30 May 2014

Dokumenter Pendakian Gunung Tambora

Ini adalah alasan kenapa kemarin pas Pendakian Gunung Tambora saya bawa handycam. Ini juga satu alasan kenapa di postingan tersebut hampir tidak ada foto hasil jepretan saya sendiri. Ini juga jadi satu alasan penting kenapa saya mengabaikan si D3100, melewatkan sunset kece berkawan samudera langit, lereng-lereng bukit nan indah dan sejuk, dan segala kemewahan alam tersebut.

Maunya jadi Riani Djangkaru atau Madina Kamil gitu, yang ngeliput acara pendakian ke gunung trus ada yang ngambil videonya dari arah depan, belakang, atas, bawah, bukit jauh, bla bla bla. Maunya juga jadi kayak Raline Shah di film 5 cm yang di gunung tapi masih tetep cantik, yang udah berhari-hari di hutan tapi rambutnya masih berkibar seksi, yang jalannya cuma bawa daypack kecil ntah isinya apa aja, plus celana jeans dan jaket polar tipis yang disampirin di samping tas. Dudududuu,.. Naik gunung ato tamasya? Huahahaha... udah ah nyinyirnya. :))

Nyatanya semua itu dibatalkan sodara-sodara. Ujung-ujungnya, (kebanyakan) saya sendiri yang ambil gambarnya, ngomong sendiri di depan handycam, sampe kedengaran itu ngos-ngosannya plus srat sroot srat srootnya *maklum lagi flu*. Sortir video dan foto-fotonya juga sendiri. Milihin backsound juga sendiri, tapi untungnya ada satu folder di walky yang isinya khusus lagu-lagu bertema perjalanan. Ngedit videonya sendiri, bikin puisi ala kadarnya juga sendiri, modal kerinduan sangat terhadap gunung!

Yang paling heroik adalah harus rela si greys (laptop) standby dua hari dua malam pas weekend di kantor hanya untuk upload ke youtub! satukomasekiangigabyte meeeeennn... #:-S Trus pas giliran udah selesai 100% uploadnya, tetiba terjadi hal yang sama sekali tidak ada dalam daftar rencana saya. Muncul beginian di layar laptop:


Pas di klik "Publish" gak bisa cobaaaa... :(( Udah mo nangis aja. Untungnya ada si adek ganteng unyu nan baik hati, si Arie, yang bantuin cari solusi. Ternyata cuma butuh verifikasi account karena durasi videonya yang agak panjang :">*batal nangis*

Baiklah, supaya tidak perlu berlama-lama, monggo disimak video Dokumenter Pendakian Gunung Tambora (Documentary Exploring Mount Tambora) ini yaa. Semoga makin mupeng naik gunung setelah nonton. Muahahaha... >:)



Ngeditnya biasa aja. Saya cuma pake windows live movie maker. Belum bisa pake software yang lain karena ini bikinnya pake laptop kantor dan laptop kantor gak bisa diinstal macem-macem. Jadi yah, harap dimaklumi kalo editannya agak kasar dan biasa aja. Dan juga, semoga gak bosan yak liat mukak saya disana. B-)

Last, happy watching ;)

23 May 2014

Berburu Foto Panning di Parang Tritis


Pertama kali saya mengenal teknik foto panning itu dulu, dulu sekali, pas masih kuliah di Malang, pas 'pegangan' saya masih kamera pocket Sony DSC-W55, pas masih belum kenal apa itu DSLR, mungkin pegang juga belum pernah, pas masih baru-barunya tau tentang Prosumer dan akhirnya langsung sukak!


Ini foto panning pertama saya (yang berhasil). Belajarnya juga baru malam itu, di pinggir jalan depan alun-alun, seberangnya masjid Jami' Malang. Pakai pocket camera sih, tapi saya tidak menyangka juga bisa menghasilkan foto semacam itu. Pastinya nggak pakai mode auto yah.

Jadi, sebelum saya pamer hasil berburu saya di Parang Tritis bulan Februari kemarin, mari kita belajar sedikit tentang 'Panning'.

Panning merupakan pergerakan horisontal dari sebuah kamera ketika merekam sebuah obyek yang sedang bergerak --infotografi.com. Teknik panning biasa digunakan jika kita ingin memperlihatkan kesan bergerak pada sebuah subyek, dengan membuat background menjadi blur sementara subyek utama tetap tajam --belfot.com

Yap,. satu syarat utama untuk bisa menggunakan teknik panning adalah harus ada obyek yang bergerak, mulai dari yang pergerakannya lambat sampai cepat. Bisa orang yang lagi jogging, sepeda gowes yang sedang dikayuh, dokar/andong yang sedang jalan, sepeda motor/mobil yang sedang melaju, dan lain sebagainya. Pastinya pergerakan yang masih bisa ditangkap mata ya, bukan pergerakan lambat macam perputaran matahari *ini aneh :|

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana setting kameranya, atau, kamera jenis apa yang bisa dipakai untuk dapat menghasilkan foto panning? Jawaban saya semua kamera harusnya bisa. Asal ya itu tadi, tidak di setting auto, karena foto panning sangat menghindari adanya nyala blitz, terutama kalau ambilnya di malam hari, pas banyak lampu. Cuma kalo kamera hp belum tau, belum pernah coba :D

Nah, sebenarnya teknik yang detail tentang pengaturan foto panning saya juga kurang paham. Maksudnya tidak pernah secara khusus mempelajari. Tapi berdasarkan coba-coba settingan di kamera, jadilah nemu formulanya.

Intinya terletak pada pengaturan shutter speed di kamera. Baiknya gak terlalu lambat, juga gak terlalu cepat. Amannya sekitar 1/100 sampai 1/200 . Tapi kalo situasi gak memungkinkan (misalnya malam atau cahaya lagi minim banget), pake 1/60 juga masih aman. Foto diatas itu, speednya malah cuma 1/40. Cuma dulu kan pake kamera pocket ya, jadi gak bisa ngatur sampe segitunya. Taunya pas udah saya pindah ke laptop, trus dilihat properties imagenya, ketemunya begitu. :D

Selain itu, tentunya harus ada ruang untuk pergerakan, minimal pergerakan kepala dan kamera. Karena teknik panning ini berbeda pengambilan foto lain yang umumnya menomorsatukan fokus dan kestabilan, pergerakan dalam pengambilan foto untuk teknik panning ini justru merupakan suatu keharusan. Tentunya pergerakannya searah dengan pergerakan objek ya.

