27 June 2014

Pecel Solo, Wisata Kuliner Sekaligus Budaya

Sebelum berangkat training (sambil liburan :D) ke Jogja, saya sudah membuat beberapa to do list dengan judul 'jogjavacationlist'. Jadi bener-bener niatnya memang liburan yaaa,.. Hihihi. Dan salah satu list yang sudah masuk sejak awal-awal adalah Pecel Solo. Sebenarnya saya tidak tau tempat macam apa itu Pecel Solo. Apakah hanya sekadar warung kecil yang jual nasi pecel super duper enak dan murah (karena jujur salah satu menu yang jarang banget saya makan di Dompu adalah nasi pecel!), atau rumah makan khas Solo atau mungkin Jawa begitu? Entahlah, pastinya si Mas sangat merekomendasikan untuk datang ke tempat tersebut. Jadilah, saya ikut juga akhirnya.

Hari Sabtu pagi menjelang siang saya berangkat meninggalkan penginapan. Naik motor menuju ke arah utara, tepatnya Jl. Monjali. Kirain lokasinya memang disana, namun ternyata masih lurus teruss sampai memasuki Jl. Palagan. Setelah itu, kami memasuki pelataran parkir cukup luas yang berada di kiri jalan. Bangunan yang sederhana berbahan kayu khas rumah jawa tempo dulu, lengkap dengan rerimbunan hijau tampak dari luar. Ohhh... Ini toh tempatnya, pikir saya.

Setelah memarkirkan motor, kami langsung masuk, disambut oleh beberapa pramusaji berseragam batik warna oranye. Jawa bangettt. Kemudian, Mas mengarahkan saya untuk memilih tempat duduk di dalam, yang lokasi agak tersembunyi jika dilihat dari luar.

Tampak dari depan

Semakin masuk ke bagian dalam rumah makan, semakin terasa suasana Jawa-nya. Seluruh arsitektur bangunan dibuat dari kayu, dengan meja kursi yang juga berdesain klasik khas tempo dulu. Belakangan, saya juga baru paham mengapa konsep yang diusung adalah Jawa kuno, karena memang jargon dari Pecel Solo ini adalah "Waroeng Tempo Doeloe".

Saya kemudian memilih sebuah meja panjang unik dengan kursi panjang di sisi kiri dan kanannya. Di meja sudah terdapat nomor meja, beberapa botol minuman, serta tusuk gigi, juga lengkap dengan taplak meja sederhana. Kenapa saya bilang unik? Karena bentuk mejanya sekilas seperti kursi pantai. Jika tak ada taplak dan botol minum, mungkin saya sudah tiduran disana :))


Selain bentuk meja semacam itu, disediakan juga meja persegi dengan jumlah kursi beranekaragam. Mulai dari dua, empat, hingga meja panjang yang di sediakan untuk tamu rombongan. Ada juga tempat makan seperti bale-bale, lengkap dengan kelambu, untuk yang pengen lesehan nih.



Menu yang di tawarkan di Pecel Solo ini ternyata tidak hanya nasi pecel. Ada juga menu lain seperti Nasi Rempah, Nasi Krawu, Nasi Tumpeng, Nasi Rames, dan lain sebagainya. Disamping itu, tersedia juga pilihan tambahan lauk untuk nasi pecelnya, seperti telur asin, telur opor, sambal goreng hati, balado teri, dan lain-lain. Kenapa ada tambahan lauknya? Karena, untuk satu porsi nasi pecel isinya 'hanya' nasi, 7 jenis sayuran, sambal kacang, serundeng (parutan kelapa yang dibumbui dan di goreng tanpa minyak), serta krupuk. Saya memilih menu nasi pecel + sambal goreng hati, sedangkan Mas pilihnya nasi pecel + telur opor. Untuk minuman, lemon tea dan es jahe satu yaaaa... *ehh

Buku menunya, dipilih dipilih dipili,... sampe udah sobek-sobek coba.. :|

Sambil menunggu pesanan datang, saya jepret-jepret sebentar. Diantara beberapa meja kursi yang didesain sedemikian rupa, ternyata ada juga kios kecil yang menjual berbagai macam cinderamata khas Jawa. Ada kain batik, topeng, patung-patung kecil, dan lain lain. Nama kiosnya lucu, Kios Klithikan. Berasa dikelitikin deh :))


