30 April 2014

Antara 50% Sampai 70%

Saya lagi semangat nuliiiiiissssss....!!! Hehehe... :D
Tak apalah, mumpung lagi banyak ide. Jadi ya menulis saja, tak perlu saya tunda-tunda kan? Oke baiklah, ini adalah sepotong obrolan saya dengan si Mas dua malam yang lalu via telepon.

Gambar dari google dengan sedikit editan :D

Lagi asik-asiknya ngobrol dengan topik berbagai macam nih, tiba-tiba,

"Eh Mas Mas Mas, nanya donk..."
"Apaaaaaaaaahhh...." <<< selalu jawabnya model begini karena saya nanyanya sering bikin kaget. Padahal orang yang diajak ngobrol gak pergi kemana-mana juga, masih disitu-situ aja. :))
"Mmmmmh,.. diantara Jokowi, Prabowo, atau ARB, pilih siapa?"
"Nggak milih...."
"Hmmm,.. Kalau Hatta Rajasa?" <<< sengaja gak langsung mengarah pertanyaannya :))
"Nggak milih juga."
"Hidayat Nur Wahid?"
"Nggak milih."
"Rhoma Irama?" <<< saya nananya sambil ngakak. =))
"Kalau Rhoma Irama maju jadi Presiden Dangdut, Mas dukung 100%. Kontribusinya dalam dunia musik sudah tidak bisa diragukan lagi. Dia termasuk salah satu tokoh paling berpengaruh dalam musik di Indonesia, bahkan mungkin di Dunia..."
"Oke baiklah,... Mmmmh,.. Dahlan Iskan?"
"Kemungkinan Mas akan pilih, sekitar 50%..."
"Owwww... Dahlan Iskan yaa. Oke, kalau Mahfud MD?" <<< pikiran saya harusnya akan sedikit melonjak.
"Sama, 50% juga..."
"Baiklah. JK JK?"
"Kalau JK, bisa sampai 70%"
"Hoooo... Kalau Anies?"
"Sekitar 70% juga..." <<< saya tepok tangan, girang :))
"Kalau Gita Wirjawan?"
"Gita sebenarnya bagus, tapi ada beberapa yang kurang menonjol dari dia. Cukup bisa diperhitungkan sih, tapi Mas gak bisa kasih kisaran angkanya."
"Di atas 50% atau gimana nih?"
"Ohh nggak lah, masih di bawah Dahlan Iskan, tapi ya karena di bawah 50% jadi gak bisa nentukan angkanya."

"Hooo... Ya ya."
"Yang lain donk nanyanya. Militer gitu.."
"Siapa yak? Militer gak pernah tau, jarang ada nama yang muncul. Wiranto maksudnya? Kayaknya gak mungkin deh. Oh iya, ada satu. Siapa ya itu namanya, lupa. Muldono apa ya?"

"Muldoko! Masa' Dono, emangnya Dono Kasino Indro?"
"Hahahha... Maap salah, gak pernah tau soalnya. Sekilas doank" *nyengir manis* :D
"Adek kurang banya baca nih... Coba cari tau lagi, banyak kok tokoh militer yang harusnya pantas dicalonkan juga, ada beberapa juga yang sudah aktif jadi kader partai..."
Tapi tetep aja ujung-ujungnya gak di kasih tau sayanya. PR lagi. Kudu baca lagi... :|

Jadi ingat, tempo harinya, Mas juga pernah menyampaikan kalau Indonesia sepertinya masih membutuhkan sosok militer untuk menduduki jabatan tertinggi, atau minimal nomor dua tertinggi. Tapi nama yang selama ini muncul baru Prabowo, dan sepertinya itu sudah dicoret. :D

Oke, sepertinya sekian itu saja potongan obrolan tengah malam saya dengan Mas. Silakan simpulkan sendiri maksud tulisan ini apa. Tentunya, saya selalu berdoa untuk Indonesia yang lebih baik lagi kedepannya. Aaamiiin :)

29 April 2014

Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 1)


Mari bercerita, merajut kenang yang baru beberapa putaran waktu tersapa, hanya untuk diri sendiri, hanya untuk menyenangkan hati, hanya untuk ruang dimana suara lantang tak lagi mampu beraksi ~Mae

Hobi lama yang hampir terlupa akhirnya dilakuin juga: Naik Gunung! Dan ternyata masih tetap sama saudara-saudara, walaupun baru saja berulang tahun yang artinya saya sudah makin gede, tapi gaya jalan di gunung masih aja lelet. Hahahaha… Jadi ingat si Ungu sama si Kuning, yang selalu bisa menyelaraskan langkah. Tidak peduli ada yang koar-koar disuruh ngebut ato mengejar waktu karena terbentur target. Seperti yang seringkali saya utarakan juga dulu, “I’m a slow walker, not a sprinter…” *ngeles* B-)

Kali ini destinasinya adalah Gunung Tambora, yang terletak di Kabupaten Dompu (dan Kabupaten Bima), pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia of course! Gunung yang sebenarnya sudah ada di pelupuk mata selama dua tahun ini, namun baru kemarin ada keberanian untuk merencanakan pendakian kesana—dan tentu saja mengeksekusinya. Sebagian besar bersama orang baru yang masih belum tahu karakternya seperti apa, namun untungnya ada juga seorang saudara lama yang cukup punya nyali untuk menyeberang tiga pulau sampai akhirnya tiba disini dengan selamat. Makasiiii makasii makasii :-*

Memang beda yah rasanya mendaki gunung saat masih berlabel ‘Mahasiswa’ apalagi ‘Siswa SMA’ dibandingkan dengan ‘Pekerja’. Ekspektasi orang terlalu tinggi, sehingga kadang lembaran demi lembaran rupiah keluar begitu saja tak terbendung, hanya untuk satu usaha sederhana agar bisa lebih menyamankan diri sendiri. Tapi yaasudahlah, semuanya harus disyukuri.