Oke baiklah. Balik ke Parang Tritis. Pas Februari kemarin kesana, ternyata cuaca gak terlalu cerah. Maunya hunting sunset jadi batal karena yang ada abu-abu gelap. Lautnya juga gak bersih-bersih amat seperti di NTB. Akhirnya, setelah duduk manis di pasirnya sambil ngeliatin buwwwwanyak banget orang dan andong berseliweran, tetiba ngomong aja ke temen yang saat itu bareng kesana yang juga nenteng-nenteng kamera gede,

"Bikin foto panning yukk..."

Mungkin ini juga salah satu bentuk frustasi akibat berencana bikin foto levitasi tapi gagal terus. Capek lompat-lompat. Hahaha.. Dan tidak butuh waktu lama, kami langsung berburu foto. Minimal si kuda dan kusirnya gak harus secara terpaksa jalan seliweran di depan kami :)). Ini beberapa hasilnya...


 

Sebenarnya sukak foto ini, cuma pas muter kamera tiba-tiba ada orang banyak lagi lari-lari :|
Sampe penjual bakso tusuk juga jadi 'model' :D
Semua foto diatas saya ambil pake Nikon D3100. Sebenarnya, pantai bukanlah lokasi yang pas untuk bikin foto panning. Karena baiknya, foto panning dibuat dengan background berwarna-warni, supaya makin dramatis gitu. Tapi berhubung saat itu andongnya adanya di pantai, yaudah mo gimana lagi. Hehe... :D

Saya gak bisa kasih banyak tips tentang foto panning ini. Kalau teman-teman pengen belajar, silakan baca-baca informasi lengkapnya plus tips nya disini atau disini atau disini juga disini. Ato googling sendiri aja bisa kok, karena referensi yang ada sekarang sudah banyaaaakk banget dan sangat mudah dimengerti.

Baiklah. Sekian saja postingan (agak) pamernya tentang berburu foto panning. Salam jepret! :D

19 May 2014

Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 5)

Cerita sebelumnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 1)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 2)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 3)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 4)

Dan perjalanan turun gunung pun di mulai. Perjalanan yang tidak kalah beratnya, yang kesemuanya bertumpu pada kaki. Terror kembali melanda, namun sebisa mungkin saya percepat langkah selagi serangan rasa sakit masih belum terlalu menyiksa.

Pos demi pos saya lalui dengan segera. Tanpa istirahat, tanpa berhenti, tanpa minum. Yang ada di kepala saya hanya berjalan, berjalan, dan berjalan. Hingga akhirnya kami bersepuluh terpisah menjadi tiga kelompok. Lima orang para ranger di depan, saya bersama seorang kawan, Pak Haris, di tengah, sedangkan tiga yang lain, Pak Arif, Yuli, dan Mas Abib di belakang. Kembali memasuki jalur dari Pos 3 ke Pos 2 yang rapat oleh pepohonan tinggi , hutan rimba, dan hujan deras.

Satu hal yang saya dan rekan seperjalanan saya yakini bahwa jalur dari Pos 3 ke Pos 2 hanya satu. Kecil kemungkinan untuk kami tersasar. Jadi saya kembali dan kembali menyemangati kawan saya, untuk tetap melangkah. Jika berhenti kami akan kedinginan, akan kelelahan. Jika menunggu yang di belakang akan memakan waktu lama. Sedangkan sepuluh hingga lima belas menit adalah waktu yang cukup banyak untuk bisa beristirahat jika kami sampai terlebih dahulu di Pos 2. Sempat ada kegelisahan saat jalan setapak dan hutan lebat tak ada habisnya. Telinga kami pasang kuat-kuat, berharap dapat mendengar deru air sungai di tengah hujan deras.

Setelah melewati bibir sungai yang terjal dan licin, akhirnya kami sampai juga di Pos 2. Setelah menghabiskan seluruh bekal kami untuk makan siang—menjelang sore, kami mulai melanjutkan kembali perjalanan. Saya dan rekan seperjalanan saya sebelumnya akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok yang di belakang.

Lebih dari lima belas menit waktu yang kami habiskan untuk melalui satu-satunya turunan curam berlumut yang sangat licin diantara Pos 2 dan Pos 1, sepanjang kira-kira 200 meter. Selebihnya, jalan datar membelah ilalang tinggi yang sesekali menenggelamkan masing-masing kami, dengan tanaman menjalar yang seringkali membuat kaki tersandung akibat kelelahan dan langkah gontai yang tak mampu lagi kami kuasai sepenuhnya. Setelah melewati jalur panjang yang agak gelap, sekalipun masih sore, tiba juga kami di Pos 1, kira-kira jam setengah 6 petang.

Setelah berhasil mendapatkan sinyal dan menelepon Pak Rian untuk menjemput kami di pintu rimba, kami mulai melanjutkan perjalanan. Lupa dimana meletakkan senter, hingga yang terpakai hanya 3 buah dari 5 orang yang berjalan saat itu. Sebenarnya langit juga masih cerah, namun hutan rimba berhasil mencegah cahaya alami masuk, memaksa kami berpasrah pada cahaya senter dan headlamp seadanya. Prediksi salah seorang kawan yang juga kami mandatkan sebagai guide, Pak Arif, kami akan tiba di pintu rimba sekitar pukul 8 malam.

Saat itu tepat pukul setengah 8 malam, Pak Haris di depan, kemudian disusul Yulia, Pak Arif, saya, kemudian Mas Abib. Saat tiba-tiba Pak Arif meminta Pak Haris untuk menghentikan langkah saat itu juga. Seketika Pak Arif menyampaikan, kalau jalur yang sedang kami lalui saat itu bukanlah jalur yang benar. Saya hanya bisa berusaha untuk tidak panik, ditengah kelelahan yang sangat, serta kaki yang makin tidak bisa diajak kompromi.