Tidak butuh waktu lama, dua porsi nasi pecel porsi sedang dengan tambahan lauk plus dua gelas minuman tiba di meja kami. Pecelnya pas awal dilihat porsinya sedikiiit. Tapi ternyata pas sudah makan banyak juga. Sampe kekenyangan. Hahaha... Ternyata yang sedikit itu nasinya. Jadi, antara nasi dan sayuran jumlahnya hampir sama banyak. Kebayang donk gimana kenyangnya saya? Belum lagi ditambah porsi minuman yang juga super size. Kembung kembuh dah. Hahahah :D

nasi pecel + sambal goreng hati
nasi pecel + telur opor

es jahe dan lemon tea. Slamat makaaann :D
Mengenai rasa, hmmmm,.. pecelnya lumayan enak. Sambal gorengnya juga, enak bangettt, bumbunya kerasa. Walopun sambal kacangnya di lidah saya agak terlalu manis. Yang saya suka juga, sayurnya ada 7 macam dan itu enaaakkkk, sukak banget kalo pecel sayurannya banyak gitu. Ada daun bayam, kangkung, pepaya, singkong, tauge, mmmmhh,.. dua lagi apa yaaa?? Lupa deh. Pramusajinya nyebutin sekali doank soalnya, jadi gak ingat. :D

Pas kami selesai makan, baru deh tuh banyak rombongan yang lain datang juga. Sebelumnya sepiiii banget. Sesaat kami baru nyadar kalau jam makan kami yang aneh. Makan pagi sudah telat, makan siang juga belum waktunya. :))

Jangan khawatir dengan iringan musik. Non stop deh ini para pemain gamelan dan sindennya nyanyi. Adem banget dengerinnya :)
 

Kata Mas ini kalungnya Petruk. Hiasan ini tersebar di berbagai sudut rumah makan

Selesai makan, gak mau langsung pulang juga donk ya. Saya pede aja gitu bawa kamera terus keliling-keliling lokasi rumah makan. Ternyata lokasinya luaaasss banget, dan masih banyak meja kursi untuk pengunjung yang berada di gedung bagian dalam restoran. Pas sampai di belakang, ternyata ada juga kolam kecil yang bersebelahan dengan kamar mandi dan musholla. Mungkin awalnya modus pengen cobain kamar mandinya ya, tapi berhubung sudah dhuhur juga, jadi sekalian deh kami memutuskan untuk sholat. Dan ini murni iseng, saya bawa deh itu kamera ke kamar mandi dan ambil gambar beberapa interiornya :D

Teteup yah, kloset duduk :))

Pintu begini hanya ada di rumah tempo dulu

Oke baiklah, itu saja hasil reportase saya ke Pecel Solo. Kapan-kapan mau deh balik kesana lagi, ngajakin Mama sama Papa ato yang lainnya, juga Dhe yang sering banget ke Jogja tapi belum pernah ke Pecel Solo :p . Walopun harganya agak mahal (saya makan berdua ama Mas kemarin habisnya sekitar 70ribu-an), tapi kan selain wisata kuliner, kita juga bisa berwisata budaya. ;)

Alamat lengkap Pecel Solo:
Jl. Palagan Tentara Pelajar no. 52
Sleman - Yogyakarta
Telp. 0274866588

25 June 2014

NEO Pinhole Camera: Edisi Kotak Kayu

Masih edisi oleh-oleh dari Jogja... :D

Sehari setelah sampai di Jogja, ceritanya kan ada yang ngapel tuh (ihhikk, cieee cieee) ke hotel lokasi saya training. Nah, tau-tau saya di kasih satu benda, kotak persegi panjang, keras, di bungkus tas plastik hitam. Penasaran aja, langsung deh saya buka. Ternyata, tadaaaaaaaaaaaaaaaa.... dapat kamera lubang jarum kece --yang masih berlabel kotak kayu berbahan jati.

