25 March 2014

Nama Saya Faith

Perkenalkan, nama saya Faith. Lengkapnya Faith Marry Ndaong. Bunda saya bernama Yasintha Bere, dan Ayah saya bernama Ronald Cliff Ndaong. Saya lahir di Dompu, 22 Desember 2013, pukul 01.30 dini hari, dengan berat 3,1 kg dan panjang 48 cm, di rumah Nenek Bidan Rahmah, bidan sekaligus ibu kos tempat Bunda dan Ayah saya tinggal di Dompu. Oh iya, sebenarnya kedua orang tua saya bukan orang Dompu ya. Bunda asli Belu, Atambua, NTT, sedangkan Ayah asli dari Kupang, NTT, namun besar di Surabaya. Karena beberapa bulan sebelum menikah Bunda pindah tugas di Dompu, jadilah, saya menjalani masa kehidupan didalam perut Bunda selama 9 bulan di Dompu, begitu juga sampai saya lahir ke dunia.

Foto disamping adalah foto saat saya berumur 1 jam. Saat itu saya hanya ditemani tante Murni dan tante Arie (yang punya blog ini) di ruang bersalin milik Nenek bidan. Sedangkan Nenek Bidan, Ayah, serta bidan-bidan lain yang membantu persalinan Bunda, membawa Bunda ke rumah sakit karena mengalami pendarahan pasca melahirkan. Sebenarnya, saya sempat diletakkan di dada Bunda sesaat setelah melahirkan. Mmmmh, istilah kerennya IMD kalau tidak salah, Inisiasi Menyusu Dini. Saya merasa sangat nyaman berada disana, namun karena kondisi Bunda yang tidak stabil dan mengalami perdarahan, belum genap 1 jam saya harus diangkat. Awalnya saya mengerang sedih, namun akhirnya saya mencoba untuk mengerti dan memahami kondisi Bunda. Tak lama setelah saya diletakkan di keranjang bayi, saya putuskan untuk tidur, sekalipun sedang dalam kondisi lapar. Ya, saya lapar, setelah berjuang sekian jam supaya bisa keluar dari rahim Bunda. Hmmmm...

Karena tidak tega memisahkan saya dan Bunda terlalu lama, akhirnya Ayah menjemput saya untuk ikut ke rumah sakit. Saya ingat, saat itu masih gelap, mungkin sekitar jam 3.30 pagi. Tante Murni membungkus saya dengan berlapis-lapis kain, kemudian melindungi kepala saya dengan jaketnya, memeluk saya sedekat mungkin, lalu Ayah membonceng tante Murni menggunakan sepeda motor. Padahal usia saya baru beberapa jam, namun saya sudah diajak jalan-jalan naik motor, pagi buta pula. Hebat ya saya? *ehh :p

Ternyata pendarahan Bunda cukup parah, yang berakibat pada Bunda harus beristirahat di rumah sakit selama 3 hari. Satu hari pertama adalah saat-saat yang menyiksa. Bunda belum bisa bergerak. Hanya bisa terlentang sambil sesekali meringis kesakitan. Disisi lain saya juga butuh untuk menyusu. Akhirnya, dengan dibantu Nenek Bidan, saya bisa menyusu dengan nikmat dengan gaya menelungkup. Persis seperti posisi saat IMD. Awalnya agak sulit, namun akhirnya saya terbiasa. Bunda juga merasa nyaman dengan seperti itu. Jadi sip deh, asal Bunda tidak kesakitan dan saya bisa menyusu, dengan gaya dan model apapun saya bersedia. Hidup ASI! :))

Saya berusia 1 bulan, dan sudah bisa pose di depan kamera. Yesss :D
Sejak sebelum saya dilahirkan, Bunda dan Ayah sudah bertekad untuk memberikan saya ASI Eksklusif, karena menurut tante-tante bawel teman satu kos Bunda, (maksud saya tante Yulia dan tante Arie yah) plus Nenek Bidan yang sangat perhatian ke saya dan Bunda, serta beberapa referensi yang Bunda baca, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi berusia 0-6 bulan. Tidak ada kompromi. Akhirnya, dengan situasi yang sangat mendukung untuk mempraktikkan ASI Eksklusif, hingga saat ini saya hanya pernah menikmati enaknya ASI. Yaah, dapat tambahan sedikit sih dari ujung-ujung jari tangan, karena sekarang saya sudah bisa meletakkan ibu jari tangan kanan saya ke mulut. Happp! Horeeee... saya sudah makin pintar!

Karena di tempat tinggal Bunda tidak ada orang tua (kecuali Nenek Bidan dan suaminya), saya tidak pernah diperlakukan bermacam-macam. Saya tidak pernah dibedong, saya tidak pernah menggunakan gurita, saat saya memasuki umur hampir 2 bulan saya sudah mandi menggunakan air biasa bukan air hangat. Begitu juga dengan Bunda yang tidak mengalami dan menjalani mitos-mitos yang selama ini dipercaya masyarakat di Dompu, termasuk juga menggunakan obat-obatan tradisional dan lain sebagainya. 'Bayi modern', begitu kata mereka.