Kami mencoba berpikir, mengobservasi sekitar, sebisa mungkin, ditengah gelap hutan malam. Kami duduk di atas bale-bale (semacam bangku kecil dari bambu yang disusun-susun) kecil, yang berhasil meyakinkan kami kalau itu adalah jalan yang salah—karena saat berangkat kami tidak menemui benda itu. Berpikir sejenak, hingga akhirnya kami bersepakat untuk menelusuri kembali jalur dari mana asal kami berasal, sampai Pak Arif benar-benar yakin kalau kami berada di jalur yang benar.

Entah kami yang saat itu memang sudah disorientasi medan, atau ada hal lain yang memang mempengaruhi. Saat perjalanan kembali, kami menemukan pertigaan yang sepertinya sebelumnya juga tidak ada. Kami kembali bingung bagaimana harus mengambil sikap, sedangkan ternyata tidak hanya saya, teman-teman yang lain juga sudah mulai kelelahan.

Akhirnya, kami berusaha untuk mendapatkan sinyal. Menelepon Pak Rian yang harusnya sudah ada di pintu rimba menunggu kami. Kami ceritakan detail kondisi kami, dan akhirnya beliau meminta kami untuk berhenti saat itu juga. Duduk disitu, dan tidak boleh berpindah-pindah lagi. Pertolongan akan segera datang.

Tepat di pertemuan tiga cabangan, kami duduk melingkar, ber lima. Meluruskan kaki, sambil tetap berusaha terjaga. Ada seorang kawan yang mulai kelelahan dan hampir tertidur, namun sebisa mungkin hal itu kami cegah. Kami paksa diri untuk mengobrol mengobrol dan mengobrol, saling mengingatkan satu sama lain, sekaligus sebagai bentuk usaha menghibur diri. GPS coba saya nyalakan, namun hanya bisa membaca arah. Karena lagi-lagi mode tracking tidak saya aktifkan, sedangkan jalur pendakian Tambora belum ter-update di peta. Saya hanya bisa menggerutu.

Headlamp sudah kami aktifkan supaya menyala kedip-kedip. Bahan cerita sudah habis. Kami berlima, di satu titik yang tidak kami ketahui dimana, hanya bisa berdoa, dan berharap pertolongan segera datang.

Setelah kurang lebih 45 menit berlalu, akhirnya kami mendengar suara orang berteriak. Kemudian dibalas oleh Pak Arif. Yapp, salah satu hal yang perlu diperhatikan saat di Gunung Tambora, kita tidak dianjurkan untuk memanggil nama. Cukup berteriak saja seperti “Huu..” atau “Hooiii...,” dan warga disana pasti sudah mengetahui kebiasaan itu. Kami sudah mulai bersemangat, namun tetap memilih untuk duduk tenang di tempat sampai orang lain yang menghampiri kami. Saya sangat bersyukur akhirnya bantuan itu tiba. Tak tanggung-tanggung, banyak sekali yang turun mencari kami. Ada sekitar lima orang lebih. Hingga akhirnya segala bawaan kami, ransel dan carrier, dibantu dibawakan, dan kami di giring menuju jalan yang benar.

Alhamdulillah, setelah berjam-jam perjalanan, akhirnya tepat pukul 11 malam, kami semua sampai di Pintu Rimba. Ternyata di Pintu Rimba masih banyak yang menunggu kami. Begitu mereka mendengar kami tersasar, rombongan pendaki yang lain tidak ingin turun, mereka ingin menunggu dan memastikan kami selamat terlebih dahulu baru pulang kembali ke rumah masing-masing. Saat itu suasana kekeluargaan sungguh terasa di diri saya.

Bonus terakhir, mengunjungi savana di kaki gunung Tambora saat perjalanan pulang :)
Obrolan dengan Mas, kemarin sore, setelah segala insiden kesasar dan lain sebagainya saya ceritakan dengan detail, pada akhirnya ditutup dengan,
“Masih mau naik gunung lagi? Nggak kapok?”
“Enggak, masih pengen kok… Hehe… ” :D

*

Tambahan informasi:
Update biaya yang dibutuhkan untuk mendaki gunung Tambora, per April 2014:
Rent car Dompu – Pancasila (termasuk driver dan bensin sekali jalan): Rp 500.000
Sewa porter (per hari): Rp 150.000
Perijinan pendakian (per orang): Rp 10.000
Ojek Pancasila – Pintu Rimba (sekali jalan) : Rp 30.000
Untuk kawan-kawan yang ingin mendaki gunung Tambora, bisa menghubungi saya untuk informasi lebih detail mengenai contact person di lokasi dan lain sebagainya. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Rimba Lestari :)

14 May 2014

Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 4)

Cerita sebelumnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 1)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 2)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 3)

Minggu, 20 April 2014
Kondisi saya masih sama, tidak bisa tidur. Namun bukan lagi masalah kaki, karena beruntungnya sakitnya sudah mulai berkurang. Ide untuk menempelkan koyo sepertinya cukup manjur, ditambah keberadaan tongkat sakti yang cukup membantu menopang diri. Jam satu pagi, saya bangun. Dari dalam tenda saya mulai bersiap, menggunakan celana panjang dua susun, kaos lengan panjang, kemudian jaket, sarung tangan, headlamp di kepala, kaos kaki, serta bandana untuk menutupi hidung dan mulut.

Saya kemudian menuju samping tenda, yang sebelumnya sudah dipersiapkan peralatan untuk memasak nasi. Diluar masih sepi, gelap, tidak terdengar suara apapun. Angin hanya sesekali berhembus. Ternyata usaha saya untuk menghangatkan diri cukup berhasil, saya tidak terlalu merasakan dingin.

Saya mulai memasak nasi. Target pagi buta itu saya harus memasak tiga panci nasi, yang masing-masing membutuhkan waktu sekitar setengah jam hingga masak. Sepertinya target untuk berangkat jam 2 pagi akan sedikit bergeser. Tapi tidak apalah, dari dulu saya juga tidak pernah berhasil mengejar sunrise dari puncak gunung. Yang penting sampai, itu saja.

