20 February 2015

Mas

Segala bagian dari tulisan ini yang menggunakan kata ganti orang ketiga, 'Mas', adalah merujuk pada Ahmad Rifa’i. Entah mengapa sejak pertama kali mengenalnya, saya tidak terbiasa untuk menyebut namanya. Masih, hingga saat ini. Juga, segala momentum yang tercatat disini tidak ditulis berdasarkan urutan waktu. Hanya supaya saya lebih leluasa menuangkannya, tanpa harus ambil pusing tentang runutannya. Jadi, selamat membaca saja, kawan :)


Sebenarnya, sudah lama saya ingin menulis tentang Mas, di personal blog saya tentunya. Tapi keinginan itu selalu saya tunda. Lebih tepatnya karena belum ada keberanian untuk itu, belum ada kepastian, belum ada peresmian. Saya khawatir tindakan saya termasuk dalam kategori ‘mendahului takdir’, seperti yang pernah diingatkan oleh Mama. Tapi, semoga saat ini merupakan saat terbaik untuk itu. Untuk bercerita sedikit tentang dia, yang padanya akhirnya hati ini berlabuh, insyaAllah…

Pertama kali mengenal Mas, adalah di suatu malam sekitar bulan Maret 2008, di rumah Jl Borobudur, tempat tinggal kedua saya saat kuliah di Malang, yang baru saya tempati beberapa hari. Mas adalah salah seorang kawan akrab teman se-rumah saya saat itu, mbak Whani. Pertama kali berkenalan, pertama kali bertemu, banyak hal yang kami bahas. Kami sempat mengobrol tentang musik, grup band Padi yang ternyata kami berdua sama-sama menggemarinya, sepak bola, klub favorit, juga sedikit hal yang berbau politik. Untunglah, sedikit banyak saya bisa mengimbangi lawan bicara saya kala itu, karena saat itu siaran berita masih menjadi salah satu acara tv favorit saya.

Mas, adalah satu dari segelintir manusia di muka bumi ini yang bersamanya saya bisa berbicara banyak. Pengetahuan serta wawasannya yang luas secara tidak langsung juga menuntut saya untuk tahu banyak. Tentu saja, saya sama sekali tidak ingin dianggap bodoh oleh Mas, atau paling tidak, tidak terlihat bodoh saat berada di depannya. Namun bukan berarti saya harus tahu segalanya, karena rasanya tidak mungkin bisa menandingi pengetahuannya yang teramat luas, yang terkadang saya tidak habis pikir, dimana dia menyimpan semua memori pengetahun tersebut? Hingga ada satu stigma yang saya telurkan dari pemikiran absurd seorang mahasiswa yang ingin selalu tampak pintar didepan rekan bicaranya,

“Ngobrol sama Mas bikin capek. Dipaksa mikir terusss…”

Jika ingat kalimat itu saya pasti tersenyum sendiri. Saya mengutarakan hal itu saat masih kuliah di Malang, selepas mengobrol dengan Mas via telepon di suatu siang. Saat itu saya menghabiskan sekitar dua jam waktu tidur siang saya untuk mengobrol banyak hal dengan Mas, termasuk salah satunya membahas pertanyaan yang sebelumnya saya ajukan ke Mas lewat sms, mengenai ‘bagaimana kita, sebagai manusia, menilai sesuatu yang tidak kita ketahui banyak, untuk bisa dikategorikan baik atau tidak’. Jangan tanya asal muasal saya menanyakan hal itu ya, karena saya lupa detailnya seperti apa.

Baru kali ke dua bertemu, Mas sudah berani mengajak saya untuk menghadiri acara Malam Perjamuan Orang Tua Mahasiswa, bahasa kerennya sebagai ‘pendamping wisudawan’ begitu. Dan hingga saat ini pun saya masih belum berhasil mengerti, mengapa saya mengiyakan ajakan Mas saat itu. Acara dimana disana ada Bapak dan Ibu (Mas) juga, yang tentunya tidak saya kira akan se-resmi itu. Namun, saya akui bahwa malam itu saya sempat sedikit berbangga hati, karena orang yang saya dampingi tersebut ternyata adalah wisudawan yang memperoleh peringkat ke 3 terbaik se-jurusan, dengan waktu studi yang juga singkat, yakni 7 semester (3,5 tahun). Hebaaaattt… Well done, Mas, dan selamat menyandang gelar SH.

