24 October 2014

Harris Hotel & Residences Riverview Kuta

Oranye! Itulah hal yang pertama kali muncul dalam benak saya jika mengingat tentang Harris hotel yang sudah menyebar di kota-kota besar di Indonesia. Beruntungnya saya sempat menikmati enam malam di Harris Hotel & Residences Riverview Kuta, Bali. Salah satu hote full service dengan fasilitas cukup lengkap, walopun gak ada yang sempat saya cobain karena penuhnya jadwal training saat itu. Sayang banget yak *hiks.

Coba tebak yang disusun berbentuk hati itu apa? :D
Harris Hotel & Residences Riverview Kuta (atau oleh para supir taksi lebih dikenal dengan "Harris Riverview") ini terletak di Jl. Raya Kuta No. 62 A, Badung, Bali. Akses untuk kesana cukup mudah. Naik taksi dari Bandara Internasional Ngurah Rai cukup dengan tujuh puluh ribu rupiah saja. Selain itu, jika dari arah Denpasar akan ke pantai Kuta atau Seminyak, hampir bisa dipastikan akan melalui hotel Harris Riverview ini. Jadi gampang deh, gak bakalan nyasar. Asal ngomongnya jelas ya, karena sebenarnya di Bali ada beberapa hotel Harris yang menyebar di lokasi-lokasi berbeda.

Nah, dalam Harris Riverview ini ada beberapa pilihan kamar/residen yang tersedia, diantaranya standard room, family room, residence one bedroom, dan residence two bedroom.

Enam malam disana, sebenarnya saya sempat 'mencicipi' dua jenis kamar berbeda. Satu malam pertama saya menginap di kamar tipe residence two bedroom berbarengan dengan tiga orang kawan lainnya. Namun berhubung ada seorang peserta training yang sendirian, jadilah hari berikutnya saya pindah ke kamar lain untuk menemani kawan tersebut, yang ternyata dia kebagian kamar tipe residence one bedroom. Saya merasa cukup beruntung, karena kamar kedua yang saya tempati ini, selain lebih bagus dan bangunannya terlihat baru, lokasinya juga cukup strategis dan memiliki pemandangan yang bagus.

Jadi, saya akan bercerita tentang kamar yang kedua saja ya, karena yang pertama belum terlalu berkesan. Baru menginap semalam saja. Hehe.. :D

Saya lebih suka menyebut kamar yang saya tempati sebagai mini apartemen. Fasilitas didalamnya lengkap. TV ada dua biji, di luar dan di dalam kamar, satu set sofa, satu set meja-kursi yang sepertinya untuk makan, rak pakaian, dapur kecil, tempat cuci piring, kamar mandi, serta kamar tidur yang berisi twin single bed, plus balkon yang menghadap kolam renang utama. Serius deh, setelah nginap di kamar itu jadi pengen punya dan tinggal di apartemen. Hahahaha...

Daripada cuma ngebayangin aja, nih saya kasih beberapa gambarnya ya. Selamat menikmati dan selamat pengen punya mini apartemen macam ini. Hihihi :D




Gimana-gimana? Pengen tak punya mini apartemen macam ini? Kalo iya, toss dulu dah kita. :))

Tapi yah, karena kesibukan training dan lain sebagainya yang setiap malam hampir bisa dipastikan tidak akan tidur sebelum jam 10 dan sudah harus bangun jam 5 pagi serta sebagian besar waktu dihabiskan di luar kamar, saya jadi tidak bisa benar-benar menikmati fasilitas yang ada di kamar tersebut. Jangankan masak-masak. Menyalakan kran cuci piringnya saja tak pernah.
  wc dan kamar mandi yang terpisah ruang

Satu hal yang saya kurang suka dari kamar tersebut adalah penempatan wc yang letaknya terpisah dengan kamar mandi, berbeda ruang dan juga dipisahkan oleh pintu. Mungkin memang maksudnya lebih higienis, dan sisi positifnya adalah, kalau kita sedang menggunakan wc, teman sekamar yang lain (jika dalam kondisi terdesak) masih bisa menggunakan kamar mandi atau wastafel. Tapi tetap saja menurut saya agak ribet kalau harus pindah-pindah kamar terlalu jauh macam itu. Hehe...

