26 September 2014

Random Post: Social Media

picture source
Semalam saya telponan dengan seorang blogger, yang katanya udah lama gak update blog. Jadi masih boleh disebut blogger gitu? *ups :-p

Membicarakan banyak hal, yang tentunya berkaitan dengan media sosial, bahasan yang tidak pernah absen setiap kali saya berkomunikasi  dengannya, entah lewat telpon, skype, atau chat di whatsapp. Karena social media-lah yang pada akhirnya mengakrabkan kami --dan yang juga kemudian menjauhkan beberapa kawan di dunia nyata lainnya.

Sekitar dua tahun yang lalu, adalah saat dimana saya sangat aktif di dunia maya. Baik itu twitter, facebook, dan terutama blog. Ada banyak grup blogger dimana saya bergabung didalamnya. Twitter juga tidak pernah berhenti dari mention, bahkan sempat beberapa kali tidak berfungsi karena overload, jadi harus mengistirahatkannya sejenak untuk bisa ngetuit lagi. Gila ya... :D

Lho, jadi tulisan ini maksudnya apa? Nostalgia?

Hahahha.. Nggak juga. Tapi bisa jadi iya. Sejak semalam telponan sama seorang kawan tersebut, jadi teringat lagi momen yang dulu-dulu. Seperti selayaknya masa lalu, yang selalu menyenangkan untuk dikenang, namun jika ditawari untuk mengulang lagi, saya pun tidak yakin akan mengiyakannya. Aneh.

Di social media, bener banget kalo kita bisa dapat banyak teman, banyak sahabat, sampe akrab banget, bahkan ada juga yang katanya berhasil menemukan belahan jiwa. Eaaaaa... Saya nulis ini sambil nyengir-nyengir. Entah kenapa. Ada yang tau??? :))

Namun semudah mendapatkannya, menghancurkannya pun hanya butuh sekejap mata.

Pada akhirnya hanya tinggal beberapa yang tersisa. Yang masih suka telpon dan chat di whatsapp, yang sehari-hari mengobrol via skype, yang masih aktif blogging dan berbalas komentar, atau menanggapi kicauan-kicauan gak jelas dari saya, serta yang gak lupa mengundang via facebook dalam acara pernikahannya. Hmmm,..

Saya sudah keluar dari semua grup blogger, segala banner di popcorn juga sudah saya copot. Semua full personal, jadi makin tersedia banyak ruang untuk bernarsis ria!

Anyway, sampai saat ini saya masih yakin bahwa narsis adalah nenek moyangnya selfie. Walaupun gak ngerti juga gimana ceritanya bisa berubah istilah jauh banget gitu. Hahahaha...

Jadi, masih ngeblog? Harus donk. Domain popcorn sudah diperpanjang sampai 2016. Mungkin nanti mau sekalian 5 atau 10 tahun perpanjangnya biar gak capek tiap tahun diperbaharui. Kalau twitter dan facebook jujur sekarang sudah mulai jarang diupdate, apalagi di tongkrongi. Path? Emmmh,. keberatan di Walky, jadi sudah saya uninstall. Dan lain-lain juga sepertinya cuma sepintas lalu. Hanya si popcorn yang masih konsisten saya sambangi hingga saat ini.

Yowes, sekian random post kali ini. Kategori 'intermezzo' dapat tambahan juga akhirnya, setelah dianggurin sekian lama. :D

Tetap ngeblog yah, temans!

Note: Ada yang nanya gak kenapa update di popcorn agak lambat belakangan ini? Kalo ga ada yaudah gapapa. :| Tapi kalo ada, saya cuma mau bilang, sekarang lagi asik baca komik online. Udah sampai chapter 39, tapi masih ada seratusan chapter lagi. Saat capek baca buku, baca komik ternyata cukup membantu. Yang penting baca, gak mengistirahatkan otak begitu saja. Okesip. See you :-*

17 September 2014

Karya Kedua

Pasca ikut acara Workshop Kamera Lubang Jarum sekitar satu tahun yang lalu di Jakarta, saya jadi kepincut sama yang namanya kamera lubang jarum. Tak lupa, sebelum pulang dari sana sambil membawa bekal sebuah kamera kaleng dan beberapa lembar karya pertama saya, saya juga mencuri sedikit tips dan trik bagaimana cara membuat kamera lubang jarum sendiri. Benar-benar sendiri! Bisa dari kardus, kayu, papan triplek, stoples bekas, batok kelapa, kaleng kripik, dan lain sebagainya. Tapi sebagai awam, tentunya maunya saya gak seribet itu lah ya.