Seiring kelulusan Mas, ada sedikit doa dan harapan yang lagi-lagi baru saya sampaikan langsung beberapa waktu yang lalu,

“Semoga suatu saat bisa melihat gelar SH-nya Mas terpakai. Aamiin…”

Peran Mas dalam menyukseskan kuliah saya, saya pikir cukup besar. Saya ingat, pernah menceritakan pada Mas sambil bercanda, bahwa dalam salah satu mata kuliah saya mendapat nilai E. Sekali lagi, saya menceritakan itu dengan nada bercanda, namun ternyata Mas menanggapinya dengan serius. Tidak butuh waktu lama, Mas pun memarahi saya, sambil mempertanyakan bagaimana bisa saya mendapat nilai E. Belakangan, saya jadi menyesal mengapa saya menceritakan hal tersebut. Sedangkan saat saya bercerita bahwa saya sempat mendapat IP sempurna, empat koma nol nol, di dua semester selanjutnya, pujiannya hanya sederhana saja. Menyebalkan.

Oh ya, ada juga satu pesan dari Mas yang masih saya ingat hingga saat ini, dan pernah juga saya tularkan ke orang lain. Saat itu saya sedang dalam proses menyusun proposal tugas akhir. Saya sampaikan kegundahan saya pada Mas, tentang kesulitan menentukan tema yang akan diangkat untuk pengerjaan tugas akhir. Pesannya sederhana, namun sangat manjur dan akhirnya sangat membantu saya.

“Pilih tema tugas akhir dari mata kuliah yang paling kamu suka, yang paling kamu gemari. Karena jika kamu tidak menyukainya terlebih dahulu, maka jangan berharap pengerjaan tugas akhir itu akan dimulai, apalagi selesai…”

Perjalanan ke Jogja pada Desember 2010 menjadi salah satu perjalanan terbaik yang pernah saya alami hingga saat ini. Jika bukan karena ditantang oleh Mas saat itu, mungkin saya tidak akan berangkat kesana. Menjelajah Jogja, melihat sisi-sisi berbeda dari kota wisata yang berslogan ‘Never Ending Asia’ itu, berkenalan dengan rekan Mas saat menonton pertunjukan wayang di Sasana Hinggil, alun-alun selatan, berkunjung ke pengrajin wayang tradisional, obrolan tengah malam yang tak ada habisnya, dan lain sebagainya. Perjalanan yang pada akhirnya membawa pandangan baru pada saya mengenai Jogja, yang membuat saya berkeinginan untuk bisa menghabiskan beberapa bulan—atau tahun sisa usia saya di sana. Semoga bisa dalam waktu dekat. Aamiin.

Sebelumnya, sebelum perjalanan ke Jogja maksud saya, pernah ada obrolan dengan Mas membahas tentang bagaimana bisa kami selalu menghabiskan waktu dengan mengobrol, bertukar pikiran, berdebat pendapat. Umumnya hal itu hanya akan berlangsung sekitar satu hingga dua jam. Maksimal tiga jam. Namun setelah kunjungan ke Jogja tersebut, yang sebagian besar waktunya saya habiskan untuk mengobrol bersama Mas, kami jadi sama-sama tidak yakin dan tidak bisa menentukan berapa waktu maksimal yang akan kami butuhkan untuk berbicara. Sempat bertanya-tanya juga, kapan tiba masanya dimana kami kehabisan bahan obrolan? Jika memikirkan itu, sebenarnya yang saya rasakan adalah perpaduan antara penasaran dan khawatir. Penasaran kapan itu terjadi, namun khawatir jika hal itu menjadi kenyataan. Saya khawatir akan kehilangan partner mengobrol saya yang paling luar biasa.

Bahkan ‘kehabisan bahan obrolan’ nyatanya juga bisa menjadi tema yang cukup menarik untuk kami perbincangkan. Jadi, masih patutkan kami untuk mengkhawatirkannya?

Tidak banyak memori tentang Mas yang bisa saya ceritakan, karena mungkin jika diakumulasi, pertemuan kami hanya singkat saja. Bahkan mungkin masih bisa dihitung, jika kami memang berniat untuk menghitungnya. Namun dari yang singkat itu, sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk bisa menilai satu sama lain dari masing-masing kami, karena kegemaran kami untuk saling bertukar pikiran. Selepas dari Jogja, tidak ada kisah lain yang terajut, kecuali lewat obrolan-obrolan via telepon maupun pesan singkat, yang tidak bisa juga dikatakan sering.