Kamar yang memiliki balkon dengan ruang pandang strategis juga sangat menguntungkan. Saya jadi berkesempatan untuk menikmati banyak pemandangan. Kalau malam sering juga melihat ada beberapa tamu hotel yang sedang berenang. Disamping itu, di seberang kolam renang terdapat Harris Cafe. Jadinya bisa kelihatan deh kalau teman-teman yang lain sudah mulai sarapan, kami juga bergegas. Gak enak aja kalo sudah ke restoran ternyata masih sepi. :D

pemandangan dari balkon kamar, foto ini diambil sekitar jam 7 pagi

Nah, berbicara tentang restoran, penilaian saya mengenai menu dan masakan di Harris Cafe ini standar. Tidak terlalu spesial, tapi tidak juga mengecewakan. Hanya saja, mungkin karena faktor selama 6 malam menginap disana kemudian pagi-siang-malam kami makan di tempat yang sama, pas akhir-akhir sudah mulai bosan begitu. Ditambah lagi, menu olahan berbahan dasar unggas (ayam) juga terlalu sering disajikan. Yah, ini antara kami yang kelamaan menginap disana atau koki restorannya yang sudah kehabisan ide masakan. :))

Sungguh training yang melelahkan tapi sangat berkesan. Hari terakhir saya sempatkan foto bersama beberapa orang kawan sesama peserta training. Mukaknya sudah mulai kusut dan random gitu. Kelihatan banget kalo sudah kecapean. Biar bagaimanapun nikmatnya tinggal di hotel (dan gratis), kalau terlalu lama bisa bosan juga akhirnya. :D


Oke baiklah, sekian itu saja cerita tentang Harris Hotel & Residences Riverview Kuta. Jika ingin melihat-lihat berbagai promo serta rate kamar yang ditawarkan, silakan langsung klik saja disini.

22 October 2014

ATR 72-600 Wings Air vs Garuda Indonesia Explore

Pertama kali (menyadari) melakukan penerbangan menggunakan pesawat ATR adalah saat keberangkatan saya ke Dompu. Dari Surabaya ke Denpasarnya kan masih pakai pesawat boeing biasa tuh, nahh tapi setelah transit, ternyata dari Denpasar ke Bima saya harus menumpangi pesawat tipe ATR, atau kalau yang dulu awal-awal saya nyebutnya pesawat baling-baling. Mengapa begitu? Karena pesawat ini baling-balingnya besar dan terlihat. Yah,. bukan berarti pesawat boeing atau airbus tidak ada baling-balingnya ya. Tetap ada, tapi tersembunyi. Sedangkan kalau tipe ATR ini, baling-balingnya gede banget dan kelihatan mencolok.

Silakan baca kepanikan saya pas naik pesawat ATR di postingan ini. Nyatanya, sepertinya saya sudah pernah menaiki pesawat macam ini sebelumnya dalam perjalanan ke Banjarmasin dari Surabaya, beberapa tahun silam. Namun karena waktu itu flightnya malam, jadi gak terlalu merhatiin deh. Ingetnya cuma, waktu itu duduk sama Om sederet cuma dua kursi (kanan-kiri total 4 kursi). Nah, pesawat apalagi donk yang dipunyai Lion Air kalo bukan ATR ini? Jet juga kayaknya ga ada... :D

Setelah saya baca-baca lagi, ternyata jenis pesawat ATR ini dari dulu sudah banyak. Termasuk salah satu pesawat yang di rancang oleh pak Habibie juga sebenarnya tipenya ATR. Eh, iya gak sih? Aku cuma ngeliat sekilas aja di filmnya, dan kurang lebih bentuknya sama laah dengan ATR yang ada sekarang. Hahahha.. Mulai ngaco nih tulisan. :))

Karena saking banyaknya jenisnya, kali ini saya hanya akan bahas tentang pesawat ATR 72-600, yang sekarang lagi dipakai Wings Air (anak perusahaan Lion Air) dan Garuda Indonesia (Explore).

ATR 72 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop yang dibangun perusahaan pesawat Perancis-Italia ATR. Pesawat ini memiliki kapasitas hingga 78 penumpang dalam konfigurasi kelas tunggal dan dioperasikan oleh dua kru penerbang. (sumber)
Buat teman-teman yang sering melakukan perjalanan rute pendek macam Surabaya-Denpasar atau Surabaya-Yogyakarta, atau bepergian ke wilayah timur (dan menggunakan maskapai Wings Air), pastinya sudah tidak asing lagi dengan pesawat tipe ini. Walopun yah, saya sempat beberapa kali membaca tulisan tentang pengalaman naik pesawat ATR dan hampir semuanya panik! Hahahha.. persis seperti yang pernah saya alami.