Selesai masak nasi yang pertama, ternyata gasnya habis. Terpaksa saya bangunkan rekan yang lain di tenda sebelah untuk meminta gas, yang mengakibatkan dia juga tidak tidur lagi. Saat saya melanjutkan memasak, dia langsung ikut bangun dan mulai menyalakan api unggun. Satu hal yang saya salut dari orang-orang lokal disana, yakni mereka sangat ahli membuat api unggun. Kebiasaan yang jarang sekali saya lakukan saat mendaki gunung, karena beberapa gunung di Jawa tidak memperbolehkan pendakinya membuat api unggun sebab berisiko terjadi kebakaran hutan. Mungkin berbeda dengan kondisi gunung Tambora yang didominasi oleh hutan basah.

Sekitar jam 2 pagi, teman-teman yang lain sudah bangun. Rekan lain yang bertugas memasak juga mulai mengambil alih dengan memasak mie goreng serta sarden. Tidak kurang dari setengah jam kemudian, makanan sudah siap dan kami mulai menikmatinya, ditengah suhu dingin yang mulai bersahabat di tubuh saya.

Jam 4 pagi—meleset 2 jam dari rencana awal, kami mulai melakukan perjalanan ke puncak. Tim secara alamiah terbentuk menjadi dua kelompok, lima orang di bagian depan, sedang sisanya termasuk saya ada di belakang. Saat kami baru memulai pendakian, tampak juga rombongan lain yang sedang menuju ke puncak. Tampaknya semalam mereka menginap di Pos 5.
Padang edelweis, di salah satu ceruk menuju puncak Gunung Tambora

Satu jam berlalu, gundukan bukit di depan mata saya masih saja tinggi. Medan kala itu didominasi oleh batu-batu kerikil serta pasir berwarna hitam legam, menampakkan sisa-sisa letusan gunung Tambora dua abad silam, tahun 1815. Tidak hanya di lereng menuju puncak, bongkahan batu-batu besar juga kerap di temui di sekitar kawasan gunung Tambora, bahkan jauh berkilo-kilo meter di bawah jalur pendakian. Sesekali tanaman edelweiss yang sudah sangat saya kenali hanya dari bentuk daunnya saja, menghiasi perjalanan dini hari itu. Masih saja merinding setiap kali melihat ‘bunga abadi’ tersebut. Entah saat berdiri sendiri, maupun saat bergerombol dengan sekawanannya di lereng gunung terjauh.

Saat kami sudah tiba di punggung bukit dan menelusuri jalan datar penuh dengan guratan-guratan batu keras, langit di ujung timur mulai membiru cerah. Kami segera bergegas, ingin bisa menikmati sunrise dari bibir kawah Tambora, yang katanya merupakan spot paling sempurna untuk menikmati matahari terbit. Dengan tetap menjaga jarak dari tepian kaldera aktif terluas se-dunia yang memiliki diameter 7 km serta kedalaman 1 km itu, kami mempercepat langkah. Senter sudah dimatikan. Dingin tak lagi menusuk. Beberapa ceruk sedalam satu hingga tiga meter sempat memperlambat langkah kami, namun semangat kami kian tinggi untuk mencapai bibir kawah dimana lima orang teman yang lain sudah menanti.


Momen sangat langka itu hanya berlangsung beberapa detik. Dimana saya tidak mengijinkan mata saya berkedip sedikitpun. Langkah saya terhenti. Saya hanya berfokus pada titik tercerah dipagi itu, yang memancarkan sinar oranye kuat khas sang raja hari. Matahari muncul dari garis terjauh batas penglihatan manusia, dengan kaldera Tambora menjadi pemisahnya, memancarkan hangatnya, menyilaukan, namun lagi-lagi, selalu bersahabat. Saya sudah lupa dengan keberadaan handycam maupun kamera, yang saya ingat saat itu,



“Ini adalah salah satu momen luar biasa dalam hidup yang hanya bisa dinikmati oleh mata…”

Belum sampai ke tujuan akhir, namun sudah banyak hadiah luar biasa yang bisa saya nikmati. Sembari tersenyum ke kawan lama yang juga katanya sebagai ‘pecinta gunung’, saya berucap,

“Gunung ini istimewa ya… Hehe…”

Perjalanan masih harus dilanjutkan. Masih ada setengah jam lagi sebelum mencapai tanah tertinggi pulau Sumbawa. Tanjakan terakhir sudah ada di depan mata. Dan entah mengapa penyakit saya yang lain kambuh juga: semakin dekat dan terlihat targetnya, makin berat kaki ini melangkah. :))

Perjalanan menuju puncak yang mengingatkan saya pada gunung Agung, dimana kanan dan kiri adalah jurang, hanya ruang seluas sekitar 2 meter menjadi jalan untuk kami. Teman-teman yang lain sudah hampir mencapai puncak, dengan semangat mereka menirukan percakapan para cacing di iklan salah satu minuman kemasan, “Pucuk… Pucuk… Pucuk…,” saya hanya bisa nyegir dibuatnya.

Tepat pada jam 6 lebih 42 menit, waktu setempat, tanggal 20 April 2014, akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki di puncak Tambora. Tanah tertinggi pulau Sumbawa yang ditandai dengan pancangan merah-putih-nya, berada pada 2650 mdpl. Puncak yang tidak terlalu luas, namun cukup untuk tidur-tidur sambil foto-foto sambil makan-makan sambil masak air untuk bikin kopi. Alhamdulillah :)

Bersepuluh!!! :D
Sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata saya masih diberi kesempatan untuk menikmati bagaimana bermimpi, berjuang untuk mewujudkan mimpi tersebut, berusaha sekuat tenaga sampai napas tinggal satu-satu, hingga akhirnya mimpi itu dapat menjadi nyata. Sekali lagi, saya makin meyakini bahwa kegiatan mendaki gunung adalah miniatur dari perjalanan kehidupan yang sebenarnya. Segala kendala yang muncul satu per satu di tiap perjalanannya, naik turun medannya yang kadang menyulitkan namun juga melenakan, usaha-usaha untuk menyamankan diri yang tidak lain adalah satu bentuk adaptasi. Tak jarang juga diri ini diberi ruang untuk menyerah. Yang belakangan saya baru paham bahwa mungkin itu adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa saya masih bisa, saya masih mampu, jika saya mau.