Kamis, 17 April 2014
Jam 5.30 sore, saya bersama empat orang kawan yang lain plus satu orang supir mobil sewaan, berangkat dari Dompu menuju kecamatan Pekat, tepatnya Desa Pancasila, dimana lokasi pintu gerbang pendakian ke gunung Tambora berada. Lama waktu yang dibutuhkan untuk kesana sekitar 4 jam perjalanan menggunakan mobil. Sebenarnya ada juga angkutan umum macam bis kecil begitu, namun yah, lagi-lagi ini adalah satu bentuk usaha untuk menyamankan diri. Heu… :D

Sebelum sampai di Pancasila, kami sempat singgah dulu di Calabai untuk menjemput dua orang ranger (baca: porter) yang akan membantu kami dalam melakukan pendakian ke puncak Tambora. Angga dan Andika (enggak pakai Kangen Band). Akhirnya, genaplah ber tujuh dan satu orang supir lengkap dengan segala backpack hingga carrier dan berbagai bungkus tas plastik yang kami jejalkan secara semena-mena di setiap sudut avanza silver tersebut. Harus muat!

Sekitar jam 9 malam kami tiba di Pancasila (434 mdpl), desa terakhir sebagai pintu gerbang pendakian ke Gunung Tambora. Desanya sudah sepi, sebagian warganya sudah terlelap. Untungnya, salah seorang anggota rombongan memiliki kenalan disana, sehingga kami mendapat tumpangan untuk menginap semalam. Yapp, kami baru berencana akan mulai mendaki keesokan paginya.

Pak Rian dan Nyonya :)
Adalah di rumah pak Rian, salah seorang senior guide dalam pendakian ke Gunung Tambora. Beliau juga sedikit banyak tahu mengenai seluk beluk gunung tersebut, termasuk juga beberapa mitos dan kepercayaan serta kisah masa lalu yang diyakini oleh warga sekitar. Dari beliau, saya juga mendapat informasi bahwa dari Pancasila, kami bisa menggunakan ojek menuju ke Pintu Rimba, yang jaraknya sekitar 5 km. Dari Pintu Rimba, baru kita mulai berjalan kaki. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan saja tawaran tersebut. Akhirnya, keesokan harinya saya meminta tolong pada Pak Rian untuk mencarikan tujuh buah ojek untuk mengantar kami.

Jumat, 18 April 2014
Jam 7 pagi kami berangkat ke Pos Perijinan diantar oleh 7 buah ojek. Sebagai informasi saja, untuk perijinan ini, yang perlu membayar adalah khusus pendaki dari wilayah luar saja. Pendaki yang asli dari Dompu atau Bima tidak perlu membayar, hanya perlu mencatat nama. Jadi, saat itu yang membayar hanya saya, Yulia, dan satu orang tamu agung dari seberang pulau. Sisanya merupakan warga lokal jadi tidak dikenakan tarif. Alhamdulillah, dapat bonus. Hehe…

5 kilometer yang cukup menegangkan menggunakan ojek ternyata, karena jalannya berupa tanah coklat yang agak licin akibat hujan dan embun. Saya hanya bisa berpegangan erat di besi bagian belakang sepeda motor, sambil berusaha menyelaraskan pergerakan tubuh dengan pergeseran ban sepeda motor yang sudah mulai gundul. Setelah sekitar 15 menit berlalu, akhirnya kami sampai di Pintu Rimba (722 mdpl).
Masih bugar, masih cantik cantik dan ganteng ganteng :))
Setelah menyelesaikan urusan administrasi dengan bapak-bapak tukang ojek, kami memulai pendakian. Target hari ini adalah Pos 3, dan kami berencana bermalam disana.

Awalnya, saya pikir akan sama dengan gunung-gunung yang lain dimana kami akan disambut dengan jalan yang agak lapang, atau minimal macadam begitu. Namun ternyata saya salah. Begitu masuk Pintu Rimba, yang ada memang benar-benar rimba. Saya langsung dihadapkan pada kondisi hutan basah yang sangat lebat dan jalan setapak yang benar-benar muat hanya untuk satu orang. Alang-alang dan tanaman liar seolah menghimpit kami, ada yang sepinggang, setinggi orang dewasa, bahkan ada yang berhasil menenggelamkan seluruh tubuh kami dalam hijau. Whaowww sajalahhh.

