dan melewati kami, kemudian mengobrol dengan kru bandara. Saya ingat ada obrolan lucu antara pilot pesawat dengan kru bandara tersebut,

Kru bandara: "Hati-hati Capt, angin sedang kencang di luar"
Pilot: "Ohh iya, tenang. Saya sudah bawa banyak tolak angin kok..." :D

Saya nyengir aja mendengar percakapan itu. Dan memang benar, sekalipun kondisi hujan deras dan angin, momen boarding dan landing ternyata dapat dilalui dengan sangat nyaman dan halus. Salam hormat pada bapak pilot yang hebat. :-bd

*

Semakin sering naik pesaawat, bukannya makin terbiasa, saya malah makin merasa takut. Entah kenapa selalu ada perasaan was-was, baik saat boarding, landing, maupun saat lampu tanda kenakan sabuk pengaman tetap menyala, yang artinya bakal atau sedang ada goncangan. Berasa ngeri aja, dan saya merasa belakangan rasa takut itu makin besar.

Bisa jadi suatu saat, akan tiba masanya saya enggan naik pesawat lagi. Bisa jadi...

32 comments:

  1. Replies
    1. Silakan dicoba sensasinya kapan-kapan mbak Lid :D

      Delete
  2. Serius kak malah makin takut?? bukannya malah terbiasa yaaa... kan udah sering naik pesawat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu juga yang saya herankan. Entahlah kenapa bisa begitu... :D

      Delete
  3. Kalo makin takut naik pesawat, ikuti saran pak pilot itu saja, "banyak-banyak bawa tolak angin" hahahaha.... Sumpah, Pak Pilot nya gariiinggg bangeettt hahahaha :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi,. iya kali yak,. Aku jarang bawa tolak angin nih soalnya. Padahal belakangan angin lagi kencang toh.. hehehe :p

      Delete
  4. Aku belom pernah nyoba naik tipe ini, Mae.. Mungkin kalok jadi pindah ke Bali atau Lombok, bakalan ngerasain jugak. Hueheheh.. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoaa?? Beby mo pindah ke Bali? Whaaaoowww.. dalam rangka apa nih? Eh,. mending Lombok aja dink daripada Bali. Saranku yahhh :D

      Delete
    2. Belom tau sih, Mae.. Aku uda dapet kerjaan di Palembang, tapiii kurang sreg sama kotanya. Sedangkan yang di Bali masih dalam proses. Doain aja yaaaah :D

      Huaaaaa.. Lombok sih banyak sodara ku di sanaaaa.. :P

      Kalok boleh tau, kenapa kamu lebih nyaranin ke Lombok cobak?

      Delete
    3. Ooohh,.. gitu. Sip sip,. smoga sukses. ntah yang di Palembang, Bali, ato mungkin di kota-kota lain. Hehehe..
      Sebenarnya lebih ke sisi pariwisatanya sih Beb. Lombok itu, kayak Bali tapi masih sangat alami. Yaaa Bali jaman dulu lah, yang belum terlalu banyak intervensi asing di dalamnya. Dan, lebih bersahabat juga untuk orang lokal macam kita-kita.
      Kehidupan sosialnya juga,.. walopun aku taunya juga sekilas yak, karena belum pernah tinggal lama disana. Tapi kalo pertimbangan lapangan pekerjaan, yaa emang Bali lebih luas lah kesempatannya.

      Delete
    4. Iya nih Mae, lagi kebingungan pilih yang mana.. Wkwkwk.. :D *keplak*

      Beneeeer. Lombok tuh surgaaa.. Deket jugak sama Sumbawa, Alor, Labuan Bajo.. Ini mau kerja apa traveling ya sebenarnya? Buahahah.. :D Plus banyak sodara jugak sik di Lombok. Ih kamu mah ngomporin akyuuuu.. :3

      Delete
    5. Alor itu ujungnya NTT... Jauuuuuuhhhhhhh.... :|
      Gapapa Beb. Aku dulu juga kerja di luar jawa motifnya supaya bisa sering jalan-jalan. Kuliah di Malang juga supaya bisa gampang naik gunung :))

      Delete
    6. Tapi kaaaan ngga sejauh Medan - Jakartaaaa.. Bahahah! :D

      Ah. Ternyata hidup ini penuh dengan modus ya. Wkwkwk.. :P
      Aku sengaja mau merantau ke sana biar sekalian puas travelingnya. Maklum, traveling pan butuh duit :D

      Delete
    7. Medan-Jakarta,. Mmmmh,. belum pernah kesana. Pastinya kalo dari Denpasar ke Alor naik pesawat ATR dua jam lebih lo Beb. Hihihi...
      Iyaaaa,. betul banget. Traveling itu butuh biaya yang gak sedikiit. Tapi puas bangett :D