Hingga pada 17 April 2013, tepat di hari ulang tahun saya, selepas Mas menyampaikan ucapan selamatnya diiringi seutas doa, Mas mengutarakan maksudnya untuk melamar saya, menjadikan saya pasangan hidupnya.

Seketika pikiran saya flashback ke beberapa tahun silam. Menghadirkan wajah-wajah yang sudah saya kenal, baik yang masih hitungan hari, maupun yang sudah terlampau lama. Putaran-putaran video singkat hidup saya, juga saat sosok Mas turut meramaikannya, semua kembali terngiang. Saya seolah digiring untuk mencapai satu kesimpulan pasti, bahwa Mas memang yang terbaik, dan Mas adalah jawabannya. Tidak butuh waktu lama untuk saya meyakini hal itu, sekalipun saya masih butuh waktu untuk belajar mencintainya, belajar mengerti lebih tentangnya, belajar menerima dirinya dan keluarganya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Saya tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang saya kenal tujuh tahun yang lalu, saat ini bisa menjadi sosok yang teramat penting dalam hidup saya. Arah hidup yang tidak terduga, nyatanya membawa saya berlabuh pada kondisi ini. Dengannya saya merasa segala potongan-potongan kisah ini menjadi suatu jawab yang tak terbantahkan. Kepingan puzzle seolah dapat dengan runut memposisikan dirinya di titik-titik kebenaran. Pertanyaan-pertanyaan hati yang masih saja menyeruak, akhirnya bertemu jawab yang ternyata tidak hanya sebatas bahasa.

Yang saya tahu, jika bukan Mas, saya tidak akan seyakin itu membiarkannya sendirian menemui Tante kemudian menyampaikan maksudnya, saya tidak akan seberani itu mengiyakan pintanya untuk bertemu dengan Papa dan Mama, dan saya juga tidak akan sepercaya itu, menyerahkan masa depan dan sisa hidup saya padanya.



-AR-
15022015

19 comments:

  1. Selamat ya Mbaa Ari, semoga penuh berkah, mawadah wa rahmah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiin.. makasi banyak Mas :)

      Delete
  2. Nah... Potonya akhirnya nongol jugaaa....
    Ah,, itulah Jodoh. Apapun yang telah dilalui dan kemudian dipertemukan itu sudah Allah takdirkan.
    barokallahuu saudariku nan jauh disana.....
    Langgeng sampai kakek nenek yaaah. Amiiiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi banyak kakakku sayang,.. doanya manis sekali. Semoga Allah mengabulkan. :)
      Nungguin banget yah fotonya? Masi cantik kak Latifah pas pakai baju bodo :D

      Delete
  3. alhamdulillah, ama ga main kesini..ada kabar baik menyapa.barakallah ya Mba :)

    ReplyDelete
  4. alhamdulillah, ama ga main kesini..ada kabar baik menyapa.barakallah ya Mba :)

    ReplyDelete
  5. alhamdulillah, ama ga main kesini..ada kabar baik menyapa.barakallah ya Mba :)

    ReplyDelete
  6. Barakallah. seneng banget mendengarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin,.. Makasi banyak, mbak Lid :)

      Delete
  7. Huaaaaaa.. Selamat ya, Maaaeeeeee.. Barakallah.. Jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah ya.. Aamiiiin.. :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin yaa rabbal aalamiin... Makasii banyaaakk Beb.. Kamu kapan? *ups :p

      Delete
    2. Bahahah.. Aku masih lama kayaknya. :D

      Delete
  8. Selamat ya Mae, Barakallahu laka wa baraka 'alaik, wa jama'a bainakuma fil khair. Semoga bisa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, bisa saling menyayangi sampai kakek nenek. Aminn..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. aamiin.. insyaAllah. Matur suwun doanya, mas Sigit :D

      Delete
  9. Mae,,,,kecupkecup sayang dari Jani, untuk tante dan oom :*
    Happily ever after ya

    ReplyDelete
  10. cantik banget mb pake biru,,,
    aku juga sampe detik ini canggung nyebut nama suami asli, tapi lebih mesra kalok cuma panggil mas...hehhee

    ReplyDelete
  11. Tahniah mbak maeee.. Maaf telat, doa dati pekanbaru semoga menjadi keluarga samawa sampai akhir hayat.. Amiin

    ReplyDelete
  12. Baru baca postingan ini. selamat yah kk, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah.. Aamiin :)

    ReplyDelete

Speak Up...!!! :D