Rekan-rekan seperjalanan yang tentunya luar biasa memberikan semangat dan bantuan, baik yang senantiasa mendampingi secara langsung, mengiringi langkah satu persatu, maupun yang menunggu di atas hanya supaya bisa memberi semangat dengan cara lebih, dengan cara berbeda. Mas Abib, Pak Arif, Yuli, Pak Haris, Angga, Andika, dan 3 orang kawan baru lainnya. Terimakasih banyak, semuanya :">

Dengan ini, saya masih ingin kembali mendaki gunung. Mencapai tanah tertinggi, menempelkan dahi di puncak berpasir, menyelami setiap tetes hujan, menyapa pagi yang seringkali penuh sunyi, menikmati edelweiss, dengan segelas kopi susu tanpa gula, serta mie kuah yang selalu bersahabat dengan lidah walaupun seringkali membuatnya melepuh.

Cerita selanjutnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 5)

11 May 2014

Satu Suara Untuk Anies Baswedan

Beberapa hari ini saya gelisah. Tapi akhirnya kegelisahan itu menggiring saya untuk membuat tulisan ini...


image source
Saya pikir, saya sudah cukup lama mengetahui tentang keberadaan seorang Anies Baswedan, walaupun tak banyak. Saat lulus kuliah pertengahan 2011 yang lalu, saya juga sempat terpikir untuk bergabung mengikuti program yang beliau gagas, yakni Indonesia Mengajar. Tapi kemudian saya batalkan karena ternyata saya tidak serajin itu mengisi berlembar-lembar aplikasi yang menurut saya sangat rumit dan kompleks. Yapp,. saya salut pada mereka yang akhirnya lolos dan bisa mengikuti program tersebut, karena seleksi awalnya saja sudah cukup berat, apalagi selanjutnya?

30 September 2013, hari dimana saya memutuskan untuk ikut menjadi relawan #TurunTangan, sebagai bentuk dukungan saya terhadap pencalonan beliau menjadi Presiden Republik Indonesia melalu Konvensi Partai Demokrat. Segalanya kemudian menjadi menarik, yang dulunya saya mulai apatis, kini menjadi seolah terpanggil untuk sekadar mencari tahu mengenai perkembangan dunia politik saat itu --hingga kini. Namun, harus saya akui bahwa saya belum berbuat apa-apa. Hanya sesekali saja saya mengangkat nama beliau untuk menjadi bahan obrolan tengah malam dengan seorang kawan. Saya hanya memantau, membaca beritanya, menonton videonya, serta membaca tulisan-tulisan orang tentangnya yang masuk secara teratur ke email pribadi saya. Saya menyatakan turun tangan, tapi saya belum bergerak.

Mengapa demikian?

Saya sibuk, sibuk dengan kegelisahan diri sendiri. Saya tidak yakin jika melalui konvensi maka pak Anies akan bisa maju menjadi calon presiden. Saya tidak yakin partai biru berlambang mercy tersebut akan punya cukup kekuatan dan cukup suara untuk maju mencalonkan seorang Presiden. Saya juga tidak yakin bahwa akan banyak yang mengenal pak Anies, karena selama ini nama beliau 'hanya' menggaung sebatas dunia akademis saja. Para cendikiawan, mahasiswa, dosen, profesor, rektor, ilmuwan, mungkin mengenal namanya. Tapi Mama Papa saya? Saya pun meragukan itu. Kalau yang mendukung, saya yakin banyak. Karena sekali mendengar beliau berbicara, orang yang baru pertama kali mendengarnya pasti akan kagum, hal ini saya yakini sepenuhnya. Tapi, bagaimana bisa mendukung jika mengenal saja tidak?

Mungkin saya memang meremehkan beliau...

Tapi kemarin sore akhirnya saya benar-benar tergerak, untuk minimal membuat tulisan ini. Entah bagian mana yang saya lewatkan, tapi video dukungan Pandji Pragiwaksono terhadap pak Anies yang satu ini, seolah menampar saya keras keras. Saya juga heran sendiri sebenarnya, mengapa baru kemarin saya menonton video tersebut? Sedangkan video-video yang lain tidak pernah terlewat, termasuk juga tentang dagelan Boko W Empuk yang seringkali berhasil membuat saya menyeringai lebar.


Kemampuan saya menulis, hobi saya menulis, maka dari itu saya membuat tulisan ini...

Nyatanya kegelisahan saya makin menjadi mana kala hasil quick count menunjukkan Demokrat tak mencapai 10% suara. Artinya harus koalisi. Tapi dengan siapa? Seiring pengumuman real count dari KPU saja sudah banyak partai yang dengan pasti menentukan arah koalisi. Sedangkan Demokrat masih adem ayem, atau mungkin yang ingin lebih saya percayai adalah mereka telah melakukan gerilya, gerakan yang tak terbaca oleh media.


Salah satu doa yang saya haturkan via twitter. 
Terimakasih pak Anies karena masih menebarkan rasa optimis pada kami, 
yang insyaAllah akan senantiasa mendukung Bapak :)

Pada akhirnya saya membuat tulisan ini, yang dengan ini artinya saya mendeklarasikan secara jelas dukungan saya terhadap beliau. Saya masih menantikan pengumuman hasil konvensi, pengumuman arah koalisi, pengumuman calon presiden dan wakil presiden yang sudah pasti, bukan hanya sekadar opini atau kabar dari sana sini.

Dalam tulisan ini juga saya ingin menyampaikan kedongkolan saya sejak semalam, akibat acara talk show 'Satu Jam Lebih Dekat' di TVOne yang seharusnya menampilkan pak Anies sebagai bintang tamu, secara tidak terduga siarannya ditunda hingga minggu depan. Aneh, tapi masuk akal. Sangat masuk akal, dan sangat mungkin terjadi. Saya juga menjadi salah satu dari seabrek kawan relawan yang kecewa, yang sudah pasang posisi paling nyaman di depan TV, kemudian seketika di tumpas habis semangatnya.

Namun sesaat kemudian saya berpikir, kira-kira, bagaimana tanggapan Pak Anies Baswedan mengenai kejadian semalam ya?