Dari pintu rimba ke Pos 1, ada beberapa cabangan jalur, jadi kita harus berhati-hati, jangan sampai salah berbelok. Untungnya saat itu Andika masih didepan saya, dan menjadi guide kami. Petunjuk termudah yang lain adalah ikuti pipa air. Karena jalur yang dilalui pipa air itulah jalur yang benar. Yang lain juga jalur untuk manusia sih, tapi bukan untuk pendakian melainkan untuk warga yang berburu hewan hutan dan lain sebagainya.

Setelah menghabiskan waktu 2 jam dengan berjalan santai walaupun sempat ngos-ngosan, akhirnya kami sampai juga di Pos 1 yang memiliki ketinggian 1048 mdpl. Eh, adakah yang bertanya-tanya, bagaimana saya bisa tahu ketinggian detail lokasinya? Hehe… Itu semua karena saat itu membawa alat sakti berupa GPSmap Garmin *mainan baru* :p. Alat itu saya gunakan untuk plotting jalur peristirahatan pendakian. Maunya sekalian mengaktifkan mode tracking, namun karena khawatir nanti kehabisan batrei, jadi hal itu batal saya lakukan. Yah, minimal sudah ada plottingnya begitu ya, dan semoga bisa bermanfaat suatu saat nanti. Oia, menambahkan sedikit, informasi ketinggian di postingan ini bisa jadi berubah sewaktu-waktu, menyesuaikan dengan aktifitas pasang surut air laut. Jadi, sekali lagi ini hanya perkiraan saja, dengan margin sekitar ±50 meter.

Nggaya dulu di Pos 1 :D
Di Pos 1 ini, ada sumber mata air berupa pipa besar yang ditumpahkan ke drum kemudian dialirkan kembali menuju pipa kecil bercabang-cabang. Ini juga yang menjadi alasan mengapa kami tidak perlu membawa air terlalu banyak, cukup persediaan air saat jalan dari satu pos ke pos lainnya saja. Karena, di setiap pos jalur pendakian Pancasila ini terdapat sumber mata air, kecuali di pos 4 dan pos Kuppluk. Alhamdulillah :)

Target selanjutnya adalah Pos 2. Kami harus sampai di Pos 2 pada jam makan siang karena kami berencana akan makan siang disana. Jalur dari Pos 1 ke Pos 2 tak kalah serunya. Lagi-lagi hutan yang masih sangat rapat mendominasi perjalanan kami. Saya tidak berani terlalu jauh dari teman-teman karena khawatir tersasar. Sebenarnya dari Pos 1 ke Pos 2 sebagian besar jalurnya adalah menyusuri bukit, sehingga tidak terlalu terjal. Namun sepertinya cukup jauh juga, sehingga kami menghabiskan waktu lebih banyak dari target yang seharusnya.

Dalam perjalanan tersebut, pangkal paha saya mulai terasa sakit saat melangkah. Apalagi saat kami harus melalui pohon-pohon besar yang melintangi jalur, dengan ketinggian beranekaragam. Bahkan ada juga pohon dengan diameter kurang lebih 1 meter sehingga kami harus memanjat untuk melalui batang pohon raksasa tersebut. Dan saat itulah nyeri di kaki makin terasa. Saya hanya berusaha mengabaikan sakit itu, mungkin itu salah satu bentuk protes tubuh karena sudah lama tidak diajak naik gunung. Mungkin itu sedang adaptasi.
Sungai!!!
Sekitar jam 1 siang, akhirnya kami sampai di Pos 2 (1268 mdpl). Pos yang disana terdapat sungai kecil dengan air yang cukup segar. Saatnya masak-masak… :D

Cerita selanjutnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 2)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 3)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 4)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 5) 

25 April 2014

Basic Training ERT Angkatan #2 (habis)

Lanjutan cerita yang kemarin... :D

Semangat saya masih ada. Self healing yang coba saya lakukan pada malam sebelumnya sepertinya berhasil. Hari kedua saya kembali fresh dan bersiap untuk melanjutkan Basic Training ERT Angkatan #2 yang entah akan seperti apa lagi ceritanya. Tekad saya begitu bangun di hari kedua,  

"Hari ini gak boleh ada kesalahan! Semua harus bisa dikerjakan dengan baik, diselesaikan dengan baik pula. Okesip,.." :-bd

Satu per satu sesi kami lalui. Makin banyak waktu yang kami habiskan, tentunya makin banyak pula ilmu yang kami dapat, dan berujung pada makin meningkat pula tanggung jawab yang nantinya harus kami emban. Niat awal untuk tidak melakukan kesalahan akhirnya hanya berujung pada niat saja. Kesalahan demi kesalahan tidak bisa dihindarkan. Namun satu yang saya sangat senang, bahwa kami bisa (dan harus bisa) belajar dari kesalahan-kesalahan itu. Panitia tentunya akan memberikan 'bocoran' setelah insiden kesalahan yang kami lakukan. Kami akan diinformasikan mengenai bagaimana tindakan kami, apa yang sudah betul yang kami lakukan, apa yang masih perlu diperbaiki lagi.

Sampai akhirnya setiap kali diingatkan oleh panitia, saya selalu bergumam dalam hati,
"Oke, berarti nanti lagi kalau ada situasi seperti ini lagi maka hal ini yang harus saya lakukan..."