Butuh sekian menit untuk mengamati itu kotak kayu, merhatiin setiap sudutnya, sisinya, bukain penutup bagian belakangnya, gerakin shutter release-nya, dan lain sebagainya. Sampai akhirnya saya berkomentar, "Bagus bangett..." :"> :-bd

 


Sebenarnya, saya lebih memilih untuk melabeli benda ini sebagai 'kotak kayu' dari pada kamera lubang jarum. Karena setelah puas mengamati detailnya, saya menyadari bahwa masih ada banyak PR yang harus saya kerjakan sehingga kotak kayu tersebut bisa disulap menjadi kamera. Bikin lensanya dari kaleng bekas (plus adegan amplas-meng-amplas yang lumayan ribet), menutupi seluruh bagian dalam kotak kayu dengan warna hitam, karena yang saat ini masih berupa warna asli kayu jati, mencari roll film bekas untuk tempat berputar filmnya nanti, serta merakitnya juga dengan roll film baru yang sepertinya masih ada stocknya satu biji.

Saya beruntung, saaaaangat beruntung karena masih kebagian kotak-kayu-NEO-pinhole-camera-wanna-be ini. Kalau ada yang mau juga, boleh donk langsung kontak penggagasnya, Arie Haryana. Bisa via facebook, twitter, path, blog, daan lain sebagianya (ga perlu juga donk saya cantumin nomor hp nya disini? Bukan ajang cari jodoh juga..) :))

Namun sayang seribu kali sayang, karena teman-teman harus bersabar dan masuk di daftar tunggu. Stocknya udah abiiss. 50 buah NEO Pinhole Camera siap pakai yang di rilis pada 16 Juni 2014 kemarin sudah ludesss dalam waktu 24 jam. Muahahahaha... ini yang juga membuat saya merasa sangat beruntung. Tidak hanya karena dapat mainan kamera lubang jarum baru, tapi saya juga dapat edisi pertama terbatas dan yang terpenting adalah: GRATIS!!! >:)

Sambil mensyukuri segalanya, jadi teringat kembali tentang proses pembuatan kotak kayu ini yang membutuhkan waktu lumayan lama. Mojok di kios es krim alun-alun selatan Jogja, cari makan tengah malam sambil hujan-hujanan. Dua hari di Jogja yang full banget jadwalnya dari pagi sampe malam. Beberapa bulan berikutnya juga. Berkali-kali revisi, orang-orangnya yang juga sibuk dengan urusan masing-masing yang juga gak kalah pentingnya. Motong-motong itu kayu yang harus pake laser gegara butuh ketelitian sampe sekian milimeter. Tapi alhamdulillah, akhirnya sukses juga proyek ini. Hemmmm... Seneng banget pasti lah yaaaa :">

Semoga versi kedua dan seterusnya bisa segera di rilis. Tapi, masa' iya saya kudu ke Jogja lagi? Beraaatt euiyy, berat di ongkos maksudnyah. Saya mah doyan aja kalo jalan terussss :))

-salam lima jari-

23 June 2014

Tugu Yogyakarta

Sekilas tentang Tugu Yogyakarta,
Tugu Yogyakarta adalah sebuah tugu atau monumen yang sering dipakai sebagai simbol atau lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwono I, pendiri kraton Yogyakarta. Tugu yang terletak di perempatan jalan Jenderal Sudirman dan jalan Pangeran Mangkubumi ini mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi.

Pada saat meditasi, konon sultan Yogyakarta menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap ke puncak Gunung Merapi.

Tugu Yogyakarta merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Yogyakarta, dan sering dikenal dengan istilah "Tugu Pal Putih" (pal juga berarti tugu), karena warna cat yang digunakan sejak dulu adalah warna putih. Tugu pal ini berbentuk bulat panjang dengan bola kecil dan ujung yang runcing di bagian atasnya. Dari kraton Yogyakarta kalau kita melihat ke arah utara, maka kita akan menemukan bahwa jalan Malioboro, jalan Mangkubimu, Tugu, dan jalan Monumen Yogya Kembali akan membentuk satu garus lurus persis dengan arah ke puncak Gunung Merapi. (sumber: wikipedia)



Kenapa saya tiba-tiba posting tentang Tugu Yogyakarta?