Nyatanya, prinsip 'Membuat Bukan Membeli' tidak bisa saya ikuti sepenuhnya. Berkali-kali mencoba mencari bahan bekas yang bisa digunakan, tapi tidak juga saya temukan. Mungkin jiwa kreatif saya tidak setinggi para penggiat kamera lubang jarum lainnya, atau memang sayanya aja yang malas mikir. Bakalan terlalu banyak modifikasi dan lain sebagainya kalau pakai barang yang sudah jadi. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli semua bahan. Minimal bahannya saya beli dalam bentuk mentah, dan saya merakitnya sendiri.

Daftar belanja saya serahkan ke teman, berhubung ada beberapa 'perkakas' yang mungkin rasanya bakal aneh kalau perempuan yang beli *sebut saya malas!, disamping saya juga gak tau bisa dapat barang-barang itu dimana *udah malas, bohong pula. Hahha... :))

Setelah istirahat siang pada suatu hari itu, akhirnya pesanan saya datang. Satu buah kertas karton ukuran 60x80 cm *yang ternyata gede banget, dua lembar amplas halus, satu gulung lakban hitam besar, serta satu kaleng fanta merah. Saya bukan lagi penggila minuman kaleng, hingga butuh kalengnya aja sampe harus maksa teman-teman habiskan minuman itu sampe bersih. >:)

Beruntungnya, di kantor ada sekitar lima buah roll film baru yang sudah expired. Saksi bisu peralihan dunia analog ke digital. Fufufufu... bagian termahal dari kamera ini bisa saya dapat dengan gratis. Kurang beruntung apa coba?

Mulailah merakit. Bagian tersulit adalah karena saya belum pernah tau berapa panjang minimal sebuah kamera agar roll film berputar dengan tepat tanpa menindih hasil rekam sebelumnya atau membuang terlalu banyak space kosong untuk hasil rekam sesudahnya. Bingung? Sama! :)) Selain itu, saya baru tau kalo roll film merk fujifilm tidak bisa dengan mudah dibuka bagian dalamnya untuk diputar kepalanya dan dijadikan tempat menyimpan film yang sudah digunakan untuk mengambil gambar. Seriously, bagian ini saya butuh tank, obeng, dan cukup banyak tenaga. #:-S

Saya ingat, pembuatan kamera yang pertama saya gagal total karena salah hitung panjang penutup bagian atasnya. Yang kedua gak boleh salah donk yah. Dan akhirnya, tadaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... Jadi! Kamera lubang jarum dari karton yang bagian luar saya bungkus pakai lakban supaya jadi hitam semua itu pun siap dipakai. Yayyyy.. *dancing :))

Foto ini baru saya ambil kemarin. Kondisi kameranya sudah gak karuan, beda dengan saat baru jadi dulu. Kamera ini sudah saya bongkar untuk mengambil roll filmnya, dan sekarang cuma nganggur aja jadi kotak kardus tak bertuan :D

Pada kenyataannya, saya hanya menggunakan kamera itu beberapa kali, beberapa jepretan saja. Gak ada teman untuk diajakin hunting bareng, jadi gak seru aja gitu sibuk sendiri. Dan lagi, ternyata emang beda rasanya saat menggunakan media rekam kertas foto emulsi dengan media rekam roll film. Kalo pakai kertas foto, seperti di karya pertama saya, kita bisa lihat langsung hasilnya bagaimana, apa kekurangannya, dan langsung bisa diperbaiki. Nah kalo roll film tentunya gak bisa donk. Kita harus habiskan semuanya dulu, baru di cuci-scan atau cuci-cetak, baru deh ketahuan hasilnya gimana.

Ada yang bilang kertas foto lebih enak, ada yang bilang roll film lebih enak. Macem-macem lahhh...