Sayangnya panitia tidak pernah memberi kesempatan untuk perbaikan. Kami hanya memiliki kesempatan sekali untuk 'diuji coba dan dites' kemudian dinilai benar atau salah. Jika salah, maka jangan harap akan ada simulasi situasi yang sama untuk kedua kalinya. Mungkin nanti kalau sudah di deploy beneran di situasi emergency baru akan ada 'kesempatan kedua'. Ihhiihi... :D

Sebelumnya saya sama sekali tidak menyangka akan bisa bertahan sampai hari terakhir. Semua terasa berat di awal, sebagai pembukaannya. Belakangan, saya baru tau bahwa ternyata training ini memang di desain seperti itu. Grafik hari pertama dan kedua (terutama) akan dibuat melonjak, kemudian sedikit demi sedikit turun secara teratur, menyesuaikan dengan ketahanan fisik juga tentunya, karena ternyata bukan hanya peserta yang kelelahan. Panitia jauh lebih kelehan lagi, bahkan pada tiga hari pertama, panitia hanya tidur sekitar satu setengah jam sehari --dapat informasi ini pas sesi mentoring (sesi curhat.red). Untung juga ada sesi semacam itu, jadi peserta tidak terlalu stress dengan kondisi yang dibuat cukup tegang, lengkap dengan adegan penculikan, teror konflik ormas, dan lain sebagainya.

Keluarga baruuuuu... :D

Well, Basic Training ERT Angkatan #2 tahun 2014 akhirnya selesai juga. Tinggal menunggu waktu untuk melihat, apakah saya berhasil lolos menjadi anggota tim paling siaga di lembaga biru atau tidak. Mari kita lihat saja nanti. Tentunya saya sangat berharap bisa lolos, walaupun jikalau tidak, sudah banyak ilmu dan pengetahuan (termasuk bahan bacaan) yang bisa saya baca dan memperluas lagi pengetahuan saya tentang dunia kesiapsiagaan bencana.


Jadi, saya lolos tidak ya??? :-?

*note: jika ingin membaca semua episodenya, berikut link-nya:

11 April 2014

Rammang Rammang

10 Agustus 2013, jam 1 lebih 37 menit, siang.

Hari terakhir di Bone, salah satu kabupaten yang cukup luas di Sulawesi Selatan. Jangan tanya bagaimana saya bisa ada disana saat itu. Ceritanya panjang, sedang diri ini tak ingin membahasnya saat ini. Siang itu, saya melayangkan satu pesan singkat untuk seorang sahabat yang baru saya temui dua kali,

"Kak, pengen ke rammang rammang"
sejurus kemudian,
"Ayuk, ntar Uchank yang jadi guidenya, nanti kakak kabari mereka,"

Kemudian besoknya,..

Sekitar jam 9 pagi waktu setempat, saya sudah berada di rumah kak Pipi. di Maros, Sulawesi Selatan. Disana sudah ada Uchank dan Emi juga. Uchank, baru ketemu pertama kali, tapi sudah bisa menebak sedikit-sedikit orangnya seperti apa *halah, sok tau banget :D, sedangkan Emi, beberapa hari sebelumnya sudah pernah ketemu, di Bandara Sultan Hassanuddin Makassar, pas pertama kali saya sampai disana.

Tak ingin membuang waktu lama, karena memang waktu saya tidak banyak, kami akhirnya memutuskan untuk berangkat, bersama Fidya *semoga gak salah ketih namanya, adeknya kak Pipi, plus dua orang temannya, kami ber-lima naik mobil. Sedangkan Uchank dan Emi naik motor. Sempat ada sedikit adegan nyasar, tapi untungnya Allah kembali menuntun kami semua ke jalan yang benar. Jalan yang sedang diperbaiki, yang akhirnya memaksa kami untuk berhenti menggunakan mobil ditengah jalan, dan berganti dengan satu-satunya alternatif kendaraan yang bisa kami gunakan, yakni ngojek! *opsi jalan kaki dicoret tentunya yahh.

Masih di atas sepeda motor ojek, tapi pemandangan pagi menjelang siang itu sudah tidak biasa. Sebisa mungkin saya mengambil beberapa gambar dengan posisi yang sebenarnya agak sulit dan jalan bergelombang. Happp,. dapat dua jepretan!

Batu-batu karst nya sudah mulai terlihat
Ada juga yang tau-tau nyembul di pinggir jalan :D
Kami berhenti di satu sungai yang lebarnya sekitar lima meter. Ada jembatan kayu sederhana disana, yang cukup memungkinkan kendaraan bermotor roda dua untuk melintas. Setelah Emi bernegosiasi dengan salah seorang pemilik perahu menggunakan bahasa Bugis Makassar *yang ternyata beda banget sama Bugis Bone sampai saya gak bisa ikutan nimbrung, apalagi paham :|, akhirnya kami bertujuh naik perahu kecil untuk menuju sebuah Dusun yang bernama Rammang Rammang. Dusun yang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang terkenal dengan batu Karst-nya.

Anyway, saya sebelumnya mengetahui tentang keberadaan dusun Rammang Rammang ini dari tulisannya Uchank. Untuk itulah kami bersepakat menjadikan dia sebagai tour guide saat itu. Okesip.