Jawabannya adalah karena sudah sejak lama saya berhasrat untuk mengambil gambar tugu ini, namun dalam beberapa kesempatan ke Jogja, baru kemarin tanggal 18 Juni 2014 jam 12 malam lebih sekian menit saya berhasil mewujudkannya. Yapp,. monumen yang menjadi simbol Jogja, yang hingga tengah malam pun masih ramai dijadikan tempat nongkrong sambil foto-foto para wisatawan ini merupakan obyek menarik untuk diambil gambarnya. Walopun saya tidak yakin yang berada disana adalah wisatawan asing (dari luar kota maksudnyah). Kayaknya yang sering nongkrong disana ya orang Jogja sendiri deh, atau, mahasiswa/pelajar/pekerja yang datang dari luar kota namun sudah berdomisili di Jogja untuk sekian lama :D

Selain itu, sebenarnya ada hasrat terpendam untuk 'bersaing' hasil foto Tugu Yogyakarta sama Arie dan om Tyo. Mereka sudah duluan mendapat kesempatan mengambil gambar tugu ini sejak lama. Jadi, kalo sekarang, boleh juga donk gantian saya yang pamer? B-)

ini jepretan saya. captionnya, "Tugu Jogja Dijual???" :))

Ini jepretan om Tyo
Ini jepretan Arie

Berbekal meja pedagang kaki lima yang (sepertinya) sedang tidak dipakai, saya mengambil gambar ini. Butuh beberapa kali jepretan dengan tiap jepretnya membutuhkan waktu sekitar 20-30 detik. Belum lagi loading saat penyimpanan gambar, membuat perjuangan mengambil gambar ini lumayan berat juga. Beruntungnya tengah malam itu masih ada beberapa kendaraan berseliweran, sehingga efek light panting-nya juga masih dapat. Walopun gak bisa se-ramai punya Arie dan se-high angle seperti punya om Tyo. Huuhuuuu... #:-S

12 June 2014

Liburan (lagi)

picture source
Nggak nyangka aja kalo bakal libur (baca: sambil kerja maksudnya yah :D) agak panjang bulan Juni ini. Memang sejak lama sudah berencana libur dalam rangka hajatan keluarga di rumah Gresik, hanya sekitar satu sampai dua hari saja. Tapi ternyata, tadaaaaaaaaaaaaaaaaaa... dapat kejutan sekitar satu bulan yang lalu. Bulan ini, tepatnya tanggal 16-19 Juni 2014 bakal ada training di Jogja yang artinya juga adalah: LIBURAN! >:)

Harap maklum yah, lokasi kerja yang jauh banget di pelosok membuat momen training atau workshop dan semacamnya menjadi satu hiburan tersendiri yang tentunya ditunggu setiap waktu. Yapp, maunya workshop terus, training terus, tiap bulan kalo perlu :)). Karena kalo gak dalam rangka beginian, gak bakal deh itu dapat kesempatan keluar kota, keluar pulau, keluar propinsi. Apalagi dengan biaya yang super duper whaowww. Kayaknya emang lebih murah naik pesawat ke negeri tetangga daripada ke pelosok negeri sendiri. Hemmmm... #:-S

Oke baiklah. Mulai hari ini (Kamis 12.06.2014) sampai minggu depannya (Minggu 22.06.2014) insyaAllah saya akan ada di jalan terus dengan rute Dompu-Bima-Denpasar-Gresik-Surabaya-Yogyakarta-Denpasar-Bima-Dompu. Istirahat sejenak untuk bloggingnyahh. Doakan perjalanan saya lancar, dapat banyak ilmu, serta (tentunya) banyak acara plus foto jalan-jalannya buat dipamerin di popcorn. Hihihi... :D

--sepertinya saat postingan ini terbit, sayaaa,.. mmmh, lagi bengong di bandara Ngurah Rai Denpasar, sambil nunggu penerbangan berikutnya ke Surabaya... I-)

