27 February 2014

Empat plus Satu

kak Rahmad (#5) - kak Lani (#1) - saya (#2) - Hanafi (#4) - Nasruddin (#3)

Foto ini diambil pada tanggal 13 Februari 2014 kemarin, saat saya sedang menghabiskan liburan di Kalimantan Selatan. Mmmmh,.. sebenarnya tidak ada maksud khusus sih untuk memposting foto ini. Tapi ya, saya suka aja. Hehe... :D

Supaya tidak terlalu hampa, baiknya saya cerita sedikit ya...

Jadi, saya empat bersaudara, anak kedua. Namun sekarang tambah satu saudara lagi yang telah kami sepakati bersama sebagai anak ke lima dari Mama dan Papa, yang tidak lain tidak bukan adalah suami kakak perempuan saya :)

Hal ini terjadi pada saat hari raya Idul Fitri yang kami habiskan sekeluarga di Tana 'Ugi, Sulawesi Selatan, Agustus 2013 kemarin. Karena terakhir saya kesana adalah saat SD, jadi banyak keluarga yang lupa dengan kami, dan hampir selalu di setiap rumah keluarga yang kami datangi, mereka meminta untuk dijelaskan mana anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Nah, giliran tiba kak Rahmad, suami kakak saya, dengan lugunya dia mengangkat tangan sambil menyampaikan, "Saya anak ke lima!"
Kontan kami semua tertawa. Tapi yah, ide itu akhirnya kami terima hingga saat ini :D

Kami (empat bersaudara) jarang sekali berkumpul bersama. Maklum saja, kami berempat saat ini tinggal di empat lokasi yang berbeda. Kakak dan suami tinggal bersama Mama dan Papa, saya di Dompu, adik saya yang nomor tiga kuliah di Banjarmasin, sedangkan yang paling kecil saat ini memasuki tahun ke lima-nya di pesantren Darul Hijrah, Martapura, Kalimantan Selatan. Namun, mungkin itulah yang dikatakan saudara. Sekalipun jarang sekali bertemu atau tinggal bersama, saya tetap merasa dekat dengan mereka.

Bukan, bukan dekat dalam hal sering berbagi cerita atau mengenali dengan baik karakter satu sama lain, tapi sama sekali tidak ada rasa canggung diantara kami. Entah ini hanya pertanyaan bodoh saya saja, atau mungkin memang pemikiran seperti ini wajar adanya.

Jika kami berkumpul seperti kemarin, walaupun hanya dalam hitungan hari, ada kalanya kami tumplek bleg jadi satu dikamar Papa, tidur bareng diatas kasur ber empat, sambil cerita-cerita gak jelas, bercandaan sekenanya seperti anak-anak kecil pada umumnya. Yang paling sering terutama ngerjain adik saya yang paling kecil. Nyuruh ini itu --yang entah kenapa dia juga selalu nurut. Hahaha... Aneh! :))

Bertengkar? Seingat saya itu adalah kebiasaan waktu kami masih SD/SMP. Setelah kami beranjak dewasa, hal itu tidak pernah terjadi. Walaupun ini semua adalah kabar baik, namun tetap saja saya masih merasa aneh. Namun disisi lain, saya selalu berdoa dan berharap bahwa hal tersebut akan berlangsung selamanya. Tidak peduli kami sudah berumur berapa, sudah jadi apa, sudah menikah atau belum, dan lain sebagainya.

Kemudian, dia yang hampir selalu bisa menjawab segala tanya dari saya, menyampaikan, "Begitulah saudara. Terkadang mereka yang tidak pernah tinggal bersama dan jarang bertemu justru lebih akur dan akrab daripada yang sehari-hari selalu dekat,"

Begitukah?

Anyway, saya jadi penasaran dan tidak sabar menantikan anak-anak Mama dan Papa yang keenam, ketujuh, dan kedelapan selanjutnya. Semoga disegerakan! Aamiin... :">

19 February 2014

Karena Perjalanan Itu, Mendewasakan!

"Semoga suatu saat, saya bisa mensyukuri hari ini. Aamiin, InsyaAllah..."

Saya ingat, pertama kali doa itu terucap dari bibir saya pada tahun lalu, sekitar bulan Juni 2013. Waktu itu saya sedang berada di bandara Ngurah Rai Denpasar, menjelang petang. Benar-benar bingung. Sampai nangis, saking bingungnya. Berburu tiket pesawat dari Denpasar ke Surabaya, untuk hari itu juga karena ada keperluan mendadak. Hampir semua maskapai penuh, tinggal satu maskapai punya negeri tetangga yang masih tersedia kursi kosong, itupun dengan harga hampir 3 kali lipat dibanding harga tiket Denpasar-Surabaya pada umumnya. Panik, gak ngerti harus ambil keputusan seperti apa. Orang rumah sudah berkali-kali telpon dan sms menanyakan kepastian saya datang atau tidak.