      Delete
    8. Kalok Medan - Jakarta jugak dua jam lebih, Mae.. Pantat bisa tepos saking lamanya. Wkwkwk.. :D

      Yoi. Saking puasnya sampek ngga nyesel ngeluarin duit sekian perak. :P

      Delete
    9. Nah,. kalo GA sih enak ya bisa sambil makan, nonton film, dll. Coba kalo Lion air, bisa kering kerontang deh kita :))
      Hihihi,. emang gak nyesel Beb. Nyeselnya kalo udah nyampek rumah dan ternyata tanggal 20 masih lama. Hahaha

      Delete
    10. Aku naek GA kalok ada promo doank. Wkwkwk.. :D Lha Medan - Jakarta bisa 3-4 juta kalok pp.. Duit dari manaaaa.. Huhuhu.. Makanya aku lebih sukak bobok deh. :P

      Kamu masih mending.. Aku entah tanggal berapa baru dikasih duit jajan lagih.. T_T

      Delete
  5. Iya mae, N250 bikinan pak Habibie juga tipe ATR.

    Biasanya pesawat gini khusus dipake di daerah remote access kyknya ya. Yang agak sulit untuk Boeing atau Airbus yang bodinya gude. Sulit bermanuver (ini aku pinjem istilahnya mae).

    Aku belum pernah coba naik pesawat ATR nih. Lagian naek pesawat cuma rute CGK-PLB bolak-balik yang pasti pake boeing atau airbus. Selain itu belum pernah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohh,. ternyata bener. Alhamdulillah :D
      Mmmmh,. kalo remote access sih enggak ya Arif, karena kan bisa diakses oleh pesawat, jadi bukan remote donk namanya. Hehehe... Mungkin lebih tepatnya memang pesawat ini cocok untuk penerbangan rute-rute pendek dengan bandara yang ukuran landasannya tidak terlalu besar.

      Kapan-kapan kudu coba deh. Sensasinya jelas beda. Hihihi

      Delete
    2. Hohoho.. iya juga yah.. Bener tuh.. Khusus buat kota yang bandaranya punya runway nggak terlalu panjang. Yang B737 kagak bakal bisa mendarat :D

      Itu kudu ke kota tertentu kyknya. Ke Lombok gitu. Nunggu duit dan waktu nih :D

      Delete
    3. Kalo ke Lombok sekarang sudah pesawat gede semua, termasuk yang dari Surabaya. Tapi kalo Denpasar-Lombok kayaknya masih ATR deh. Orang cuma setengah jam terbangnya :D
      Di Sumatera juga adaaa ternyataa. Tapi lagi-lagi untuk penerbangan rute pendek, penghubung beberapa kabupaten kecil gitu.

      Delete
  6. hahahaha...kalo pesawat tipe baling2 gini aku udh ga asing mba :D secara pas msh di Aceh, kalo mw ke Medan ya pesawatnya seperti ini... inget bgt dulu selalu naik Pelita D7. dan krn itu pesawat carteran perusahaan, jd ya nyaman bgt sih... makanya aku ga prnh masalah naik pesawat gini...

    tp pas naik wings air dari medan-sibolga, nah itu troublenya... ;p Tapi lbh ke management pesawatnya sih..biasalah anak si LION AIR ini sama aja kyk emaknya yg hobi delay , jual seat dobel, ampe ga sopan ama penumpang ;p

    eh, aku jg skr ini rada suka takut kalo naik pesawat... mungkin krn kecelakaan pes thn ini lumayan sering ya. cuma kalo ga naik pesawat, traveling ke tempat jauhnya naik apa dunk ;p jd tahan2in ajalah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo,.. kalo rute dekat di Sumatra juga pakai pesawat ini ya? Baru tau. Belum pernah ke Sumatra sih soalnya :D
      Kalau masalah delay rasanya cuma bisa maklum aja deh mbak. Mau protes ato marah-marah ke pihak maskapainya kayaknya udah gak ngaruh. Masih mending lah mereka mau menyediakan rute-rute pendek ke pelosok negeri. Kalo gak mau lagi? Bisa gawat donk kita yang tinggal di pelosok.