Dulunya, awal-awal saya di Dompu, Wings Air masih menggunakan ATR 72-500. Kelihatan banget kalau bukan pesawat baru. Ada beberapa pelapis kursinya yang sudah kusam dan mulai terbuka, interiornya yang gak lagi 'kinclong', pernah juga nemu yang rak penyimpanan bagasi di atas nya sudah agak longgar, jadi pas boarding atau landing bisa bergetar hebat gitu. Sepanjang perjalanan saya cuma bisa berdoa supaya raknya gak roboh trus menimpa kepala para penumpang.#:-S

ATR 72-600 Wings Air (picture source)

Menanggapi kegelisahan saya, akhirnya pihak Wings Air mendatangkan sekian banyak armada baru, ATR 72-600. Eh, emang iya gitu, gegara kegelisahan saya? :))

Secara bentuk dari luar, rasanya tidak jauh berbeda, kecuali tulisannya jadi angka 600, bukan 500 :-p. Tapi kalau bagian interiornya, baru kelihatan banget. Kursinya lebih tipis, kantong dibalik kursi bagian bawah juga sudah nggak ada, digantikan dengan box kecil dibagian atas yang agak kaku, jadi gak bisa untuk nyimpan botol air minum karena bentuknya yang gak fleksibel. Trus apa lagi yo? Lupa. Intinya emang kerasa lebih bagus lah daripada seri 500. Yaaa iyalaah pesawat baru. :|

ATR 72-600 Garuda Indonesia Explore (picture source)
Sekitar akhir tahun 2013 kemarin, tepatnya bulan November, ada kabar gembira untuk kita semua. Garuda Indonesia secara resmi meluncurkan Garuda Indonesia Explore, seri ATR 72-600 yang akan melayani rute-rute pendek, terutama di wilayah timur Indonesia. Tentunya NTB kebagian juga donk. Begitu tau penerbangan GA rute Bima-Denpasar dibuka, saya jadi gak sabar pengen nyobain juga gimana rasanya.

Pas awal lihat di websitenya, penerbangan GA Bima-Denpasar ternyata memakan waktu 2 jam lebih. Kok lama banget? Padahal kalo Wings Air paling lama hanya 1 jam 10 menit. Tapi di sisi lain, sebenarnya senang juga donk. Karena kalo GA, penerbangan lebih dari 2 jam artinya dapat makan besar. Huehehe.. Ngarepp. :-p

Akhirnya datang juga kesempatan saya naik Garuda Indonesia Explore ATR 72-600, bulan Maret 2014 kemarin, pas ada training di Denpasar. Sepertinya saya check in di akhir waktu, sampai-sampai dapat seat 39A. Paling belakang, sebelah kiri, samping jendela. Hmmm.. Not bad.

Yang saya kagum, walaupun saya duduknya di kursi paling buncit, nyatanya pesawat ATR milik Garuda ini punya jarak antar kursi yang sangat lapang. Bahkan kayaknya lebih lapang daripada pesawat boeing punya Lion Air. Jadi walaupun duduk di kursi paling buncit, gak masalah banget lah.

hampir bisa selonjoran di kuris paling buncit :-p
Nah, ternyata pertanyaan saya mengenai waktu penerbangan yang terlalu lama terjawab. Pesawat yang saya tumpangi ini transit dulu di Lombok, tapi untuk penumpang tujuan Denpasar tidak perlu pindah pesawat. Jadilah, bukannya dapat makan besar, saya malah dapat dua kotak kue dalam sekali perjalanan itu. Lumayan kenyang juga sih. Hehehe..

Pesawat ATR Garuda Indonesia ini, selain ada nilai plusnya, saya juga masih merasa ada beberapa kekurangan jika dibandingkan dengan ATR milik Wings Air. Suaranya mesin di GA jauh lebih bising. Bahkan dari dalam terminal saja sudah cukup memekakkan telinga. Kebayang donk gimana pas mau masuk pesawat?