Kesibukan saya pada satu bulan pertama hanya berkutat pada 4 hal: Menyusu, Be'ol, Tidur, dan Mandi. Kok menangis tidak ada? Ya karena saya jarang sekali menangis. Saya akan menangis kalau saya sudah sangat lapar. Sedangkan Bunda adalah Ibu yang saaaaangat perhatian. Jarang sekali beliau membiarkan saya menangis parah baru diberi ASI.
Baju yang dibeli Bunda sudah tidak muat. Dan, pipi... oh pipi... (umur 2 bulan)
 Namun itu hanya pada satu bulan pertama. Setelahnya, saya punya beberapa aktifitas tambahan lagi, diantaranya main sendiri, ngomong sendiri, senyum-senyum sendiri, terus jalan-jalan juga (kalau orang yang sedang menjaga saya paham jika saya ingin diajak jalan-jalan). Ahh, tapi sebagian besar dari mereka sudah sangat paham. Jika saya tidur kemudian terbangun, maka saya akan bermain-main sendiri, sambil mengeluarkan suara yang sebenarnya belum sepenuhnya bisa saya kontrol.

Satu bulan ketiga saya mulai sibuk. Ayah dan Bunda serta Nenek Bidan sudah mengajarkan saya untuk digendong duduk, jadi tidak digendong tidur seperti saat menyusu. Yapp, gendong tidur hanya untuk menyusu. Selebihnya saya mau duduuuuukkk!!! Tidur sambil duduk pun oke. Hehehe... I-)
Ini ekspresi saya saat digendong duduk sama tante Arie. Leher saya sudah tidak terlihattt >,<
Disamping itu, saya juga semakin disibukkan dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Saat saya terbangun dari tidur, saya akan main-main sendiri. Saat saya sudah lelah bermain sendiri, maka saya akan mengeluarkan suara supaya ada yang datang, entah Bunda, tante Arie, tante Yulia, Ayah, atau bahkan nenek Bidan. Setelah mereka datang, saya akan merengek-rengek minta di pangku. Nah, sampai disitu trik saya akan berhasil. Mereka akan menggendong dan memangku saya, walaupun hanya sambil duduk saja. Selang beberapa menit dan saya mulai bosan, maka itu adalah pertanda bahwa saya ingin jalan-jalan. Setelah jalan-jalan sekian menit, akhirnya tiba saya ingin ditimang (maksudnya dipangku sambil digoyang-goyang). Seberapa lama saya ditimang, itu bergantung dari bagaimana kenyamanan dan ketenangan yang saya rasakan. Jika situasi kondusif, maka saya akan cepat memejamkan mata. Namun jika tidak terpejam juga, biasanya yang menggendong saya akan menyerah kelelahan dan keberatan dan akhirnya menyerahkan saya ke Bunda, supaya saya bisa menunaikan tugas saya yang paling utama sebagai seorang bayi: menyusu.

Bunda sambil memandikan saya sambil ngajak ngobrol. Seru dehh :D
Saya sangat senang jika ada yang mengajak saya mengobrol, terutama jika yang dibahas adalah rencana jalan-jalan, entah ke pasar, ke desa, ke Bima, atau rencana pulang ke Kupang. Saya selalu menyambut baik topik bahasan itu, sambil tersenyum dan membalas obrolan mereka sekenanya. Tak jarang pula saya agak tersedak karena terlalu bersemangat, sebab terkadang saya masih bingung mengatur pernapasan dan jalan suara. Kan posisi mereka berdekatan begitu.. Hehe... *Ngeles :P

Tanggal 22 Maret 2014 ini, saya tepat berusia 3 bulan. Berat badan saya saat ini 6,4 kg dan panjang 61 cm. Fantastis bukan? Berkat ASI nih, berat badan saya sudah bertambah lebih dari dua kali lipat sejak lahir. Teman-teman bayi yang lain, mau donk seperti saya juga, ya kan?

Namun, ini artinya saya sudah harus kembali ke Kupang, NTT. Tugas Bunda di Dompu sudah selesai, dan saatnya untuk memulai hidup baru di Kupang. Dan tanggal 22 Maret 2014 adalah hari terakhir saya di Dompu. Saya sedih, harus berpisah dengan Nenek Bidan, tante Yulia, tante Arie, tante Murni, tante Nur, tante Duma, om Haris, om Roni, om Udin, dan kerabat yang lain. Saya tidak tau apakah suatu saat nanti saya akan bertemu lagi dengan mereka. Tapi saya berharap, jika suatu saat bertemu, saya ingin supaya tetap bisa akrab, dan mengingat mereka hingga selamanya. Termasuk, tulisan yang sudah saya buat ini... :)

Sampai jumpa Dompu,
22 Maret 2014
Faith... (yang sedang diduga-duga isi hatinya oleh tante Arie, pemilik blog ini) :D

24 March 2014

Dua Saja Cukup

Sebelum pikiran para sohiblogger kemana-mana, saya akan luruskan bahwa postingan ini bukan iklan KB, okesip!