      Hmmmm,.. Ntah karena banyak kecelakaan atau yang lain-lain yaa, tapi berasa makin takut naik pesawat terutama kalo pas traveling sendirian. *Ehm :))

      Delete
  7. Baru sering naik pesawat aja udah semakin takut.. Coba sana jadi teknisi maskapai **** biar tambah merinding.. wkwkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh,.. mending gak usah tau deh fakta-fakta dibaliknya apa. Bisa-bisa gak mau kemana-mana lagi deh saya :(

      Delete
  8. mba Mae... serem ga sih naik ATR ke Bima ??? tanggal 25 Januari aq mau ke sana niy :(

    ReplyDelete
  9. Hmm kalau saya makanan tiap minggu naik atr 72600 baik garuda maupun kalstar,,,,buat tujuan pontianak ke putussibau daerah kalbar kalau keluar kalimantan baru pake boeing atau airbush hehe sensasi atr lebih berasa mbak heheheehe

    ReplyDelete
  10. Hmm kalau saya makanan tiap minggu naik atr 72600 baik garuda maupun kalstar,,,,buat tujuan pontianak ke putussibau daerah kalbar kalau keluar kalimantan baru pake boeing atau airbush hehe sensasi atr lebih berasa mbak heheheehe

    ReplyDelete
  11. so far sampe hari ini ATR masih ok2 aja...agak betul tuh flight ATR Wings Air lebih nyaman...kalo GA saya belum ngerasain. kemaren flight GA to Lhokseumawe dibatalin akibat asap. weather ke seputaran Aceh sering berawan, tapi pilot Wings Air cukup reliable lah handlingnya. jadi gak ada bumpy yang berarti. pesawat bumpy itu bukan dari type pesawatnya, tapi tergantung weathernya. kalo weather panas pun bukan berarti tidak akan bumpy, karena pada saat panas tekanan udara meningkat ke arah atas, sehingga mendorong pesawat ke atas.

    ReplyDelete
  12. Thank buat sharing nya pak, saya jadi ada referensi tentang ATR, soalnya saya mau cari info ATR sehubungan dengan penerbangan ibu saya. Once more, Thank you.

    ReplyDelete
  13. ATR ini sebenarnya pesawat hebat... pesawat bagus untuk jarak pendek. Buatan Prancis. Ya kalo pake pesawat turboprop emang gitu.. ada getaran... tapi glide rationya (kemampuan pesawat meluncur/melayang tanpa mesin dinyalakan) jauh lebih baik daripada pesawat jet B737 misalnya. Daya angkat pesawat baling2 selalu lebih baik dari pada pesawat jet.
    Jadi, seandainya mesin pesawat mati, pesawat baling2 bisa gliding lebih jauh dibanding pesawat jet.
    Selain itu pesawat baling2 bisa bermanuver lebih lincah dibanding pesawat jet (selain jet tempur lho ya) Kalau berputar 360 derajat, lingkarannya lebih kecil daripada pesawat jet. Jadi kalau masuk bandara yang sempit2 dan susah, pesawat baling2 itu lebih lincah...
    Jadi, sebenarnya ATR itu lebih aman, walaupun tidak senyaman pesawat jet karena getaran mesinnya lebih terasa...
    Oh iya, kalau abis landing penumpang itu suka membahas: Airlines A pilotnya kasar kalau landing, Airlines B halus, Airlines C itu suka goyang2 dan guncang2 menjelang landing. Yang tidak diketahui oleh mereka adalah kondisi cuaca dll di sekitar bandara, terutama arah angin. Arah angin ideal bila mau mendarat (dan take off) itu berlawanan dengan arah pesawat (headwind). Jadi angin berhembus dari depan, sejajar landasan. Miring sedikit masih oke lah, asal angin dari depan. Nah, kalo udah dari samping, itu namanya cross wind. Pilot setengah mati kalo mendarat dengan kondisi ini. Teknik yang dipakai namanya crabbing, terbang kayak kepiting, jalannya nyamping, tergantung berapa besar sudut angin terhadap landasan. Nanti udah tinggal 50ft, baru dah pesawat dilempengin sama landasan. Ini baru sudut anginnya lho, belum lagi kekuatan anginnya. Nah, mulai deh, kalau kalian mendarat ajrut2an, setelah turun, liat deh winsock (penanda arah angin, biasanya warna oranye) arahnya kemana... kalau gedubrakan, pasti anginnya miring.
    Faktor lain, turbulance, awan, jarak pandang, panjang landasan, berat pesawat (lagi bawa fuel/cargo banyak atau tidak), basah atau kering, dan lain sebagainya...
    Tapi tenang lah, pilot yang sudah boleh bawa pesawat dilatih untuk kondisi ini, tiap 6 bulan mereka training lagi kok di simulator. Simulatornya canggih bener, persis kondisi sebenarnya. Dan mereka kan juga gak mau mati... jadi... tenang aja...

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D