20 May 2016

Kisah Tanggal Tua ala Ibu Rumah Tangga

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.
mataharimall-kompetisi

Saya sering tak habis pikir dengan tingkah Kakak perempuan saya, yang sudah lebih dulu menjadi seorang Ibu (dan juga seorang istri, tentunya), saat melihat reaksinya begitu tau ada banyak diskonan—atau semacam ‘beli 2 gratis 1’ di salah satu supermarket terbesar di Banjarmasin. Begitu pula dengan perilaku Tante, yang juga sudah menikah dan punya anak 3, sangat rela berkeliling diantara melimpahnya minimarket di Gresik, hanya supaya mendapatkan harga termurah  untuk setiap barang yang dibelinya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sampai sebegitukah efek samping menikah dan punya anak? *ups.

Satu tahun menikah tak lantas membuat saya mengerti tentang perilaku kedua orang keluarga saya tersebut. Bisa jadi karena saya dan suami sebelumnya masih menjalani kehidupan sendiri, jarak jauh, hanya bertemu sesekali. Saya masih belum rela melepaskan jabatan sebagai anak kos.

Tapi itu kemarin, dulu, enam bulan yang lalu.

Kini ceritanya sudah berbeda. Saya dan suami sudah tinggal satu atap. Jabatan sebagai anak kos sudah saya lepas, begitu juga dengan status kepegawaian di salah satu I-NGO di kota Malang, mungkin sedikit ceritanya pernah saya tuliskan waktu itu.

Saya ingat, beberapa waktu yang lalu pernah menanyakan langsung ke Papa, mengenai pendapatnya tentang keputusan saya untuk berhenti bekerja. Mengenai kekhawatiran saya tentang, apa-apa yang sudah ‘diinvestasikan’ pada saya dari Papa. Saya sangat bersyukur saat itu punya keberanian lebih untuk menanyakannya.
“Yaa, sekolah tinggi kan tidak selalu tujuannya untuk bekerja…”
Hmmm,...
Dan, agak canggung rasanya saat beberapa waktu yang lalu telponan dengan Papa, dan Papa menanyakan apa aktivitas saya saat ini.
Saya bilang, “Pergi ke pasar, belanja, masak-masak, beres-beres rumah, daaan lain-lain.”
“Alhamdulillah…” balasnya.
Entah apa yang ada di pikirannya.

Kemudian saya dibuat terheran-heran, pada diri sendiri, suatu pagi, begitu pulang dari pasar dan saya mengeluh pada suami,
“Mas, tahu yang kemarin adek beli harganya sekarang sudah naik, kemarin Rp 3.000, sekarang sudah jadi Rp 4.000,..”
“Telur juga gitu, kapan hari beli setengah kilo Rp 9.500, sekarang jadi Rp 10.000”
Saat parkir di depan salah satu minimarket,..
“Waah, murah banget minyak goreng 2 liter Rp 19.900”
“Emang biasanya berapa?”, suami saya menimpali
“Kalo gak salah satu literan ada yang Rp 13.000, ada yang sampai Rp 15.000 juga,..”
Lalu terdengar ledekan dari jauh,
“Ciyee, adek ya, sudah mulai banding-bandingin harga sembako sekarang,”
Sindrom ibu rumah tangga sepertinya telah melanda saya. Huhuuuu…

Terjadi perubahan besar yang saya rasakan, saat ternyata kini memang tak ada lagi penghasilan tiap bulan yang bisa saya dapatkan sendiri, atur sendiri, nikmati sendiri. Memutuskan untuk jadi freelance-independent-consultant ditengah jenjang karir yang sebenarnya belum terlalu mumpuni dan belum punya banyak koneksi, sepertinya bukan pilihan yang cukup menjanjikan. Yah, walaupun sudah pernah ada juga instansi yang percaya dan menggunakan jasa saya. Tapi lagi-lagi hal tersebut tidak bisa dijadikan pegangan, tidak bisa diandalkan, dan ‘menghasilkan’ di tiap bulannya.