Oia, mau tau hasilnya? Sebentar dulu. Ini cuci-cetaknya di Jogja loh. Jauh bangettt!!!. Hahaha... Efek di Dompu udah gak ada tempat untuk cuci roll film, jadinya harus minta tolong deh sama si Mas untuk nyucikan. Sekali cuci-scan biayanya sekitar 30ribu rupiah, di toko Central Photo Colour Lab. Dulunya alamatnya di Jl. Solo, tapi sekarang nama jalannya sudah diganti jadi Jl. Urip Sumoharjo. Kasiaaan kemarin yang nyari toko itu di Jl. Solo, sampe keluar ring road trus hampir ke bandara gegara salah alamat. Dudududuu... :))

Ternyata eh ternyata, roll film itu isinya cuma 6 foto!!! Hahaha... Ampun deh. Meleset sebiji dari perkiraan. Awalnya saya kira isinya 7 foto, ternyata cuma 6. Dan sisanya 30 roll terpaksa harus terbuang. Biar dah, saya juga sudah terlanjur penasaran dengan hasilnya. Minimal itu sebagai pelajaran dan juga pengorbanan yang mungkin harus saya lakukan. Roll film selanjutnya harus terisi penuh ya!

Dan inilah hasilnya...

Security kantor. Wajahnya kepotong, kasian si Bapak *hiks :(
Ruang kegiatan pelatihan di Dompu
Disket, hasil bersih-bersih di kantor. Sukak dengan warnanya, dan lagi-lagi bagian atas terpotong. Gak keren banget saya! :(
BBnya teman. Dari sekian banyak, ini foto hasil yang paling saya suka. Lebih dari 15 menit ngambil gambarnya
Security yang satu lagi. Kali ini wajahnya terselamatkan :D
Ini kantor tempat saya bekerja di Dompu. Burem ya? Akibat lubang jarumnya terlalu besar, jadi gambarnya tidak bisa fokus :|

Penilaian pribadi saya: agak kecewa. Atau mungkin kecewa berat??? Ntahlah... Bingung. Hihi... Banyak hal yang masih harus saya pelajari, saya benahi. Sudut pengambilan gambar, proses perakitan yang belum sepenuhnya tepat, dan lain sebagainya. Mungkin juga ada faktor penggunaan roll film yang sudah expired, jadi hasil fotonya warnanya agak gak jelas gitu, atau istilah kerennya false color.

Tapi saya cukup menghargai prosesnya, dari awal saya bikin, belanja perkakas, salah ukur, gunting-gunting, potong-potong, hitung-hitung, melukis bagian dalam kamera pake spidol hitam, bla bla bla. Momen waktu ambil gambarnya juga, paksa bapak security di kantor untuk berdiam diri selama beberapa detik *jadi model*, pinjam handphone teman untuk jadi model, yang efeknya hp itu harus dianggurin selama 15 menitan, dan lain sebagainya. Bohong kalo saya bilang semua itu gak seru.

Main kamera lubang jarum itu menyenangkan. Dan saya ingin juga menekuninya. Walaupun bukan untuk rutinitas, dan bukan juga hobi karena tidak selalu jadi pilihan pertama saya dalam mengisi waktu luang.

Perkenalkan, ini si Neo :D

Project roll film yang kedua sudah dimulai, pake si Neo, yang kemarin sudah selesai saya rakit juga. Lupa sudah terpakai berapa jepretan. Tapi sepertinya masih belum banyak juga. Semoga bisa habis, dan hasilnya jauh lebih baik daripada 6 foto diatas, terutama masalah perhitungan ukuran objek dengan jarak kamera serta sudut pengambilan gambar. Plus, si Neo udah saya usahakan sedemikian rupa supaya lubang jarumnya bisa jauh lebih kecil, biar gambarnya juga bisa tajam. Sipp deh. :D

-salam lima jari-

15 September 2014

Mbak, Tips Nulis Menarik Donk...?

*note: postingan ini sudah bertengger di draft popcorn sejak bulan Oktober 2013. Hampir satu tahun yang lalu, dan saya ingin menyelesaikan secepatnya.