Itu yang sedang mengacungkan angak "2" adalah Emi --bukan kampanye

Saya merasa berada di dunia yang berbeda. Di kanan kiri saya hanya ada air sungai berwarna hijau kecoklatan, serta tanaman-tanaman hijau yang tentunya tidak saya kenali. Di ujung jauh, batu-batu karst berwarna hitam sudah mulai terlihat. Tidak ada suara bising kendaraan, kecuali yang dihasilkan dari mesin pendorong perahu. Sunyi, menenangkan.

Rekan seperjalanan
Ada satu momen sebelum kami tiba di lokasi, dimana kami, lengkap dengan perahu kecil yang meliuk-liuk melawan arus sungai, seolah masuk kedalam sebuah goa dengan kanan-kiri berupa batuan kasar berwarna abu-abu yang berusaha ingin menghimpit kami. Ternyata belum sampai di lokasinya, perjalanan menuju kesana sudah menjadi satu 'nilai wisata' tersendiri. Whaowww...

Dan begitu sampai disana,.. Oke. Saya akan coba mendeskripsikan apa yang saya rasakan dalam beberapa paragraf berikutnya *dan juga beberapa fotonya.




Kiri-kanan: Uchank, saya, kak Pipi, Emi. Jadi, temanya pink-merah, begitu? :D
Rammang rammang, sungguh jauh dari hiruk pikuk kota. Tidak ada listrik, tidak ada kendaraan bermotor, tidak ada kebisingan, tidak ada polusi. Rumah-rumah kayu masih terpisah jarak yang cukup jauh, diselingi beberapa petak sawah yang baru saja dipanen. Kehidupan disana, seolah menggambarkan apa yang biasa kita sebut dengan "Menyatu dengan alam". Ditengah mangkuk raksasa yang dikelilingi oleh karst menjulang membentuk satu deret perbukitan indah, hijau dan hitam berbaur menjadi satu. Benar-benar menyejukkan mata.

Sebenarnya, saya sedikit merasa bersalah saat sampai disana, saat kami sedikit banyak membuat kegaduhan sambil sibuk berfoto-foto ria. Semoga tidak menimbulkan kebisingan bagi warga sekitar, yang saya yakin sudah teramat akrab dengan ketenangan jiwa.

Owyeahh.. I have been there!

Jika memang kelak ada kesempatan lagi, saya ingin kembali kesana. Tanpa perahu motor, cukup perahu dayung saja, juga tanpa kamera, tanpa handphone, tanpa gadget lainnya. Menghabiskan berjam-jam di sana, mengistirahatkan otak, menjamu pikiran, menenangkan raga. Ya, saya pikir Rammang Rammang adalah lokasi yang cukup tepat untuk menghilang dari semesta, sementara.

*note: foto-foto di postingan ini merupakan gabungan dari kamera yang saat itu saya bawa dan kamera kak Pipi. Free of watermark, karena bingung ini jepretan siapa, itu jepretan siapa. Hehe...
:D

08 April 2014

April ke Tiga

Sudah memasuki April ke tiga, di tanah Sumbawa.

Anyway, saya boleh curhat ya. Untuk kali ini saja. Saya ingin curhatan saya didengar, dibaca, syukur-syukur jika ada yang menanggapi, memberikan solusi, dan lain sebagainya. Bosan juga curhat di ruang privat, serasa berbicara sendiri. Lega sih, semua bisa keluar. Tapi yah gitu, terkadang tidak selamanya kita hanya butuh telinga...

Mungkin, sebenarnya isi curhatan ini juga sudah tersirat sedikit di postingan yang itu, postingan yang saya buat satu tahun lebih satu bulan yang lalu. Cerita yang sama, di waktu yang berbeda.

Saya mulai bosan, tapi tidak berani mengambil keputusan.
Saya mulai lelah, tapi seolah tak ingin begitu saja menyerah.
Saya mulai tak bersemangat, sekalipun kata mereka sudah ada beberapa pencapaian hebat.

Hari-hari belakangan ini terasa makin lambat. Kata beberapa kawan, itu karena tidak ada kesibukan. Sebenarnya saya ingin membenarkan, walaupun di sisi lain saya juga sudah tau sendiri apa yang menjadi alasan. Yah, saya makin gak betah disini. Beberapa minggu ini nafsu makan saya mulai turun. Sehari hanya makan dua kali. Itu pun setelah melalui pemikiran panjang mengenai menu apa yang akan saya pilih. Parahnya, sempat terasa mual juga saat makan --yang selalu saja memberi mimpi buruk tiap kali saya mengalami hal itu. Langsung lemass seketika kalau tau berasa mual gitu. Bahkan kegiatan cuci piring juga dilakukan sesingkat mungkin untuk menghindarinya. Aneh ya?

 Mungkin sudah memasuki tahap kronis. Hehe... :D

Oke, bagaimana dengan jalan-jalan?
Saya ingin mengutip kata-kata dari sahabatnya sahabat saya, kang Dia,

"Seorang backpaker sejati itu tidak hanya menikmati waktunya ketika backpacker saja, tetapi dia juga bisa mengemas moodnya agar selalu ON ketika kambali ke dunia pekerjaan"
 
Yes. Hukum alamnya sebenarnya seperti itu. Kemarin-kemarin juga begitu. Dan seharusnya sampai saat ini juga begitu. Namun nyantanya tidak, saya gagal mengistirahatkan otak yang sebenarnya sudah berkeinginan untuk 'bubar jalan'.