11 June 2014

Tempat Menarik di Bandung

Kata "Bandung" datang dari kata bendung atau bendungan lantaran terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang dikisahkan oleh beberapa orang tua di Bandung menyampaikan bahwasanya nama "Bandung" di ambil dari suatu kendaraan air yang terbagi dalam dua perahu yang diikat berdampingan. Yang dimaksud perahu bandung adalah yang dipakai oleh Bupati Bandung, R. A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menukar ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Menurut filosofi Sunda, kata "Bandung" datang dari kalimat "Nga-Bandung-an Banda Indung", yang disebut kalimat sakral serta mulia lantaran memiliki kandungan nilai ajaran Sunda. Nga-"Bandung"-an berarti melihat atau bersaksi. "Banda" yaitu semua suatu hal yang ada di alam hidup yakni di bumi serta atmosfer, baik makhluk hidup ataupun benda mati. "Indung" yaitu Bumi, dimaksud juga untuk "Ibu Pertiwi" tempat "Banda" ada. Dari Bumi-lah seluruhnya dilahirkan ke alam hidup untuk "Banda". Semua sesuatu yang ada di alam hidup yaitu "Banda Indung", yakni Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia serta semua isi perut bumi. Langit yang ada diluar atmosfir yaitu tempat yang melihat, "Nu Nga-Bandung-an". Yang dikatakan sebagai Wasa atau Sanghyang Wisesa, yang berkuasa di langit tiada batas serta semua alam semesta terhitung Bumi. Jadi kata Bandung memiliki nilai filosofis untuk alam tempat semua makhluk hidup ataupun benda mati yang lahir serta tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.

Kota Bandung secara geografis memanglah tampak dikelilingi oleh pegunungan, serta ini tunjukkan bahwasanya pada masa lalu kota Bandung memang adalah suatu telaga atau danau. Legenda Sangkuriang adalah legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, serta bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana juga keringnya danau Bandung hingga meninggalkan cekungan seperti saat ini. Air dari danau Bandung menurut legenda itu kering lantaran mengalir lewat suatu gua yang bernama Sangkyang Tikoro.

Tempat Menarik Di Bandung
 
Sejarah situ patengan (foto koleksi pribadi)
Situ Patenggang (Situ Patengan). Di sini beberapa pengunjung dapat selalu mengingat indahnya alam yang dipunyai wisata Situ Patenggang. Luas lokasi wisata ini kurang lebih mencapai 60 hektar dengan keindahan alam yang asri di sekelilingnya, seperti area perkebunan teh Rancabali yang menghampar demikian luas beserta lokasi rimba pinus, serta cagar alam Patenggang yang tetap demikian sejuk.

Salah satu view Situ Patenggang yang eksotik (foto koleksi pribadi)
Gedung Sate. Terletak di Jl Diponegoro Kota Bandungelah, Gedung Sate sudah berdiri sejak 27 Juli 1920. Pada awal dibangunnya, gedung sate ini bernama "Gouvernements Bedrijven" yang didirikan dengan tujuan sebagai pusat pemerintahan Belanda, lantaran pemerintahan Belanda telah menetapakan Kota Bandung sebagai ibu kota dari jajahan Belanda.

Gedung Sate di malam hari (foto koleksi pribadi)
Hotel Murah Di Bandung
Hotel murah identik dengan traveler yang ingin hemat serta tidak keluar biaya banyak, di bawah ini saya informasikan beberapa daftar hotel murah di bandung :

Savoy Homann Bidakara Hotel
alamat: Jl. Asia Afrika No. 112 Bandung, Indonesia
telp: +62 22 4232244
website: savoyhomann-hotel.com
e-mail: info@savoyhomann-hotel.com

Grand Seriti Boutique Hotel
alamat: Jl. Hegarmanah No. 9-15 Bandung, Indonesia.
tlp: +62 22 2041680
website: www.grand-seriti.com
e-mail: reservation@grand-seriti.com

Banana Inn Hotel & Spa
alamat: Jl. Setiabudhi No. 191 Bandung, Indonesia
tlp: +62 22 2005479
website: www.banana-inn.com
e-mail: book@banana-inn.com

Tips Booking Hotel Di Bandung

Bikin Profile atau Anggota. Bikin profile atau anggota yaitu langkah mudah untuk mempercepat sistem pemesanan hotel. Langkah tersebut dapat menghidarkan Anda dari kemungkinan kekeliruan mengisi data apabila tidak berhasil dalam pengiriman. Umumnya sarana profile atau anggota ini telah disiapkan dengan cara gratis terutama apabila Anda memakai layanan agen travel on-line. Transaksi dengan cara on-line umumnya memakai e-mail, misalnya untuk mengirim elektronik voucher hotel. Cukup pastikan saja bahwa Anda memakai e-mail yang kerap Anda gunakan.