--


Ini cara saya turun tangan. Jika sohiblogger ingin bergabung juga dan ingin mengetahui tentang Anies Baswedan lebih jauh, silakan klik disini.

Mari turun tangan, bukan hanya sekadar urun angan :)

07 May 2014

Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 3)

Cerita sebelumnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 1)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 2)

Benar yang dikatakan oleh kawan saya yang sudah pernah ke Tambora. Jalur dari Pintu Rimba sampai Pos 3 boleh dikatakan ‘belum apa-apa’. Karena selepas pos 3, track yang kami lalui hampir semuanya menanjak dengan kemiringan beranekaragam. Untungnya tongkat sakti sudah ditangan, jadi sangat membantu saat pendakian. Sebenarnya jarak dari Pos 3 dan Pos 4 tidak terlalu jauh, kisarannya sekitar 1 km saja. Namun karena tracknya yang menanjak terus, sehingga alokasi waktu yang dibutuhkan juga lebih banyak. Jika manusia biasa berjalan di jalan yang rata dan normal butuh waktu sekitar 15 menit untuk menempuh jarak 1 km, maka saat itu kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam.
Sebentar lagi sampai pos 4! :D
Ditambah lagi dari Pos 3 sampai Pos 5 banyak ditumbuhi dengan tanaman Jelatan (orang Jawa Timur/Surabaya biasa menyebutnya “Godhong Jancukan”) yang jika tersentuh sekali saja bisa menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat. Campuran antara rasa gatal dan tertusuk duri tajam. Baru sekali itu saya menemui tanaman serupa, yang ternyata tersebar cukup banyak di sepanjang kanan-kiri jalan setapak jalur pendakian. #:-S

Pos 4 (1811 mdpl), yang terletak diantara rerimbunan pohon cemara, merupakan lokasi yang sangat pas untuk beristirahat. Pos ini agak berbeda dibandingkan pos yang lain, karena selain tidak terdapatnya berugaq, Pos 4 adalah satu-satunya pos di sepanjang jalur pendakian via jalur Pancasila yang tidak memiliki sumber air. Akibatnya, sekalipun lokasinya luas dan nyaman untuk beristirahat, jarang ada yang berlama-lama di pos ini, apalagi sampai menginap. Para pendaki lebih memilih untuk menginap di Pos 5 atau di Pos 3.


Saat di Pos 4, cuaca mendadak berubah. Seketika mendung datang, dan mengakibatkan kami harus mengenakan rain coat. Kaki saya masih nyeri, namun untungnya tidak menjadi semakin parah. Setelah semuanya bersiap dan mengamankan segala barang bawaan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 5.

Balok kayu besar sejajar jalur pendakian menjadi ‘salam pembuka’ untuk perjalanan kami menuju Pos 5. Di kanan dan kiri jalur tersebut penuh dengan tanaman Jelatan yang siap menerkam mangsanya. Jadi ingat, sebelum sampai di Pos 4 tadi, kami sempat bertemu dengan rombongan lain yang turun. Mereka menyampaikan bahwa salah satu anggotanya sempat terpeleset saat melewati balok kayu raksasa itu, kemudian menjerit kesakitan karena tubuhnya menimpa tanaman Jelatan. Wuihhh.. Gak kebayang deh bagaimana sakitnya. Akhirnya, untuk melewati jalur yang sulit tersebut, saya terpaksa meminta bantuan rekan lain untuk berpegangan tangan. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, bukan?
"selamat datang..." begitu kira-kira :D
Jarak dari Pos 4 ke Pos 5 juga sama dengan Pos 3 sebenarnya, tidak terlalu jauh, namun dipenuhi dengan track-track curam yang makin licin akibat hujan. Butuh ekstra hati-hati untuk bisa melalui jalur pendakian tersebut. Pada jalur dari Pos 4 ke Pos 5 ini juga perubahan vegetasi mulai terasa. Tanaman-tanaman dataran tinggi mulai terlihat, sementara pohon cemara mulai agak renggang.

“Setelah menyusuri punggung bukit ini, akan ada sedikit turunan, kemudian kita akan sampai di Pos 5…”

Woahh,. Mendengar informasi dari teman tersebut, kami semakin bersemangat. Dan ternyata benar juga, tak jauh setelah ada turunan, kemudian kami berbelok ke arah selatan, sampai juga di tanah lapang yang tidak terlalu luas, dengan beberapa pohon disana bersematkan papan bertuliskan “Pos 5” (2066 mdpl).

Hari masih siang. Setelah mendiskusikan beberapa hal, kami akhirnya memutuskan untuk tidak menginap di Pos 5, melainkan di Pos Kuppluk, lebih di atas lagi. Apa pasal? Waktu masih banyak, tenaga masih ada, paling tidak ini adalah satu usaha untuk sedikit mendekat ke puncak, sehingga esoknya tidak akan terlalu banyak waktu yang terbuang untuk kesana. Apakah kami sepakat? Hmmm.. Tentu saja. Tak ada pilihan lain yang lebih bagus rasanya.

Para ranger mendapat tugas tambahan yakni berjalan dari Pos 5 ke Pos Kuppluk sambil membawa tiga buah jirigen berisi air untuk persediaan air kami semalaman. Mulai dari Pos 5 tersebut, kami harus menghemat air karena persedaiaannya yang terbatas. Begitu hujan mulai reda, kami langsung melanjutkan perjalanan yang katanya masih sekitar 1 jam lagi.