Jadi, sekitar satu tahun yang lalu (dibuat gampang gitu aja yah), saya menerima mention di akun twitter saya. Isinya gini:
"Mbak, tips nulis menarik donk? I need it :-p" 
Singkat, padat, jelas, dan pastinya tidak lebih dari seratusempatpuluh karakter. Mention dari seorang adek yang saat ini sedang merantau di kota yang (mungkin) sedang saya rindukan. Yang saya tau dia baru memulai untuk masuk dunia blogger pada saat itu. Entah sekarang, masih lanjut ato jadi galo lantaran pertanyaannya belum saya jawab-jawab :))

Oke baiklah, mari kita serius. *mikir :-?

picture source
Kemudian saya iseng aja browsing dengan keywords "tips nulis menarik". Ketemu sih beberapa postingan di blog atau artikel macam itu. Tapi semuanya standar. Padahal kalo kaitannya dengan blog, saya lebih suka hal-hal yang sifatnya personal. Ada sentuhan subyektif yang harusnya lebih kuat, sehingga bisa jadi mematahkan stigma yang selama ini ada tentang bagaimana cara menulis yang baik dan/atau menarik.

Jujur aja sebenarnya gak ada rumus khusus sih. Karena menurut yang saya alami sendiri, segala sesuatu yang kita tekuni dengan sangat dan terus menerus, rasanya akan membawa diri kita menjadi 'ahli' dalam bidang tersebut. Termasuk menulis ini.

Cara menilai yang paling gampang, coba aja lihat postingan di blog ini, atau di blog teman-teman yang lain yang sudah ngeblog sekitar lebih dari 3 tahun. Bandingkan. Kontennya, cara penulisannya, pemilihan katanya, penempatan fotonya, judul-judulnya, dan lain sebagainya. Trust me, kita semua sedang dalam proses menjadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Mengapa begitu? Yaaa karena itu memang sudah fitrahnya manusia untuk senantiasa belajar dan menjadi lebih lebih dan lebih baik lagi.

Oia, ngomongin soal menarik, biasanya ada nih yang sok-sokan nentukan kriteria. Nah sekarang, yuk mari coba kita sebutkan satu-satu. Menurut yang pernah saya tau, mmmmhh,.. apa yaa... kalo gak salah... mmmmh... yang mana ya... *dan kemudian bingung. #:-S

Ditengah kegalauan saya menentukan apa kriteria dari tulisan yang menarik, saya kemudian menemukan satu artikel yang berjudul "Antara Tulisan Penting dan Tulisan Menarik". Saya hanya membaca isinya sekilas saja, tapi kemudian saya seolah menemukan sesuatu di bagian kolom komentarnya,

picture source
Saya ingin bilang kalo komennya itu bener banget, dan jawaban dari komen itu juga sama benernya. Gak ada yang salah. Ini subyektif? Bodo amat, kan tulisan saya. Hehhe...

Intinya semua hal balik lagi ke tujuan. Seperti kalau mau traveling, tujuanlah yang akhirnya punya peran penting untuk menentukan mau naik apa, nginap dimana, biaya berapa, perlu cuti kerja berapa hari, enaknya pergi sama siapa, bawa apa aja, dan lain sebagainya. Menulis pun, tujuan yang pada akhirnya menentukan gaya penulisan kita apa, ngejar traffic blog atau tidak, mau pakai aku atau saya, perlu perhatikan titik koma kah, bahasannya apa, curhat aja ato informasi berharga, dan lain sebagainya.

Saya ingin mengutip beberapa kata yang pernah saya tuliskan di akun twitter saya, @aarmaee *promosi gilak!, tentang kegalauan hati sebagai seorang blogger personal,
Blog itu, tentang sebuah passion, tentang sesuatu yang sifatnya personal
Sayang aja rasanya blog dipakai untuk menulis hal-hal yang isinya terlalu informatif, tanpa ada sentuhan personal sama sekali
Semacam, gak ada beda dengan saat saya membaca portal berita
Demi supaya traffic naik, alexa ramping, page rank menjulang?
Jika memang begitu, lupakan saja blogmu, daftar jadi penulis lepas di website/portal berita, atau jadi freelance journalist mungkin
Rada' ekstrem ya? Gapapa deh, namanya aja lagi galau. Hihi... Twit itu sengaja saya kicaukan saat saya melihat beberapa rekan blogger membuat postingan yang, menurut saya maunya isinya sifatnya informatif, tapi informasinya kosong. Maksud saya, gak ada hal khusus yang akhirnya saya dapat, semua tulisan disana tidak ada bedanya dengan artikel yang lain. Pun juga gaya bahasanya yang mungkin terlalu datar. Ya itu tadi maksudnya, kehilangan sentuhan personal *istilah yang saya buat sendiri.