Disamping itu, entah karena ini faktor pilot yang masih baru-baru mengemudikan pesawat jenis ATR ataukah ada faktor yang lain macam cuaca dan sebagainya, tapi saya merasa jauh lebih nyaman saat naik Wings Air. Pas naik GA ke Denpasar itu, beberapa kali saya dikejutkan dengan manuver (saya gak nemu kata yang tepat selain ini :|) pesawat yang agak ekstrem. Apakah ini karena saya duduk di kuris paling buncit? Nyatanya ada juga beberapa penumpang di bagian depan yang berteriak lirih pas ada goncangan yang agak berlebihan itu. Fiuhhhh... Ngeri dah.

Padahal seingat saya cuaca saat itu cukup cerah. Yah walopun cerah memang tak selalu artinya tanpa goncangan ya. Seperti belakangan ini juga, cuacanya cerah banget, terlampau cerah, tapi nyatanya berhasil membuat pesawat bergetar cukup hebat.

Berbeda dengan pesawat Wings Air yang sudah sering kali saya tumpangi. Saya pernah melakukan perjalanan dari Denpasar ke Kupang, transit Maumere. Saat di Maumere, penumpang yang akan ke Kupang kan tidak perlu turun pesawat, jadilah kami menunggu saja di dalam pesawat sambil menahan kantuk dan lelah. Saat itu, pilot pesawat tersebut yang terlihat sudah senior, keluar dari kokpit dan melewati kami, kemudian mengobrol dengan kru bandara. Saya ingat ada obrolan lucu antara pilot pesawat dengan kru bandara tersebut,

Kru bandara: "Hati-hati Capt, angin sedang kencang di luar"
Pilot: "Ohh iya, tenang. Saya sudah bawa banyak tolak angin kok..." :D

Saya nyengir aja mendengar percakapan itu. Dan memang benar, sekalipun kondisi hujan deras dan angin, momen boarding dan landing ternyata dapat dilalui dengan sangat nyaman dan halus. Salam hormat pada bapak pilot yang hebat. :-bd

*

Semakin sering naik pesaawat, bukannya makin terbiasa, saya malah makin merasa takut. Entah kenapa selalu ada perasaan was-was, baik saat boarding, landing, maupun saat lampu tanda kenakan sabuk pengaman tetap menyala, yang artinya bakal atau sedang ada goncangan. Berasa ngeri aja, dan saya merasa belakangan rasa takut itu makin besar.

Bisa jadi suatu saat, akan tiba masanya saya enggan naik pesawat lagi. Bisa jadi...

20 October 2014

Cincin

Saya bukan penyuka cincin. Sejak dulu tidak pernah rasanya bisa bertahan lama menggunakan cincin. Hanya hitungan jam, atau hari, kemudian cincin tersebut saya lepas dan saya simpan. Ada rasa tidak nyaman saat memakainya. Berbeda dengan saat memakai gelang atau jam tangan, atau kalung, atau bahkan anting-anting yang tidak pernah lepas dari telinga. Ada ketakutan sendiri kalau lubangnya jadi tertutup jika tidak menggunakan anting. Dan melubanginya lagi? Sepertinya itu bukan pilihan yang menarik. :D

Namun entah kenapa, untuk momen spesial dalam hidup --yang berhasil membuat saya susah tidur sebulanan lebih, saya begitu berharap bisa memakai cincin. Sampai-sampai niat banget cari cincin imitasi seharga sepuluh ribu hanya untuk memastikan ukuran jari manis saya. Maklum, jarak yang jauh tidak memungkinkan untuk saya datang ke toko pembuat cincin itu langsung. Jadilah...

Di cincin imitasi yang saya beli saat itu, tertera angka 17. Saya kemudian menanyakan pada penjaga tokonya, tentang arti dari angka tersebut. Mbak-mbaknya bilang, itu nomor ukuran cincin. Ingin memastikan lagi, saya nanya lagi donk apakah ukuran itu merupakan ukuran standar? Ternyata kata mbaknya iya, itu ukuran standar. Jadilah, saya langsung bilang ke si Mas, kalau ukuran cincin untuk saya 17.

Ring sizer, cara paling akurat untuk menentukan ukuran cincin (picture source)

Tapi kemudian ada yang aneh. Sewaktu Mas datang langsung ke toko kemudian mengukur jari dengan ring sizer, dia mendapati ukuran yang pas untuknya adalah 16. Kemudian mikir donk, masa' iya jariku lebih gede dari Mas? :-/

Butuh semalaman untuk mikir ukuran cincin itu, sampai akhirnya tengah malam saya ambil penggaris dan mengukur diameter cincin imitasi yang saya beli. Hasilnya? Diameternya 17 mm. Trus, malam itu juga saya hubungi Mas via whatsapp, dan bilang kalo gak yakin dengan ukuran cincinnya. Pengennya Mas bisa balik lagi ke tokonya kemudian bilang kalo untuk saya, cincinnya dibuat dengan diameter 17 mm. Terserah mau ukuran berapa itu, yang penting diameternya 17 mm. Titik.