Setelah beberapa waktu berlalu tanpa menghasilkan apapun, akhirnya saya memutuskan untuk memesan satu tiket ke Surabaya dengan harga yang menjulang itu. Sambil memanjatkan doa tadi.

Kemudian, ada pertanyaan dari seseorang, setelahnya,
"Mengapa harus menunggu suatu saat baru bisa bersyukur?"
Sekenanya saja saya menjawab,
"Karena bersyukur butuh keikhlasan, dan saat ini saya belum punya itu..."

Dan yah, beberapa minggu setelah kejadian itu, saya memang benar-benar bersyukur untuk hari itu.

*

Dua minggu masa liburan saya sudah berlalu, dan pastinya tidak bisa dikatakan berlalu begitu saja. Lima destinasi berbeda dengan jangka waktu yang cukup singkat, berhasil memberikan pelajaran yang cukup banyak pada saya, kali ini. Bengong sehari semalam di Lombok--belajar menikmati kesendirian, salah masuk stasiun dan hampir ketinggalan kereta di stasiun Gubeng, Surabaya, late check in akibat kemacetan Jogja, tak sempat menikmati setiap butir lezatnya nasi padang di Asam-asam, Kalimantan Selatan, karena udah kelamaan ditungguin mobil travel, beberapa malam yang sukses membuat saya tidak bisa tidur nyenyak, kehabisan tiket pulang, transit yang jauh ke arah barat, hampir ketinggalan bis, dan kursi pesanan saya dijual ke orang lain! Fiuhhh.... #:-S

Dalam hati saya sebenarnya bertanya-tanya, ada apa dengan perjalanan kali ini? Tak biasanya saya datang terlambat ke stasiun atau bandara, bukan kebiasaan saya juga untuk menunda-nunda membeli tiket hingga akhirnya kehabisan. Banyak, banyak sekali kendalanya, yang anehnya juga selalu diikuti oleh solusi yang hampir selalu tidak terduga, dan muncul begitu saja.

Berkali-kali doa mujarab untuk setiap hari yang tak bersahabat dan peluh yang tak terlalu bermanfaat itu saya panjatkan, dan berkali-kali pula masanya untuk bersyukur itu datang begitu saja.

Terlambat datang ke stasiun, akhirnya membuat saya berkesempatan melewati gerbong makanan yang berbelok-belok dan unik, seperti masuk ke dalam lorong rahasia,

Late check in di bandara Jogja, akhirnya membuat saya bisa menikmati duduk di kelas bisnis, dekat jendela, dengan jarak kaki yang cukup lapang,

Kehabisan tiket, akhirnya memaksa saya memilih rute Banjarmasin-Jakarta-Lombok --tentunya berpengaruh juga pada budget yang harus saya keluarkan, yang akhirnya sehari setelahnya saya mendapati Gunung Kelud meletus dan bandara Juanda berhenti beroperasi, 

Subhanallah...
Kuda saja melakukan perjalanan, kalau kamu, kapan? *ehh :p
Terlepas dari semua itu, perjalanan kali ini banyak sekali mengajarkan pada saya tentang pentingnya berpikir cepat dalam situasi yang tidak terduga, serta mengambil keputusan yang pada akhirnya membawa diri ini pada kebenaran. 

Bagaimana bisa begitu? Yah,.. 'karena perjalanan itu, mendewasakan!

07 February 2014

Liburan!

Sudah mulai jenuh dengan aktivitas sehari-hari.
Sudah merasa rindu dengan sederet perjalanan-perjalanan hati.
Sudah saatnya kembali menguji nyali.
Berlibur lagi, ke tempat yang mungkin sudah lama dimimpi.
Bertemu dengan orang-orang lama, dan orang-orang baru, yang sebagian masih sama, sedang yang lain katanya semakin trendy.
Ini, sudah menjadi semacam candu rasanya.
Dan pastinya juga merupakan obat kejenuhan yang paling ampuh sepanjang masa.
Walaupun konsekuensinya cukup besar juga: saldo rekening terkuras tak bersisa.
Meski begitu, semoga tak mengurangi nikmatnya berkelana.
Nikmatnya pertemuan-pertemuan tak terencana.
Kabar baiknya, hanya separuh dari perjalanan kali ini saya nikmati sendiri. Sisanya, sepertinya sudah datang masanya dimana saya belajar untuk berbagi kenikmatan perjalanan itu, bersama seorang lain... :)
Bersahabatlah, februari!