Anyway, makasi banyak buat Heningkara, blognya mbak Ria, Una, Beby, Kei, Arif, Pungky, Aul, Keven, Uchank, mbak Isti, kak Budi, dan lainnya yang selalu konsisten dengan sisi personalnya, serta blog mas Ario yang walopun informatif tapi tetep asik dibaca, mas Andy yang tulisannya whaow, selalu mengangkat tema-tema sosial yang penyampaiannya bisa sampe menusuk banget.

So, are you proud to be a personal blogger? ;)
Lho lho, jadi tips nulis menarik-nya apa donk?
...
Entah :D

12 September 2014

Grand Zuri Malioboro Yogyakarta

Dalam hati saya berpikir, percuma numpuk foto hotel banyak kali di harddisk greys, tapi gak pernah ditulis reviewnya. Yasudah, jadi anggap ini adalah satu bentuk usaha untuk mengurangi beban di laptop, dan mengalihkannya ke picasa google. >:)

 Menginap di Grand Zuri Malioboro Yogyakarta saya lakoni dalam kesempatan training Emergency Response Team bulan Juni 2014 kemarin. Total lima malam saya menginap disana, dan hampir saja tidak ada kesempatan untuk foto-foto berbagai spot unik di hotel tersebut lantaran kegiatan yang cukup padat, plus agenda jalan-jalan yang tentunya tidak ingin dilewatkan setiap malam. Saya rela tidur hanya 4-5 jam tiap malamnya, asal bisa keliling Jogja juga. Hehehe...

Baiklah. Jadi, Grand Zuri hotel ini lokasinya di Jl. Mangkubumi, yang merupakan salah satu jalan protokol di Yogyakarta, yang juga merupakan penghubung antara Jl. Malioboro (via jalan kaki) serta stasiun Tugu Yogyakarta, dengan Tugu Pal Putih Yogyakarta. Beruntungnya saya memutuskan naik kereta dari Surabaya ke Yogyakarta, karena efeknya adalah, dari stasiun tugu ke hotel ini cukup jalan kaki sambil geret travel bag. Persis macam kesebelasan Spanyol yang angkat koper di babak penyisihan World Cup 2014 kemarin *hiks!

 
Begitu masuk hotel, langsung ketemu lobby donk yah, dan security yang super ramah serta siap sedia 24 jam ngebukain pintu. :D Urusan di resepsionis juga gak terlalu ribet karena sudah diurus semua oleh kantor. Begitu selesai, saya langsung menuju ke lantai 3, karena saya menginap di kamar 333. Rekan sekamar sudah tiba terlebih dahulu ternyata.

Keluar dari lift di lantai 3, saya langsung berhadapan dengan ruang gym. Lorong sepi yang agak gelap juga sempat bikin ngeri, tapi tetep aja semangat foto-foto. Mmmmh, sudah pernah saya bilang kalo sekarang saya sukak banget ambil gambar lorong hotel? Entah kenapa efek perspektifnya memberikan kesan ilusi optik tersendiri buat saya.


Saya menginap di kamar standar dengan twin single bed. Kamarnya tidak terlalu luas, tapi tetap ada meja kursi-nya, lemari es yang entah kenapa terkunci dan kami tidak tau juga dimana letak kuncinya, serta sofa kecil (entah tepat atau tidak saya menyebutnya sofa), brankas, serta tempat gantungan baju. Standar. Sangat standar. Tidak semewah tampilannya saat di lobby. Hoho... B-)

 
 

Kamar mandinya ini yang saya sukaaaaaaaaaakk banget. Gak terlalu luas tapi semua perabotannya tertata dengan rapi dan cukup diperhitungkan. Termasuk penempatan tissue toilet yang kadang aneh dan gak memperhitungkan kenyaman pengguna yang biasanya saya temui di hotel lain. Terus, cerminnya gede bangeeeettt. Ini juga salah satu hal yang saya pengen ada kalo nanti punya rumah sendiri. Meja washtafel serta cermin yang super gede. Gak tau juga sih fungsinya apa, cuma sukak aja pakainya :D Selain itu, di kamar mandinya juga ada kran air yang di bawah (maksudnya bukan cuma shower yang diatas aja), pastinya ini guna banget donk yah buat wudhu. Gak perlu becek-becekan di washtafel seperti yang biasanya saya lakukan kalo nemu kamar mandi yang gak ada kran bawahnya. Dudududuuu.. gak keren.