Sudah tidak sabar menanti gebrakan baru dalam perjalanan hidup, yang entah akan mengarahkan diri ini kemana. Tapi, satu hal. Dengan tetap disini, menyelesaikan yang sudah dimulai, sampai batas yang belum ditentukan untuk saat ini, juga merupakan suatu pilihan, bukan? Walaupun saya tidak yakin hal itu akan menjadi jawaban yang pertama, sekaligus pilihan pertama saya.

Oke, sekian saja. Memasuki April ke tiga. Bulan yang istimewa. Dimana banyak sekali sahabat terdekat saya, termasuk Papa, yang berulang tahun di bulan yang sama.

Tebak ini dimana :D

Apapun nanti jawabannya, please, bersahabatlah! ;)

07 April 2014

Basic Training ERT Angkatan #2

Alhamdulillah, setelah perjalanan dua jam menggunakan pesawat, akhirnya sampai juga saya dengan selamat di lokasi Basic Training Emergency Response Team (ERT) angkatan #2 ini.

Baru masuk ke lobby hotel tempat dilaksanakannya training, saya sudah mendapat beberapa lembar 'pesan' yang katanya merupakan titipan dari panitia: satu lembar daftar kelompok dan dua lembar instruksi awal serta ketentuan khusus yang diberlakukan saat pelatihan. Satu ketentuan khusus yang cukup perlu di garis bawahi (plus bold dan italic juga boleh) bahwa selama pelatihan yakni tanggal 16 Maret 2014 malam hingga 21 Maret 2014 sore, peserta tidak diperkenankan sama sekali untuk menggunakan alat komunikasi elektronik, semisal hp, laptop, tablet pc, dll. Hemmm,. cukup menarik. Tapi sebelum aturan itu diberlakukan, kabar-kabari dulu donks ke keluarga atau kerabat serta line supervisor, terus ngeinfoin juga nomor panitia yang bisa dihubungi kalau ada hal-hal yang sifatnya mendesak. Sippp... :-bd

Bocoran sedikit tentang lokasi pelatihan. Gambar ini saya ambil dari balkon kamar, pas subuh :D

Pas ngelihat daftar nama kelompok, saya kebagian kelompok paling akhir, bersama seorang perempuan dan empat orang laki-laki lainnya yang saya tidak kenal sama sekali namanya. Akhirnya, saya nanya aja deh ke teman se kamar yang sudah saya kenal sebelumnya --hanya 1 dari 3 orang yang ada, saya pede aja gitu minta nomor hp salah satu anggota kelompok saya ke teman yang saya kenal tersebut. Tanpa basa basi, langsung cap cis cus dan dalam waktu tak kurang dari 10 menit, saya sudah berkumpul di basecamp kelompok kami yang kami beri nama "Faster Foundation".


Lha, kenapa pakai 'foundation' segala? Yapp, karena itu adalah salah satu tugasnya. Kami harus menentukan nama lembaga kami, lengkap dengan identitas, visi misi, struktur organisasi, budgeting selama setahun, yang pastinya tidak akan jauh-jauh dari program penanggulangan risiko bencana (PRB). Simpelnya, versi organisasi dari Departemen Disaster Risk Management begitu mungkin. Ahh, ntahlah. Saya juga bingung. Segalanya masih absurd, masih gak jelas juga ini arahnya kemana. Ngikut sajalah...

Baru beberapa jam berada di lokasi pelatihan, kami sudah 'dipaksa secara tidak langsung' untuk mengerjakan serentetan tugas kelompok yang diberi tenggat waktunya hanya satu malam. Beberapa instruksi dan clue yang diberikan oleh panitia, ada yang tertangkap oleh otak, ada yang terabaikan. Belakangan baru kami paham, mungkin itulah mengapa setiap kali sesi, panitia selalu mengulang-ulang kalimat,

"PAY ATTENTION ON DETAIL...!!!"

Belum habis hari pertama berlalu, kesalahan demi kesalahan sudah terjadi. Waktu seolah bergulir cepat. Apa yang kami pelajari di kelas, maka siang atau sorenya pasti akan disimulasikan --dengan tanpa intro maupun basa basi terlebih dahulu. Otak peserta dipacu untuk berpikir cepat, ditengah situasi bencana topan Yiihaa yang baru saja menyerang Negara Planesia, yang berdampak pada 3 propinsi besar disana, lengkap dengan konflik internal negara serta berbagai kondisi yang tentunya menghambat kami, para lembaga asing, untuk memberikan respon secepatnya ke para survivor bencana.

