27 September 2018

Heritage of Makan Bagus

Saya percaya bahwa Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, dari semenjak lahir hingga mati, dari membuka mata hingga tidur lagi, dari untuk diri sendiri secara pribadi maupun untuk orang banyak. Tak ketinggalan pula dari urusan mulut hingga kentut, masjid hingga parit, ibadah juga muamalah, transaksi dan sosialisasi, juga keluarga hingga negara. Lengkap.

Satu hal yang saya sendiri seringkali lupa, yakni terkait adab makan. Adab makan yang belakangan sangat sering saya abaikan, padahal sedikit demi sedikit pakar science di belahan bumi bagian barat sana mulai mengulik dan menemukan fakta dibalik anjuran-anjuran yang dicontohkan oleh Rasulullah Sallallaahu 'Alaihi Wa Sallam 1400 tahun silam.

Saya merasa beruntung dan sangat bersyukur, mendapat kesempatan awal untuk membaca sekaligus memoles tampilan buku ini, sehingga saya bisa lebih dulu mendapatkan ilmunya, lebih dulu diingatkan, dan harapannya bisa lebih dulu mengamalkan. Karena buku baru tak selamanya membahas hal-hal baru. Bisa jadi mereka 'hanya' bertugas mengingatkan kita akan satu atau beberapa hal, yang mungkin terkesan sepele hingga kita melupakannya. Ada saat-saat dimana saya merasa tertampar saat membaca buku ini. Eh, kok jadi ngeri ya kesannya? :))

Adalah Heritage of Makan Bagus, yang sudah diamanahkan ke saya sejak awal Agustus 2018 silam agar file mentahnya berupa MS Word dipoles menjadi sebuah buku yang siap cetak --cerita tentang 'alih profesi' menjadi graphic designer ini saya ceritakan terpisah saja ya :D. Hingga pada pertengahan September 2018 kemarin, desainnya rampung. Alhamdulillah...

Ada kesan mendalam saat mendesain buku ini. Disamping karena ini buku pertama yang saya desain secara utuh dari sampul hingga halaman terakhirnya, buku ini juga selalu membuat saya merasa tertegun sejenak tiap kali masuk ke halaman baru. Bahan bacaan baru, ilmu baru, ingatan baru akan hal di masa lampau yang terlupa, tamparan baru, serta rasa syukur yang juga tak terhingga.

Lupa detailnya, tapi memang ada beberapa momen dimana mata saya sampai berkaca-kaca. Membaca buku ini menjadi semacam pengalaman spiritual tersendiri.

Heritage of Makan Bagus sebenarnya termasuk ke dalam genre buku resep. Dalam buku ini terdapat beraneka ragam resep hasil eksperimen penulis, mulai dari masakan besar serta manajemen nasi, resep minuman, modifikasi oatmeal menjadi berbagai macam kudapan maupun sajian lainnya, juga ada beberapa resep salad anti mainstream. Disamping itu, yang juga menjadi nyawa dari buku resep ini adalah karena di dalamnya juga dibahas hal-hal terkait adab makan dan minum yang mengacu pada sunnah yang diajarkan Rasulullah serta berpedoman pada gizi seimbang.

Dari yang juga berkesempata membaca buku Heritage of Makan Bagus di awal :)

Bukunya cukup tebal--tebal dalam arti yang sebenarnya :D. Bukan karena isinya terlalu banyak, karena sebenarnya 'hanya' 160 halaman. Namun karena didalamnya banyak foto dengan ukuran yang sangat besar, konsekuensinya harus menggunakan bahan kertas yang lebih tebal dari biasanya supaya hasilnya lebih bagus. Salahkan saya karena senang melihat dan mendesain foto makanan dan minuman dengan ukuran besar :">. Disamping itu, kan supaya pembaca nantinya makin tergiur dengan menu-menu yang ada di buku tersebut, jadi bisa segera mengamalkan isinya.:-bd

Lalu mengapa "Heritage"? 
Karena penulisnya berharap buku ini nantinya bisa menjadi warisan. Warisan untuk dirinya, keluarganya, juga para pembacanya.