Fiuhhh,.. Masalah cincin aja sampai bikin gak bisa tidur #:-S

Besoknya, saya dapat kabar lagi deh. Alhamdulillah, masih bisa mengubah ukuran. Dan ternyata, untuk cincin ber-diameter 17 mm itu ukurannya adalah 14. Nah, ini baru masuk akal. Seenggaknya masih lebih kecil daripada punya Mas. Sipp. Kemudian tinggal menunggu pengerjaan cincinnya, sekitar 3 minggu.


Tanggal 1 Oktober 2014 kemarin, akhirnya cincin yang kami pesan jadi. Langsung di fotoin ama si Mas cincinnya. Hwaaaaaaaaaaa... excited banget donk sayaaa. Hehehe... Walopun ternyata masih ada yang perlu diperbaiki lagi. Inisial nama yang ditulis di bagian dalam cincinnya hurufnya kebalik. Tadinya maunya "AR", tapi jadinya malah "RA". Walaupun sebenarnya gak pengaruh juga sih, karena biar dibolak-balik artinya sama. Cuma ya udah terlanjur maunya AR, trus gimana donk? Untungnya yang punya toko baik banget, bersedia mengubah ukiran huruf di cincin itu. Yayyyyy :D

Saking hebohnya saya mau pakai cincin, momen tersebut sampai terbawa mimpi. Hwaahhh.. Entah ini apa maksudnya. Sudah gak sabar mungkin saya :">

Akhirnya, datang juga tanggal yang sudah ditentukan, 13 Oktober 2014. Tanggal dimana akhirnya saya resmi dikhitbah, dan tentunya tanggal dimana saya dipasangkan cincin oleh Ibunya Mas. Sambil malu-malu gimanaaaa gitu, akhirnya cincin itu terpasang juga di jari manis tangan kiri saya. Ukurannya?? Kegedeaaaaaaaaaaaannn... :))

Gak nyangka, ternyata masih belum pas juga. Tapi mending lah, gak terlalu longgar banget. Masih bisa dipakai, dan sebenarnya lebih pas kalau dipakai di jari tengah. Setelah laporan ke Mas kalo cincinnya kegedean, dia cuma bilang,

"Iyaudah, sementara dipakaikan apa dulu gitu supaya gak longgar. Ntar kalo ada kesempatan ke tokonya baru dikecilkan ya,..." 

Duuuh, sabar banget deh si Mas ngadepin bawelnya saya. Hihi. Alhamdulillah. :">


Iyasudah, akhirnya semenjak tanggal itu hingga saat ini saya sudah resmi mengenakan cincin di jari manis tangan kiri. Sudah sekitar satu minggu saya memakainya. Masih belum terbiasa, dan kadang masih berasa risih juga. Tapi saya sudah bertekad untuk memakainya terus, InsyaAllah. Saya memang kurang suka menggunakan cincin, tapi saya berharap jika suatu saat harus menggunakannya, saya ingin menggunakan cincin yang memang punya arti spesial buat saya. :)

Jadi ingat, sebelum cincin itu jadi, Mas pernah nanya ke saya tentang kenapa saya begitu ingin dibuatkan cincin, dan setengah maksa si Mas buat pakai cincin juga. :D

Sebenarnya jawabannya simpel aja. Karena saya wanita, saya penyuka simbol, dan saya juga butuh pengakuan. Saya pikir hampir semua wanita seperti itu. Itulah mengapa lebih banyak kaum wanita yang memajang foto bersama pasangannya, banyak kaum wanita yang suka barang-barang bermerk sebagai simbolisasi status sosialnya, dan banyak kaum wanita yang heboh maksa pasangannya untuk mengubah status relationshipnya di facebook saat mereka resmi berpasangan. Tapi saya gak seheboh itulaaah, cukup cincin aja. Untuk simbol yang lain macam kalung dan sebagainya ntar aja kalo udah sah yaaa... Huahahahahaha *plakkk :))