Dewasa ini, menulis status di social media bukan menjadi hal yang aneh lagi, bahkan mungkin sebagian ada yang menganggap itu adalah 'kewajiban'. Rasanya, bagai makan sayur tanpa garam kalau belum nyetatus seharian, atau berasa hidup tak lengkap jika belum berbagi tentang apa yang terpikir hari ini. Saya juga mungkin salah satu dari mereka, walaupun hal itu sudah lama berlalu. Buktinya? Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya saya menemukan dua buah status yang menurut saya patut untuk dibagi dengan sohiblogger semua.

Status pun, sebenarnya tak melulu berasal dari pemikiran si penyetatus sendiri. Bisa jadi mereka mendapat itu dari tulisan orang lain, mengutip buku, membaca tempelan brosur di pinggir jalan, melihat iklan, atau bahkan karena membaca status orang lain juga. Contohnya seperti status dibawah ini, yang saya kutip dari salah satu kaos oleh-oleh dari Pulau Dewata, Bali --ndak perlu saya sebutkan kan, merknya apa? Hehe... :D

Yahh,. sepertinya memang banyak yang merasa sebel dengan status yang saya tulis pada bulan Juni 2012 itu, namun disisi lain ada juga yang mendukung, bahkan ada pula yang mencatatnya dan mengingatnya dengan baik. Terbukti dari salah satu komen yang berbunyi, "#okesip #noted" :p

Jadi, makna dari status ini apa? Mmmmmmh,.. kalau ini adalah penggambaran dari diri saya pribadi, jujur saya sampaikan, tidak sepenuhnya salah.
Saya rajin tidur? Hampir benar. Atau lebih tepatnya, kalau sudah mengantuk tidak akan ada kompromi lagi, sekalipun tugas masih banyak. Lebih baik saya segera tidur kemudian bangun lebih cepat daripada harus memaksakan menyelesaikan tugas. Bisa jadi tugasnya malah amburadul.
Saya rajin makan? Nggak usah di pungkiri ya, semua orang suka makan. Karena menurut saya, makan adalah satu bentuk rejeki paling sederhana dari Allah SWT, dan itu juga salah satu bentuk menikmati hidup. Setuju?
Saya rajin jalan-jalan? Hehe.. kalau ini sepertinya tidak perlu diperjelas lagi yah. Silakan simpulkan sendiri saja :D

Nah, jadi kawan, walaupun yang di 'rajin'kan itu hal-hal yang mungkin kurang produktif, tetap saja itu merupakan suatu 'kerajinan' yang patut untuk diapresiasi. Monggo di protes kalo ada yang tidak sepakat :D

Status yang kedua, saya mengutip perkataan salah seorang Ibu dari remaja putri, di Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang saat itu sedang saya wawancara dalam rangka seleksi Remaja Putri untuk Duta Kampanye Melawan Pernikahan di Usia Anak. Saya lupa pastinya berada di desa mana, namun saya ingat betul kalimat luar biasa ini keluar dari mulut seorang Ibu yang luar biasa, ditengah keterbatasan ekonomi dan akses informasi yang sedemikian rupa.


Kalimat ini keluar begitu saja dari seorang Ibu, mana kala saya sedang mengobrol dengan anaknya yang seorang remaja putri, dan baru lulus SMA. Mungkin bagi orang lain kalimat ini terdengar biasa saja, terucap begitu saja, dan berlalu begitu saja. Namun tidak bagi saya...

Status ini juga mendapat tanggapan beragam dari kawan-kawan saya di facebook. Dua yang cukup menyita perhatian saya, yakni komentar dari mas Wahyu yang menyampaikan,
"Jaman dulu kita berperang menggunakan senjata berat, sekarang ini berperang menggunakan pena"
dan satu lagi dari mas Sigit, seorang blogger juga,
"Siapapun orang tua pasti menginginkan anaknya bisa lebih baik daripada mereka :)"

Well, kenyataannya tidak semua orang tua punya pemikiran yang sama dengan Ibu yang menyampaikan kalimat tersebut. Masih ada, entah berapa banyaknya, yang juga memilih untuk menikahkan anaknya tepat setelah lulus SMA --maupun belum, dengan berbagai alasan.

Pendidikan memang bukanlah segalanya, namun dengan pendidikan, kita akan bisa meraih segalanya. Begitu kan, harusnya? ;)

*