Saat ini buku Heritage of Makan Bagus sedang masuk dalam periode PRE ORDER, karena baru saja kemarin dilaunching. Bagi yang ingin mendapatkan buku tersebut dengan HARGA PROMO, silakan menghubungi saya, klik disini untuk chat via WA langsung dengan saya yah. Ada penawaran khusus bagi kamu semua yang mau membeli buku ini secara berjama'ah. :D

Buruan beli sebelum kehabisan. 
Stok promo terbatas, begitu juga waktunya. 
:-bd

28 January 2018

Prambanan Lagi!

Ntah sudah kali ke berapa, semenjak pindah domisili ke Jogja, salah satu obyek wisata yang paling sering saya kunjungi bersama Mas adalah Candi Prambanan. Mungkin karena lokasinya yang cukup dekat, mungkin kekuatan mistis Roro Jonggrang yang masih menggema seantero Indonesia, mungkin juga wisata Candi memang masih jadi primadona dan ikon wisata Jogja --sekalipun secara de facto dan de jure, candi-candi tersebut tidak termasuk dalam wilayah kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, serta berbagai kemungkinan lainnya.

Terakhir kali ke Candi Prambanan sekitar bulan Agustus 2017, membersamai kawan lama yang singgah ke Jogja, dalam perjalanan menuju Cirebon. Singgahnya sampai sempat nginap dan jalan-jalan. Hahhha :D

Menariknya, tempat wisata di Jogja (dan sekitarnya) ini hampir selalu mengalami pembaharuan maupun renovasi di tiap momen tertentu. Ini menjadi salah satu hal yang membuat kami, para pengunjung setia, tidak mudah bosan, hampir selalu bisa merasakan 'surprised effect', 'whaoww moment', dan semacamnya. Termasuk saat kunjungan terakhir kala itu. Ada perubahan cukup besar di pelataran candi, yang cukup menarik dan cukup dominan. Salah satunya adalah pindahnya loket dan pintu masuk, yang tentunya juga berpengaruh pada jalur pejalan kaki yang juga berubah.

Begitu melewati pintu masuk, kembali saya dikejutkan dengan hamparan bunga berwarna ungu, di tengah tanah lapang hijau, dengan latar belakang Candi Prambanan. Bagus bangett,. Whaowww bangett. :-bd


Berasanya ada musim semi. Karena selama ini kawasan candi memang lebih sering terasa panas dan kering.

Disamping itu, ada juga giant letter "PRAMBANAN" di tengah jalur menuju candi. Berterimakasihlah wahai para penggemar selfi, kalian terfasilitasi! Tapi saya tidak mengambil foto di depan tulisan tersebut. Selain antrinya lama, obyeknya menurut saya kurang menarik. Sedikit terlihat sih di foto di atas, yang tulisan warna putih itu. :)

Ada juga beberapa bunga dan tanaman yang disusun sepanjang tepian lorong besar tepat didepan candi. Salah satunya adalah bunga cantik berwarna ungu, yang diletakkan terapung di dalam cawan batu besar berisi air. Dan, saat itu saya baru tau kalau itu namanya bunga Teratai. :D


Maafkanlah saya, yang memang bukan penggemar bunga dan berbagai tanaman ini. :D

Thats all, hal baru di Prambanan, yang selalu memikat
Alhamdulillah, cuaca siang itu cerah. Langitnya bagus banget, biru dengan sedikit awan menghampar. Sambil mojok ngiyup di salah satu ruang gelap bayangan candi, saya bersama dua orang teman sempat mengobrol tentang keindahan candi serta keindahan Indonesia. Dan selalu ya, pada akhirnya sangat bersyukur menjadi bagian dari Indonesia yang indah.

Yang kangen foto Prambanan full team, ini saya kasih bonus satu. Mumpung belum terlalu ramai di pagi menjelang siang saat itu. :D


--all picture was taken by my SonyM4Aqua