Oia, sebenarnya Grand Zuri Malioboro Yogyakarta ini juga ada kolam renangnya. Tapi entah lokasinya dimana. Gak sempat keliling juga buat cari-cari. Sedangkan fasilitas lain yang bisa digunakan oleh tamu adalah fitness center, spa center, mushalla, restaurant, serta mini bar yang ada di samping lobby.

Ada yang aneh saat saya mencari tangga. Tangga yang ada hanya yang menghubungkan lantai 2, lantai 1 (lobby), dan ground floor. Sedangkan untuk menuju ke lantai diatasnya para tamu seolah 'dipaksa' menggunakan lift/elevator. Kalo ada tamu yang klaustrophobia gimana? Atau kalau yang memang tidak terbiasa menggunakan lift gimana? Ada sih sebenarnya emergency stair yang terletak di sebelah barat dan timur hotel. Tapi masa iya kudu naik turun tangga itu? Lagian saya dengan rekan sekamar saya kan letaknya di lantai 3, sedangkan meeting room serta restaurant di lantai 2, sayang aja gitu kalo kelamaan nunggu lift cuma buat jalan satu lantai. Akhirnya, yasudah, kami terpaksa deh pakai itu emergency stair buat naik turun. Lumayan ada aktifitas dikit dan tentunya lebih efisien di waktu. Walopun harapan saya sih, harusnya ada tangga yang memang disediakan untuk tamu ya, biar bisa bebas memilih gitu mau naik tangga atau pakai lift.

mini bar
salah satu meeting room di Grand Zuri Malioboro Yogyakarta
Cerenti Restaurant (bukan foto jepretan saya, sumber gambar dari sini)

Satu hal lagi yang saya suka dari hotel ini: menu makanannya! Serius, itu hotel niat banget nyediakan menu makanan buat para tamu, baik itu sarapan maupun makan siang. Menunya beranekaragam dari tradisional sampai western. Menu gudeg dan jamu tradisional selalu tersedia, fruit salad apalagi. Dan juga, gak pernah ketinggalan 6 jenis sambal berbeda yang selalu tersedia setiap hari. Pastinya gak pernah absen donk itu sambal yah, dan minimal saya selalu ambil dua jenis, sambal ijo dan sambal matah (bawang). Gak peduli saat itu lagi makan spaghetti atau menu menu western lainnya. Hahaha.. dasar orang Indonesia!


Baiklah, itu saja sedikit cerita tentang Grand Zuri Malioboro Yogyakarta. Seperti review hotel sebelumnya, saya tidak pernah mencantumkan rate dan lain-lain karena emang gak ngerti soalnya gak ikutan bayar. :D Jadi, kalau ingin reservasi dan cari-cari harga, langsung aja ke websitenya disini.

Sip dah. Tetap jalan-jalan yah, temans ;)

10 September 2014

Informasi Seputar KTA BNI

BNI (Bank Negara Indonesia) menawarkan produknya mengenai KTA BNI (kredit tanpa agunan) yang disebut dengan BNI Fleksi untku para nasabahnya. Beberapa manfaat dari produk layanan BNI ini dapat dimanfaatkan untuk beragam hal sesuai dengan kebutuhan nasabah. Manfaat yang kedua yaitu jangka waktu yang diberikan oleh BNI bisa dibilang fleksibel karena waktu pembayaran sekitar 5 tahun, bahkan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing nasabah. Adapun fasilitas mengenai banyaknya jumlah pinjaman tanpa agunan yaitu dari 5 juta sampai dengan 50 juta untuk nasabah yang payrollnya tidak lewat BNI. Sementara untuk nasabah yang menggunakan payroll BNI, pinjaman dapat mencapai 100 juta rupiah.