Selepas Pos 5, kami mulai keluar dari hutan, kemudian menelusuri lereng gunung yang cukup curam dengan vegetasi yang makin renggang, hanya didominasi oleh ilalang dan beberapa pohon cemara. Begitu jarak pandang benar-benar tak terbatas, pemandangan luar biasa langsung terpampang didepan mata. Puncak gunung Tambora sudah terlihat, lereng-lereng serta tebing lainnya disisi kanan dan kiri juga menjulang dengan megah. Saat kami berbalik badan, ternyata hujan siang itu telah mengusir segala kabut yang sebelumnya pekat, dan tampaklah laut sebelah utara pulau Sumbawa, lengkap dengan pulau Satonda dan pulau Moyo yang menjadi penghiasnya. MasyaAllah…
Yang beginian adanya ya di Indonesia!
Kehujanan membuat kami lelah dan lemas sehingga langkah kami kian lama kian gontai. Sedang beberapa bukit di depan mata masih bersiap untuk didaki. Para ranger juga mulai kelelahan dibawah, ditambah beban membawa jirigen penuh berisi air yang tentunya menghambat laju mereka. 3 orang anggota rombongan baru untungnya masih bersemangat, hingga mereka yang kala itu menggantikan tugas yang lain, membantu membawakan ransel kami yang beratnya mulai berlipat karena basah.
Shelter di Pos Kuppluk yang sudah tidak ada atapnya :-|
Akhirnya sampai juga di pos Kuppluk pada jam setengah 3 sore, yang berada di ketinggian 2384 mdpl. Pos yang terletak di tanah lapang di puncak bukit tepat sebelum lereng terjal menuju puncak gunung Tambora. Begitu sampai, hujan kembali turun. Dengan segera kami membereskan barang-barang dan mendirikan tenda sekenanya, sekadar untuk melindungi barang bawaan supaya tidak terlanjur basah semua. Tiga buah tenda berderet dengan tegak, tepat setelah hujan juga ikut berhenti. Fiuhhh… #:-S

Cuaca di pos Kuppluk sangat cepat berubah, seketika berkabut, seketika cerah, seketika hujan kecil, seketika deras. Beruntungnya, puncak tersebut menghadap ke arah barat, dan tidak terhalang sedikitpun oleh pohon serta benda-benda lain. Salah satu mimpi di masa lalu akhirnya terwujud juga: menikmati sunset di gunung. Yapp, terlalu mainstream yah rasanya kalau menikmati sunset di tepi pantai. Kali ini ceritanya berbeda, dan lagi-lagi sangat luar biasa. Alhamdulillah :)
Camp di lereng gunung :D

Sunset dan samudera langit. MasyaAllah :)

Tidak banyak rekam foto yang saya ambil. Selain karena memang ‘ada hal-hal tertentu yang lebih patut dinikmati oleh mata—saja’, saya juga terlalu sibuk dengan mainan baru yakni GPS dan Handycam. Jadilah, yang saya rekam kebanyakan momen bergerak, itupun bukan untuk pamer keindahannya, lokasinya, atau sekadar “SAYA SUDAH PERNAH KESINI LHO…,” melainkan lebih untuk memberi ruang pada otak, supaya tidak terlalu bekerja keras karena harus mengingat segala potongan kisah perjalanan itu.

Sehingga akhirnya, sepaketan mainan baru tersebut kami juluki “Paket Umrah”, lantaran satu tas kecil yang berisi handycam, GPS, kamera DSLR, serta beberapa handphone dan terkadang dititipi juga kamera pocket yang lain, jika ditotal nilainya bisa untuk melakukan ibadah Umrah. Tas kecil yang sangat berharga tentunya, yang juga berat—tidak hanya dari nilainya, melainkan juga dari beratnya yang sebenarnya :D

Malam di pos Kuppluk, dunia makin berbaik hati pada kami. Bintang gemerlap mendominasi hiasan langit malam itu. Kami berkumpul dalam satu titik, mendekat ke sumber panas, sebagai satu usaha menghangatkan diri. Sambil bercerita tentang banyak hal, dengan tiga orang anggota baru rombongan menjadi pembicara utamanya. Selepas makan malam, kami kemudian memutuskan untuk tidur, karena nantinya, sekitar jam 2 pagi, kami harus melanjutkan perjalanan menuju ke puncak.

Cerita selanjutnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 4)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 5)

03 May 2014

Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 2)

Cerita sebelumnya:
Pendakian Tambora 2014 (part 1)


Peristirahatan di Pos 2
Sebagian barang bawaan kami bongkar. Siang itu kami memasak sup sayuran dengan tambahan sosis serta ayam bakar. Menu ini memang sudah kami siapkan juga, dan sengaja kami pilih yang penyajiannya cepat karena Pos 2 ini hanya persinggahan sebelum melanjutkan ke pos berikutnya. Lagi-lagi untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya memasak nasi menggunakan nesting. Awalnya sudah khawatir kalau-kalau nasinya mentah. Dulunya sering sih masak nasi, tapi ya begitu, kadang masak kadang tidak. Hahaha… *gak bakat*. Namun akhirnya kawan-kawan bisa memaklumi, dan dua buah nesting penuh dengan nasi yang bagian atasnya masih agak mentah tersaji juga. Selamat makaaannn :D

Jam 2 siang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini rutenya dibuka dengan menyeberangi sungai kecil, kemudian langsung menanjak melewati bukit di seberang sungai. Jalannya sangat sempit, licin, juga terjal. Butuh waktu lama untuk melewati ‘sesi pembuka’ menuju Pos 3 itu.

Nyeri di kaki saya makin tidak tertahankan. Akhirnya lambat laun saya menjauh dari rombongan yang lain. Hanya ditemani seorang kawan lama yang sudah biasa juga meladeni gaya jalan saya yang seperti siput. Tapi sungguh, hari itu memang bukan karena lelah, karena jika lelah masih bisa dipaksa. Beneran sakit itu kaki sebelah kiri. Dan itu sangat menyebalkan kawan! Akhirnya saya beranikan diri saja untuk menyampaikan keadaan saya yang sebenarnya. Untungnya kawan seperjalanan saya mengerti, dan tidak memaksakan berjalan terlalu cepat.
“Yang penting naik gunung, yang penting jalan, yang penting sampai…”

Beberapa kali tanjakan dan beberapa kali dataran kami lalui, namun tak ada tanda-tanda kerapatan hutan akan berkurang. Di sisi lain, rekan yang lain sudah khawatir hari akan segera gelap. Akhirnya, saat itu salah seorang kawan memutuskan untuk menyuruh dua orang ranger dan satu orang anggota kami untuk berjalan terlebih dahulu menuju Pos 3. Setelah itu, begitu sampai, dua dari mereka diharapkan bisa kembali lagi kemudian membantu membawakan backpack/carrier kami. Oke baiklah, strategi yang cukup jitu.