Situation mapping, bencana Topan Yiihaa di Negara Planesia :D
Belum lagi tugas harian yang bukan main bikin pusing, dan tentu saja semua dikerjakan secara manual: Tulis tangan! Whewww... Oke baiklah. Ini pelatihan yang luar biasa. #:-S

Selama pelatihan, setiap base dibekali oleh alat komunikasi berupa Handy Talkie (HT). Jadi antara masing-masing lembaga (yang totalnya ada 4 --4 kelompok), plus operational base (panitia), semua berkomunikasi melalui HT. Asik deh, kami jadi belajar bagaimana menggunakan kode-kode komunikasi seperti yang ada di film-film detektif *norak gitu deyy :)). Dan, entah kenapa saya jadi menemukan minat mengoperasikan HT itu sendiri. Walaupun di setiap harinya setiap anggota lembaga harus berpindah posisi dan jabatan, dan HT selalu dipegang oleh anggota yang hari itu menjabat sebagai Security & Infokom, saya sukaknya ngambil alih gitu kalo si HT nganggur kemudian tiba-tiba bunyi. :D

Hotel tempat kami menginap saat itu diibaratkan negara Planesia. Salah satu peraturan di negara Planesia yang sudah diinformasikan oleh panitia adalah, jam malam diberlakukan mulai jam 10 pm. Jadi, tidak diperkenankan ada aktifitas apapun di luar basecamp/kamar peserta diatas jam 10. Sialnya, baru hari pertama saya dan seorang kawan terpaksa melanggar aturan tersebut. Akhirnya kami tertangkap oleh Pol PP Planesia saat sedang dalam perjalanan dari basecamp menuju ke kamar kami. Asli itu insiden nyebelin banget. Udah tau orang capek, ngantuk, habis ngerjain tugas seabrek, pake acara ditangkap pula. Fiuhhhh... :((

Special forces Faster Foundation --pinjam fotonya om Kris :D
kiri ke kanan: om Theus, saya, mas Anggoro, om Godlief, kak Cece, om Kris
Jujur, malam itu, setelah insiden 'ketangkep', sempat down juga. Baru hari pertama udah segitu berat. Gimana besoknya coba? Masih hari senin. Masih ada empat hari lagi menuju jumat. Bisa gitu bertahan sampai hari jumat? Hmmm...

...to be continued yah :D

04 April 2014

Hasil Seleksi Berkas ERT Angkatan #2

Mengenai keikutsertaan saya dalam seleksi Rekrutmen ERT Angkatan #2 ini, saya sudah menceritakannya ke Mama, ke Papa, ke Adek (pamer ceritanya, karena si adek juga pengen banget ntar bisa kerja di bidang beginian --respon bencana), ke Mas, ke yang lain-lain juga, maksudnya buat minta doa gitu. Agak lebay ya? Tapi ya sudahlah, sekecil apapun, kalau tanpa restu orang tua kan susah juga ntar. Kalau saya lolos, kemudian diturunkan di situasi bencana, tapi orang tua tidak tau apa-apa, gimana hayo? *padahal belum pengumuman juga tapi udah ribet kesana kemari :))

Sudah jelas banget di poster pengumuman Rekrutmen ERT Angkatan #2 kalau hasil seleksi pertama akan dikeluarkan tanggal 5 Maret 2014. Sepanjang hari di tanggal 5 Maret, setiap kali ada notifikasi email masuk saya selalu buru-buru buka Microsoft Outlook dan cek inbox, berharap yang muncul adalah email mengenai pengumuman itu. Tapi ditungguin sampai sore, sampai jam kerja habis, ternyata pengumuman itu belum keluar juga. Hemmm,.. Makin deg deg serrr deh yaa. #:-S. Walhasil saya memutuskan untuk pulang dengan hati gundah. Mungkin pengumumannya ditunda sampai besok, atau mungkin teman-teman di CO (Country Office) masih kelimpungan banyak kerjaan dan lain sebagainya.

Selepas isya' di kos, lagi duduk manis sambil nonton tv, saya iseng deh cek inbox email kantor via walky. Hal yang jarang saya lakukan, apalagi di hari kerja biasa. Dan, ternyata pengumuman Hasil Seleksi Berkas ERT Angkatan #2 sudah muncul! Dikirim oleh bapak HR Manager jam 19.24. Pantessss...

Kemampuan membaca cepat atau istilah kerennya screening tetiba muncul begitu saja. Otak saya secara otomatis mengabaikan tulisan-tulisan yang menurut saya tidak terlalu penting pada saat itu. Saya hanya mencari nama saya di deretan tabel yang berderet 22 baris kebawah. Dan yah, ternyata tidak butuh waktu lama karena deretan nama tersebut diurutkan berdasarkan abjad. Saya menemukan nama saya di urutan ke 3! Wuaaahhhh... Asli seneng buwwwaanget rasanya. Pengen lompat-lompat, pengen jingkrak-jingkrak =))

Ada nama saya ada nama saya! Horeeeeee.....!!! :D

Setelah puas bersenang-senang dengan diri sendiri, akhirnya saya mencoba meneliti email tersebut lebih detail lagi. Memperhatikan nama-nama yang terdaftar disitu satu persatu, dan kabar buruknya adalah, dari 22 nama yang ada disana, saya hanya mengenal 4 orang! Yang lain gak kenal sama sekali. poin yang satu ini jadi pikiran tersendiri pastinya. Ntar gimana yaa disananyaa? Apalagi yang lolos seleksi pertama ini berarti akan ikut Basic Training ERT yang akan diadakan dalam waktu dekat. Iyaudah deh, pasrah aja. Berdoa berdoa berdoa, moga lancar. Aamiin :">