Persyaratan umum yang harus dipenuhi
Dalam sebuah pengajuan kredit tanpa agunan tentu anda akan dihadapkan pada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Pada dasarnya, persyaratan umum yang diberikan untuk kredit tanpa jaminan oleh beberapa bank tidak jauh berbeda satu sama lain. Khusus untuk KTA BNI, beberapa persyaratan berikut wajib dipenuhi:
1. Calon nasabah merupakan warga negara Indonesia
2. Memiliki penghasilan tetap
3. Waktu kerja minimal sudah 2 tahun
4. Pada masa pengajuan umur minimal adalah 21 tahun
5. Sedangkan saat terakhir pelunasan maksimal umur 55 tahun

Kelengkapan dokumen pendukung atau penunjang
Adapun beberapa kelengkapan persyaratan yang harus sesuai dengan ketentuan dari BNI untuk mendukung atau mempercepat penerimaan dan pencairan dana pinjaman tanpa agunan. Kelengkapan dokumen yang harus dipersiapkan para calon nasabah yaitu berupa fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) dari suami maupun istri, fotokopi KK (kartu keluarga), fotokopi surat nikah, fotokopi tabungan BNI dari 3 bulan terakhir, serta fotokopi NPWP. Syarat lainnya adalah slip gaji asli dan surat keterangan kerja, SK pengangkatan asli, pas foto ukuran 4x6 dari suami dan istri jika keduanya yang mengajukan permohonan.

Suku bunga untuk kredit tanpa agunan BNI
Dalam mengajukan permohonan pinjaman tanpa jaminan, dengan memilih bank yang membebankan suku bunga rendah tentu akan memudahkan anda dalam pembayaran pinjaman tersebut. Berikut adalah besar suku bunga BNI:
- Pinjaman sebesar 5 juta sampai 100 juta dengan jangka waktu pembayaran 12 bulan akan dibebani bunga sebesar 10,5%
- Pinjaman sebesar 5 juta sampai 100 juta dengan jangka waktu pembayaran 24 bulan akan dibebani bunga sebesar 11%
- Pinjaman sebesar 5 juta sampai 100 juta dengan jangka waktu pembayaran 36 bulan akan dibebani bunga sebesar 11,5%
- Pinjaman sebesar 5 juta sampai 100 juta dengan jangka waktu pembayaran 48 bulan akan dibebani bunga sebesar 12%
- Dan untuk pinjaman sebesar 5 juta sampai 100 juta dengan jangka waktu pembayaran 60 bulan akan dibebani bunga sebesar 12,5%
Tips pengajuan KTA cepat 
Saat memutuskan untuk mengajukan permohonan kredit tanpa agunan, beberapa hal harus benar-benar diperhatikan agar permohonan yang anda ajukan diterima oleh bank terkait. Upayakan kartu kredit yang anda ajukan untuk permohonan bebas dari hal-hal negatif seperti tidak membayar tagihan tepat waktu, selalu melakukan pembayaran kartu kredit secara minimal, dan tidak ada tunggakan tagihan yang belum terbayarkan. 
Cara pengajuan KTA dengan benarUntuk mengajukan permohonan KTA BNI anda hanya perlu melakukan beberapa langkah berikut, yaitu:
1. Tentukan terlebih dahulu bank mana yang akan dipilih untuk pengajuan KTA anda
2. Memenuhi semua persyaratan yang diinginkan oleh pihak bank tersebut
3. Memilih bank yang terpercaya dan memberikan suku bunga rendah
4. Mendatangi bank tersebut untuk pengajuan KTA
5. Jika anda tidak punya waktu ke bank, manfaatkan saja layanan pengajuan online dari bank tersebut

01 September 2014

Sasando, Alat Musik Khas Pulau Rote

Saat di Kupang kemarin, saya bersama kawan yang lain diajak oleh seorang teman yang berdomisili di Kupang, untuk mengunjungi suatu tempat. Informasi dari teman, tempat tersebut merupakan salah satu pusat pembuatan Sasando, alat musik khas Pulau Rote, sekaligus tempat untuk kita bisa belajar memainkan alat musik tersebut. Tentunya saya semangat banget donk, karena memang belakangan, saya lebih tertarik pada wisata-wisata budaya daripada sekadar wisata alam.

Sasando, alat musik tradisional khas Pulau Rote, NTT
Sasando merupakan alat musik petik khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Rote, istilah sasando sering disebut sasandu yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi, sedangkan di Kupang disebut Sasando. Cara memainkan alat musik ini dengan dipetik. Bahan pembuat sasando secara keseluruhan terbuat dari pohon-daun lontar, bambu, kecuali dawai yang terbuat dari kawat halus seperti senar string. (sumber)
Setelah menghabiskan waktu sekitar 10 menit naik mobil, sampailah saya di toko sekaligus tempat kursus Dalek Esa yang letaknya di daerah Oi Sapa, Kupang. Begitu masuk ke rumah kayu berbentuk rumah panggung tersebut, saya langsung dikenalkan pada To'o Zaka. Lengkapnya Zakarias Ndaong. To'o adalah panggilan untuk paman (kalau tidak salah). Jadi, saya panggilnya cukup To'o Zaka saja.