Tinggal saya dan 3 orang lainnya yang masih serombongan, berjalan pelan-pelan, dengan napas yang sudah setengah-setengah. Sudah lama 3 orang yang lain menghilang, dan entah apakah mereka sudah sampai di Pos 3 atau belum.

Ditengah tingginya ilalang, akhirnya muncul juga sosok yang sejak tadi kami nantikan. Dua orang ranger, Angga dan Andika telah datang dan langsung menawarkan untuk membawakan tas kami. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan membawa ransel kecil yang sangat ringan, satu orang tetap membawa ranselnya seperti sebelumnya, satu orang lagi juga bertukar dengan ransel yang lebih kecil dan ringan, sedang satu yang lain berjalan tanpa membawa apa-apa. Otomatis hal itu mempercepat langkah kami. Hingga akhirnya, pada jam 4.30 sore, kami sampai di Pos 3 (1576 mdpl). Alhamdulillah…

Pos 3 adalah pos yang paling banyak diminati untuk menginap oleh para pendaki. Di pos ini, selain lokasinya yang cukup lapang, ada berugaq (bale-bale.red) juga yang bisa dijadikan tempat peristirahatan, juga ada sumber mata air yang letaknya sekitar 200 meter ke arah selatan pos.

Kami kemudian membongkar semua barang bawaan. Mulai mencari lokasi untuk mendirikan tenda dan membuat api unggun. Di Pos 3 ini, kami bertemu dengan dua rombongan lain yang sudah sampai terlebih dahulu. Satu diantaranya berencana akan melanjutkan perjalanan malam itu juga untuk langsung menuju puncak. Sedangkan satu rombongan yang lain yang hanya terdiri dari 3 orang, memutuskan untuk tetap tinggal dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. 3 orang ini adalah anak-anak yang baru saja melaksanakan Ujian Nasional. Jadi ceritanya, mereka melakukan pendakian untuk merayakan selesainya ujian tersebut—walaupun entah bagaimana nanti hasilnya. Kita doakan saja yah semoga mereka mendapat hasil ujian yang baik.

Dengan berbagai pertimbangan (salah satunya adalah ketersediaan tenda kami), akhirnya mereka ber 3 memutuskan untuk bergabung dengan kami. Yeayyy,. Semenjak di Pos 3, anggota rombongan kami bertambah menjadi total 10 orang. Makin ramai makin asik donk yah :D

Hasil bongkar-bongkar backpack dan carrier
Selepas makan malam dimana lagi-lagi saya bertugas memasak nasi—dan syukurnya hasilnya sudah jauh lebih baik, saya memutuskan untuk beristirahat di dalam tenda. Kaki saya masih nyeri. Seorang kawan saya minta untuk memijat kaki saya, berharap keesokan harinya kondisinya akan lebih baik.

Kebiasaan buruk saya saat menginap di gunung juga ternyata masih belum terlalu berubah. Selalu mengalami kesulitan tidur. Ditambah, malam itu ada terror kaki yang nyerinya minta ampun. Satu-satunya kondisi dimana kaki saya merasa nyaman adalah saat tidak digerakkan sama sekali. Jika digerakkan, ujung jarinya saja, nyerinya sudah luar biasa. Pikiran saya sudah kemana-mana semalaman itu. Saya sudah berpikir bahwa mungkin keesokan harinya saya sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi. Hanya ada dua opsi, apakah saya akan turun sendiri, kemudian menelepon pak Rian untuk menjemput di Pintu Rimba, atau saya tetap stay saja di Pos 3, sampai menunggu kawan-kawan saya naik ke puncak dan kembali pada keesokan harinya. Jika saya memakasakan tetap naik, saya takut nanti saat turun kaki saya sudah tidak mampu lagi digunakan, sehingga harus di gotong pakai tandu.

Saya juga mengkhawatirkan keadaan kaki saya yang sungguh tidak seperti biasanya. Saya takut kalau ternyata ini membuat saya tidak bisa mendaki gunung lagi. Saya masih punya mimpi ke Rinjani, ke puncak Cartenz. Saya juga masih ingin mengantar Mas ke Semeru, minimal ke Ranu Kumbolo. Saya masih belum ke Gede-Pangrango, juga Kerinci. Duuh,. Saya masih ingin naik gunung… :( *beneran lebay yah ini. Hahaha*

Sabtu, 19 April 2014
Saya usahakan bangun lebih pagi. Berharap saya punya waktu lebih untuk membiasakan kaki berjalan. Namun nyerinya masih juga tidak hilang. Saya paksakan untuk tetap beraktifitas seperti biasa, masak, mulai berbenah, membersihkan diri, dan lain sebagainya. Sepagian itu, baru satu orang teman yang mengetahui kondisi saya yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya saat saya berjalan, seorang kawan yang lain menanyakan keanehan cara saya berjalan.

Yes, akhirnya tidak bisa ditutupi lagi, dan saya menyampaikan semuanya, mengenai kondisi saya. Bersama yang lain, kami bersepakat untuk melihat kondisi saya nanti. Jika sampai Pos 4 ternyata makin parah, maka rombongan saat itu bersepakat untuk turun. Namun jika tidak, berarti rencana akan kembali seperti semula. Saya juga akhirnya merequest di buatkan tongkat dari kayu, untuk menopang saya berjalan. FYI saja, hal ini belum pernah saya lakukan sebelumnya. Se-lelah-lelahnya saya, saya tidak pernah menggunakan tongkat! Tapi demi hari itu, apapun akan saya lakukan. Oke, mendadak usia saya menua sekian tahun. Udah berasa nenek-nenek gitu dehhh… :))

Pose dulu di Pos 3 sebelum lanjut nanjak :D
Jam 9.30 pagi kami berangkat, melanjutkan perjalanan menuju pos 4, dan 5, untuk selanjutnya menginap disana (lagi). Keberadaan tongkat sakti cukup membuat saya percaya diri, seketika saya yakin bahwa saya akan baik-baik saja.

Cerita selanjutnya:
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 3)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 4)
Pendakian Gunung Tambora 2014 (part 5)