Keesokan harinya, dan beberapa hari berikutnya, email-email lain bermunculan. Beberapa hal harus dilakukan sebelum pelaksanaan Basic Training ERT yang akan diadakan tak lebih dari 2 minggu lagi --tanggal 17 Maret 2014. Persiapan berkas, isi formulir, tanda tangan, urus travel request, dan lain sebagainya. Padahal di tanggal itu saya juga masih ribett ngurusin kegiatan di desa. Duhh,. pusing dah. Namun untungnya rekan satu kantor cukup banyak membantu. Jadilah, segala urusan administrasi dibantuin juga. Sempat ada kendala sedikit, tapi bisa teratasi saat itu. Teman-teman yang lain ada juga yang 'nakut-nakutin', dibilang ntar pelatihannya susah lah, ntar harus bangun tengah malam lah, kerjakan ini itu lah, bawa ini itu dan lain sebagainya. Sampai kebawa mimpi. Hahaha.. Aneh juga. Terlalu excited mungkin saya :))

Akhirnya hari yang sudah saya nantikan datang juga. 16 Maret 2014, jam 11.30 am, saya meninggalkan rumah kos saya di Dompu dan berangkat ke Bima. Untuk selanjutnya meneruskan perjalanan menggunakan pesawat menuju ke Bali. Yapp, lokasi pelatihannya di Bali. Selama 5 hari, 17-21 Maret 2014. Sepanjang perjalanan yang saya lalui sendiri, dalam hati cuma bisa berdoa,

"Allah,
Mudahkanlah jalannya,..
Mudahkanlah jalannya,.."

Jadi, cerita di Bali nya bagaimana ya? Hmmmm... :-?

01 April 2014

Rekrutmen ERT Angkatan #2

Mungkin baru sekitar satu bulan setelah saya bergabung di Plan Indonesia, dua tahun yang lalu, saya mengetahui bahwa di Plan juga ada departemen khusus yang berkaitan dengan bencana. Namanya "Disaster Risk Management", atau biasa disebut dengan DRM. Belum ada bayangan sih itu departemen seperti apa wujudnya, apa aja programnya, cuma kayaknya keren gitu yah. Mungkin bakalan jadi pengalaman yang luar baisa kalau suatu saat nanti bisa turun ke situasi emergency atau situasi bencana, terus kasih bantuan ke para survivor bencana tersebut.

Beberapa waktu berselang, tidak ada kelanjutan dari rasa keingintahuan saya. Lebih tepatnya, akhirnya saya berfokus pada tugas pokok saya yang berada di bawah departemen ECCD (Early Childhood Care Development). Kemudian, di suatu waktu yang tidak terduga, saya berkesempatan untuk mengobrol via skype bareng salah satu dedengkotnya DRM, dan dari sana saya mendapat informasi yang baaanyak sekali. Termasuk juga, sebenarnya setiap staff di Plan Indonesia punya kesempatan untuk bisa terlibat dalam respon bencana, jika berhasil menjadi Emergency Response Team (ERT). Nah, trus kapan perekrutannya? Masih belum ada informasi lebih lanjut. Perekrutan ERT angkatan #1 diadakan sekitar tahun 2010. Dan itu bukan agenda tiap tahun, karena menyesuaikan dengan kebutuhan, situasi bencana yang ada, serta budget yang tersedia. Hmmmm,.. Baiklah. Mimpi saya yang satu ini sepertinya harus sedikit tertunda.


Tanggal 10 Februari 2014 lalu, via email kantor, melalui bapak HR Manager yang terhormat, tersebarlah pengumuman mengenai Rekrutmen Emergency Response Team Angkatan #2 di Plan Indonesia. Seneng banget, heboh, penasaran, akhirnya yang sudah saya nantikan sejak lama datang juga. Tanpa berpikir panjang, saya kemudian menyimpan form aplikasinya, dan mulai merangkai kata memikirkan apa jawaban dari setiap pertanyaan yang ada disana.

Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan saudara-saudara. Jenis pertanyaannya tidak jauh berbeda dengan pertanyaan di form aplikasi saat kita melamar pekerjaan. Pertanyaan-pertanyaan implisit yang membutuhkan jawaban yang tidak jelas maunya seperti apa. Contohnya adalah,

"Mengapa anda ingin menjadi bagian dari Emergency Response Team?"
"Mengapa anda harus dipilih?"
"Apa yang anda harapkan dapat dari program ini?"

Yah, akhirnya, mau tidak mau memang harus sedikit merangkai kata dengan indah supaya jawaban yang saya susun tidak terlalu terlihat sebagai satu bentuk usaha untuk 'menjual diri'. Sampai akhirnya, keluarlah sebuah kalimat sakti yang saya tuangkan dalam bentuk kicauan merdu. Kesimpulannya, tak selamanya sombong itu tidak baik :">



Aplikasi yang sudah terisi penuh lengkap dengan satu kalimat sederhana, rekomendasi langsung dari line supervisor saya, akhirnya saya kirimkan tepat satu hari sebelum penutupan rekrutmen tersebut. Beberapa hari setelahnya, merupakan hari-hari yang agak sedikit menegangkan. Kangen juga sih dengan situasi seperti itu, adrenalin pasti naik, deg deg serrrr gitu gampangannya. Bikin orang senyum senyum sendiri. Sampai akhirnya, tiba hari pengumuman itu: tanggal 5 Maret 2014.

Apakah saya lolos?
Hmmm,.. Mari kita lihat nanti
;)