To'o Zaka ini adalah pemilik sekaligus pelatih di tempat kursus Dalek Esa. Beliau sudah seringkali melakukan pertunjukan alat musik Sasando di berbagai event, termasuk juga ternyata beliaulah pemain Sasando yang pernah saya temui saat menginap di hotel Swiss BelInn-Kristal, Kupang, satu tahun yang lalu.

Udah mirip dengan To'o Saka tidak gaya saya? :D

Dari beliau, saya mendapat informasi bahwa ternyata banyak juga orang-orang dari luar NTT yang menyengaja datang kesana untuk berlatih Sasando. Bahkan tak jarang pula ada yang dari luar negeri. Untuk sekali berlatih, dengan waktu kurang lebih 2 jam, To'o Zaka menetapkan tarif Rp. 150.000,- Kata beliau, untuk orang yang sudah bisa bermain gitar, akan sangat membantu saat belajar memainkan Sasando. Cukup 3-4 kali pertemuan, biasanya murid-muridnya sudah lancar membawakan satu hingga dua lagu.

Selain tempat kursus, Dalek Esa ini juga menjual berbagai jenis Sasando, mulai dari Sasando Main, yang artinya sasando khusus untu dimainkan, serta Sasando Hias, yang biasanya ukurannya beraneka ragam dan hanya diperuntukkan sebagai hiasan. Untuk Sasando Main, harganya bisa sampai jutaan, saya lupa tepatnya. Sedangkan Sasando hias, harganya beragam bergantung ukuran, mulai dari Rp. 100.000,-

 


Saat saya disana, saya request satu lagu khusus untuk dimainkan oleh To'o Zaka. Dan beliau tepat sekali, memainkan Kokoronotomo, salah satu lagu Jepang favorit saya. Petikan sasando yang sangat merdu dan cantik langsung menghiasi ruang dengar. Rasanya saya betah berlama-lama disana sambil mendengarkan alunan merdu tersebut. Tapi ya gak bisa laah,. bayaarr bayaaarr.. hehehehe.. *ups :D

Bermain musik Sasando, kurang lengkap rasanya jika tidak menggunakan Ti'i Langga. Ini adalah topi khas pulau Rote, yang selalu dikenakan saat To'o Zaka melakukan pertunjukan Sasando.

Ti’i Langga adalah topi tradisional orang Rote. Topi yang konon ceritanya mirip seperti sombrero di Meksiko adalah pelengkap busana tradisional kaum laki-laki. Topi ini dipakai saat acara-acara budaya ataupun momen-momen lainnya. Dalam momen tertentu, Ti’i Langga juga bisa dipakai oleh perempuan, misalnya saat foti (salah satu tarian tradisional yang umumnya dimainkan oleh laki-laki). Ciri khas topi ini adalah adanya ‘antena’ tepat di bagian atas topi tersebut. Model topinya pun unik dan beraneka ragam dan biasanya sesuai dengan selera pembuatnya. Bahan dasar Ti’i Langga adalah daun lontar yang sudah dikeringkan. Keunikan dan memiliki nilai eksotik menjadi cindera mata pilihan bagi para pelancong. Ciri khas lainnya, Ti’i Langga menjadi hiasan dinding orang Rote. (sumber)

Senang sekali rasanya bisa berkesempatan mengunjungi Dalek Esa serta mengobrol dengan To'o Zaka, bercerita banyak tentang kebudayaan Indonesia yang luar biasa dan tidak ada habisnya. Karena waktu sudah terlampau larut, jadi saya memutuskan untuk pulang. Saya memang tidak membeli cindera mata sama sekali dari sana, karena memang sasando hias sedang kosong stoknya, namun mengobrol dengan To'o Zaka serta mendengarkan beliau memainkan Sasando, jadi salah satu kenangan dan oleh-oleh tersendiri untuk saya. :)