Tantangan lainnya adalah saat suami saya juga memang bekerja sendiri, berwirausaha, hingga tentunya pengaturan keuangannya tidak bisa sesederhana penghasilan per bulan. Saya jadi kebingungan sendiri setelah menawarkan diri untuk mengatur keuangannya. Ternyata sangat berbeda polanya, saudara!
picture source
Seringkali saya menyerah saja. Mengembalikan lagi ke suami tentang pengaturan keuangan ini itu. Nyatanya, dan bersyukurnya, walaupun tanpa catatan yang terlalu rinci, suami saya sudah cukup berpengalaman dibidangnya. Jika sudah datang rasa malas melakukan pencatatan yang rapi, saya tinggal menunggu saja ‘jatah’ yang diberikan, yang menjadi tanggung jawab saya untuk dibelanjakan.

Jika saat itu datang, sindrom ibu rumah tangga yang dulunya sempat menghantui kali ini benar-benar muncul didepan mata. Hahaha… semacam mimpi masa lalu yang saat ini menjadi nyata.

Kalau di pasar tradisional mungkin tidak akan sefrontal itu menyebutkan ‘diskon’. Tapi ketrampilan untuk menawar, memilih barang dengan kualitas yang bagus dengan harga tetap bersaing, sangat dibutuhkan. Sampai saat ini saya masih belum terlalu terampil sih untuk menawar, apalagi pasar-pasar tradisional di Jogja sepertinya memang tidak terlalu senang memasang harga tinggi supaya nantinya bisa ditawar. Yang bisa kita lakukan biasanya cukup dengan survey harga. Barang yang sama, kualitas sama, bisa jadi di warung yang satu dengan yang lain harganya berbeda. Yah selisih Rp 500 sampai Rp 1.000 kan lumayan yaa, buat bayar parkir atau tambahan beli krupuk. 

Nah, beda lagi dengan diskonan yang biasanya ada di minimarket, supermarket, atau department store macam Matahari Mall yang sangat terkenal dengan ‘beli dua gratis satu, boleh barang yang berbeda’ itu. Huaaa,.. bahagia sekali rasanya kalau sudah menemukan tulisan itu terpampang di keranjang—rak—lemari gantung yang ada disana, apalagi dengan menggunakan Matahari Club Card yang doyan banget ngasih kupon belanja atau diskon produk. Dan itulah yang saya incar saat ini. :D


Menjadi ibu rumah tangga baru sepertinya berhasil memaksa saya untuk mengasah skill berhemat. Selain harus pintar memilih dan memiliah barang yang diprioritaskan untuk dibeli, memilih tempat berbelanja juga merupakan suatu hal yang cukup urgent untuk saat ini. Toko-toko semacam minimarket dan lain sebagainya saat ini tak lagi segan untuk mempromosikan produk dengan harga miring, dan kita, sebagai manajer rumah tangga, harus sangat jeli melihat peluang tersebut.

Kalau bicara tentang mengatur keuangan satu bulan, hmmmm,.. mungkin tidak bisa se saklek itu ya, karena kembali lagi, penghasilan suami saya bukan bulanan, melainkan sesuai pesanan. Tapi bukan berarti lantas tak ada strategi apapun yang saya terapkan, karena justru setiap saya mendapatkan jatah belanja, disitulah saat dimana saya harus putar otak, memanfaatkan jatah tersebut sebaik-baiknya. Ini sangatlah penting saudara, terutama jika memang persediaan atau jatah belanja sudah mulai menipis. Bedanya, kalau mereka para penerima gaji bulanan, merasakan hal tersebut hampir di tanggal-tanggal yang sama di tiap bulannya, kalau saya, sindroma tanggal tua itu bisa datang kapan saja, yakinlah!
Yah, apapun itu, tetap harus disyukuri. Mari kita berdoa bersama, semoga tidak hanya penghasilan saja yang sesuai pesanan, tapi barang belanjaan juga bisa memenuhi pesanan, pesanan diri sendiri maksudnya. 

Tetap belanja dan tetap bahagia yah, kawan. Tak perlu terlalu khawatir, karena masih banyak jalan menuju diskonan, apalagi gratisan. Hehe... :D

#JadilahSepertiBudi